Rabu, Desember 20, 2006

IBU DAN SURGA

“Ya Rasulullah! Siapakah yang paling berhak menerima baktiku?” Nabi saw menjawab, “Ibumu”. Kemudian siapa lagi, ya Rasulullah?” Nabi menjawab, “Ibumu”. Kemudian siapa lagi, ya Rasulullah”. Nabi menjawab, “Ibumu”. Kemudian siapa lagi, ya Rasulullah?” Nabi menjawab, “Ayahmu.”. (H.R. Bukhari dan Muslim)

Demikian perbincangan antara seorang sahabat dengan Rasulullah saw di suatu saat. Berdasarkan riwayat di atas, perintah untuk berbuat baik kepada ibu diulang hingga tiga kali berturut-turut. Hal ini menunjukkan bahwa ibu memiliki kedudukan yang tinggi dalam pandangan Islam.

Memang, keberadaan manusia di dunia ini tidak pernah lepas dari peran orang tua, terutama ibu. Ibulah yang melahirkan kita ke dunia ini. Ibu jugalah yang membimbing kita hingga kita menjadi mandiri dan sukses. Bisa jadi kita tidak akan pernah bisa menghirup segarnya udara di subuh hari. Bisa jadi kita tidak pernah bisa merasakan betapa asyiknya berlarian di tepi pantai jika sebelumnya ibu tidak melahirkan kita ke dunia ini. Beruntung Allah swt menciptakan Siti Hawa sebagai pasangan Adam a.s. hingga dunia ini semarak oleh anak cucunya.

Tak salah jika dalam satu kamus, sebagaimana dikutip Ahmad Abdul Hadi dalam buku Al-Qur’an Berbicara Tentang Ibu (al-Ummu Fil Qur’anil Karim) mengatakan bahwa kata “ibu” diartikan sebagai “sumber segala sesuatu”. Sumber yang tidak saja melahirkan manusia ke dunia, tidak saja mengasuh dan merawat kita dengan segala ketabahan dan kesabarannya, tapi juga sumber penentu ke mana putra-putrinya melangkah dalam mengarungi bahtera hidupnya kelak.

Ke surga ataukah ke neraka? Ibu mempunyai peran strategis dalam menentukan tujuan yang sering-sering disinggung Allah swt. ini. Lebih dari itu, “Ibu adalah sekolah. Bila kamu persiapkan, kamu persiapkan bangsa yang baik akarnya,” demikian seorang penyair Arab pernah bertutur.

Sedemikian tingginya kedudukan ibu dalam Islam, sampai-sampai salah satu riwayat menyebutkan, “Surga itu berada di bawah telapak kaki ibu,” – meski banyak ulama yang men-dhaifkan riwayat ini.

Al-Qur’an sendiri telah menandaskan, “Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu,” (QS. Luqman: 14).

Bahkan salah satu hadist menyebutkan, “Keridhaan Allah terkait dengan keridhaan kedua orang tua dan murka Allah terkait pada murka kedua orang tua.” (HR Al-Hakim).

Rasulullah saw. Bersabda, “Maukah kalian aku tunjukkan dosa yang paling besar diantara dosa-dosa besar?” Beliau mengulang pertanyaan ini hingga tiga kali. Para sahabat menjawab, “Ya, kami mau wahai Rasulullah.” Rasulullah berkata, “Jangan kalian sekutukan Allah dan janganlah berbuat durhaka terhadap orang tua kalian.”

Ya Allah, ampunilah segala kesalahan kami dan kesalahan kedua orang tua kami. Dan sayangilah mereka sebagaimana mereka mencurahkan kasih sayangnya kepada kami, sewaktu kami masih kecil dulu. Wallahua’alam bil shawab.

Sumber: Majalah Hidayah edisi Juli 2005

Senin, Desember 18, 2006

Andai Ku Tahu

Andai ku tahu kapan tiba ajalku
Ku akan memohon Tuhan tolong panjangkan umurku
Andai ku tahu kapan tiba masaku
Ku akan memohon Tuhan jangan kau ambil nyawaku

Aku takut akan semua dosa-dosaku
Aku takut dosa yang terus membayangiku
Andai ku tahu malaikat kan menjemputku
Izinkan aku mengucapkan kata tobat padamu

Aku takut akan semua dosa-dosaku
Aku takut dosa yang terus membayangiku
Ampunilah aku dari segala dosa-dosaku
Ampunilah aku menangis ku bertobat padamu

Aku manusia yang takut neraka
Namun aku juga tak pantas di Surga
Andai ku tahu kapan tiba ajalku
Izinkan aku mengucap kata tobat pada-Mu


Kalau sahabat suka musik, maka salah satu musik religi yang sedang boming, khususnya di bulan Ramadhan dan Lebaran adalah album Ungu, salah satu lagunya “Andai ku tahu”. Hampir disetiap sudut jalan, rumah bahkan dering Hp pun banyak memperdengarkan lagu religi ini.

Apapun agama seseorang, bahkan orang yang mengaku tidak beragamapun, ketika dihadapkan sebuah kejadian kematian, insya Allah akan takut mati. Makanya, Rasulullah saw menginformasikan: “Nasihat yang paling mujarab adalah kematian”. Cuma masalahnya adalah, apakah kita selalu mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian atau tidak. Inilah problem utamanya.

Salah satu bait, lagu ungu adalah;

Aku takut akan semua dosa-dosaku
Aku takut dosa yang terus membayangiku
Andai ku tahu malaikat
kan menjemputku
Izinkan aku mengucapkan kata tobat padamu.

Berani hadapi tantangan, untuk selalu mempersiapkan diri menghadapi kematian? Atau kita sering melihat kematian dan tetap menjadi bebal, untuk mempersiapkan kematian. Bagaimana pendapat kalian?

Kamis, Desember 14, 2006

Sekuntum Bunga Terpelihara

Allah SWT tidak menciptakan wanita dari kepala laki-laki untuk dijadikan atasannya . Tidak juga Allah SWT ciptakan wanita dari kaki laki-laki untuk dijadikan bawahannya. Tetapi Allah menciptakan wanita dari tulang rusuk laki-laki, dekat dengan lengannya untuk dilindunginya, dan dekat dengan hatinya untuk dicintainya.

Allah tidak menciptakan wanita sebagai komplementer atau sebagai barang substitusi apalagi sekedar objek buat laki-laki. Tetapi Allah menciptakan wanita sebagai teman yang mendampingi hidup Adam tatkala kesepian di surga. Juga Allah ciptakan wanita sebagai pasangan hidup bagi laki-laki untuk menyempurnakan hidupnya sekaligus sebab lahirnya generasi, disamping tunduk dan beribadah kepada Allah tentunya.

Namun mengapa tetap saja ada laki-laki yang tunduk di bawah kaki wanita. Mengemis cintanya, berharap kasih sayangnya dengan menggadaikan kepemimpinan, bahkan kehormatan dan harga dirinya. Wanita dipuja bagai Dewa, disanjung bagai Dewi Sinta, yang banyak menyebabkan laki-laki buta mata, buta telingga, bahkan buta mata hatinya..

Namun ada juga yang menganggap rendah wanita. Wanita dinista, dihina. Kesuciannya dijadikan objek yang tidak bernilai harganya. Tenaganya dieksploitasi bagaikan kuda. Kelembutannya dijadikan transaksi murahan yang tak seimbang valuenya. Wanita dijadikan sekedar pemuas nafsu belaka, bila habis madunya, dengan seenaknya di buang ke keranjang sampah, atau dianggap sandal jepit yang tak berguna.


Jika wanita itu adalah ibu kita, kakak atau adik perempuan kita, anak kita, relakah kita melihat mereka menjajakkan diri di gelapnya malam yang mencekam. Relakah kita melihat mereka membanting tulang mengumpulkan rupiah, ringgit atau real dengan mayat terbujur kaku sebagai resikonya?

Jika wanita itu adalah ibu kita, kakak atau adik perempuan kita, anak kita, relakah kita membiarkannya seolah seonggok jasad hidup yang tidak memiliki nilai guna? Dipajang sana-sini, kemudian orang-orang tidak bertanggung jawab dapat bebas menyentuhnya?

Jika wanita itu adalah ibu kita, kakak atau adik perempuan kita, anak kita, relakah kita membiarkannya beringgas, liar, ganas, tidak berpendidikan, bodoh, dunggu, hanya karena ketidakmampuan ayah memberi nafkah, karena ketidakmampuan ibu medidik dan mencintainya, karena ketidakmampuan kita melindunginya, sebagaimana Allah menciptakan wanita dari tulang rusuk laki-laki, dekat dengan lengannya untuk dilindunginya, dekat dengan hatinya, untuk dicintainya.

Ia tetap wanita, yang diciptakan Allah SWT dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Tidak bisa manusia dengan akalnya yang kerdil ini mengganti kedudukannya apa lagi fitrahnya. Wanita adalah patner laki-laki dalam mengisi hari-hari. Islam telah menempatkannya pada posisi yang sangat terhormat, karena setiap jiwa lahir dari rahimnya.

Memang adalah suatu hal yang sulit mendidik wanita yang berakidah benar, ibadah seeur, akhlak bagus, berbadan sehat, jago komputer, dan otaknyapun pinter. Namun bukan berarti dunia tidak bisa melahirkan wonder women. Sejarah mencatat dengan tinta emas prestasi kepahlawanan para wanita. Dimulai dari Ummul Mu’minin, Aisyah, Fatimah Az-Zahra, Cut Nyak Dien, Kartini, dan pada zaman modern ini pejuang wanita terus saja bermunculan seperti perjuangan Zainab Al-Ghazali, seorang wanita Ikhwanul Muslimin yang tidak saja kuat fisiknya tetapi juga imannya menghadapi kekejaman pemerintah tirani di Mesir waktu itu.

Wonder women yang sholehah bagaikan sekuntum bunga terpelihara, tidak semua kumbang bisa menghisab madunya. Lemah lembutlah memperlakukanya, karena kata Rasul yang diriwayatkan oleh Imam Muslim “Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baiknya perhiasan dunia adalah wanita shalehah”.

***

Sudah habis masanya bagi perempuan hidup terhina. Sudah berlalu awan kelam yang senantiasa menyelimuti gadis-gadis kecil tak berdosa yang dikubur hidup-hidup hanya karena ia berjenis kelamin perempuan. Sejak cahaya Islam menyinari bumi melalui tangan seorang rasul, perempuan menempati tempat yang terhormat. Adalah suatu kesalahan sejarah, jika dikatakan bahwa kebangkitan harga diri dan kehormatan perempuan dimulai sejak terbitnya buku habis gelap terbitlah terang.

Sebagai makhluk yang sama-sama mengabdi kepada Allah, perempuan dan laki-laki memiliki hak dan kewajiban yang sama. Bahkan lebih jauh, ada pekerjaan yang tidak dapat dikerjakan oleh-laki-laki. Hanya wanita saja yang dapat melakukan pekerjaan ini. . Mengandung, melahirkan, menyusui, adalah fitrah yang tidak dapat dielakkan walaupun dengan teori dan argumentasi apapun. Namun tidak ada pekerjaan laki-laki yang tidak dapat dikerjakan oleh wanita. Semua pekerjaan laki-laki dapat dikerjakan oleh wanita saat ini. Tetapi apakah laki-laki bisa mengandung, melahirkan, menyusui? Inilah fitrah yang tidak dapat dielakkan, bahwa wanita memiliki bagian special dalam episode kehidupannya.

Sejarah Indonesia mencatat perjuangan seorang gadis bernama Kartini untuk hak-hak dan persamaan derajat kaumnya dengan laki-laki.. Tradisi Jawa yang feodal waktu itu amat sangat merugikan kaum wanita. Tidak diperkenankan mengenyam pendidikan adalah puncak kekecewaan Kartini terhadap diskriminasi terhadap wanita yang sesungguhnya sudah sejak lama dibebaskan Islam melalui lisan Rasulullah. Karena beliau waktu itu berkiblat pada Eropa, Kartini menganggap Eropa merupakan atmosfir baru yang patut dijadikan rujukan terhadap kebebasan perempuan dari kukungan tradisi Jawa yang kurang menghargai wanita.

Perempuan memiliki hak mendapatkan pendidikan dan pengajaran yang sejajar dengan laki-laki. Karena mendapatkan ilmu adalah hak setiap insan di muka bumi ini. Kartini pernah mengirim surat kepada Prof Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902, “Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruh yang besar sekali bagi kemajuan yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya, menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama”

Bila kita perhatikan, tuntutan utama Kartini adalah diberikannya kesempatan bagi kaum wanita untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Karena memang waktu itu yang berhak mendapatkan pendidikan hanya laki-laki, itupun terbatas pada anak-anak kaum ningrat, pejabat pemerintah dan Belanda. Kartini yang masih berdarah ningrat saja masih terbatas mendapatkan pendidikan, apalagi dengan perempuan rakyat jelata? Karena Kartini yang cerdas menyadari pendidikan akan memberikan pengaruh yang besar bagi wanita untuk mengembangkan potensi yang telah diberikan alam kepadanya.

Pada zamannya, pendidikan bagi anak perempuan amat minim sekali. Hal ini menyebabkan Kartini ingin mendobrak tradisi tersebut dan mengharapkan adanya perubahan adat yang sangat feodal dan mengukung kebebasan. Kartini ingin agar kaumnya pada zaman Belanda itu mendapatkan kesempatan untuk maju, salah satu cara adalah dengan mendapatkan pendidikan yang sama dengan apa yang didapatkan laki-laki. Karena tidak dapat dipungkiri, ibu adalah madrasah pertama yang akan mendidik anak-anak menjadi manusia-manusia yang kelak akan menjadi pemimpin negeri ini.

Namun sayang, kaum feminisme tidak utuh mendeskripsikan keinginan dan cita-cita Kartini. Cita-cita murni dan mulia itu hanya ditafsirkan sebatas persamaan derajat. Mereka bahkan lebih sempit menafsirkan cita-cita Kartini dengan persamaan disegala bidang tanpa menghiraukan kodrat keperempuanan yang tidak bisa dipungkiri jelas akan berbeda dengan laki-laki. Jika persamaan derajat yang dituntut, jauh sebelum Kartini lahir, Islam telah mengangkat derajat wanita ke tempat yang paling terhormat, bahkan seluruh isi alam ini tidak ada artinya dibandingkan seorang wanita yang sholehah, begitu Rasul mengatakan.

Sebelum wafatnya Kertini sempat mempelajari Al-Quran. Pelajaran yang hanya sebentar ia dapatkan itu menyadarkannya bahwa betapa selama ini ia telah salah memandang Eropa yang selalu diagung-agungkannya sebelum ia mendapat hidayah Allah.

Hal ini terungkap dalam suratnya kepada Ny. Abendanon tanggal 27 Oktober 1902, “Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah Ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah Ibu menyangkal bahwa dibalik hal yang indah dalam masyarakat Ibu, terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut peradapan?

Surat yang cukup pedas ini Kartini sampaikan karena akumulasi kekecewaanya pada masyarakat Eropa yang selama ini ia anggap terhormat. Tidak ada satu masyarakatpun yang lebih menghargai keberadaan perempuan kecuali Islam.

Itulah Kartini, perempuan yang cerdas, kritis dan bisa membedakan mana yang merupakan peradapan, dan mana yang tidak. Perkenalannya yang hanya sebentar dengan Al-quran, telah mengembalikan aqidahnya yang hampir terlumuri oleh teori teman temanya dari Eropa dan Barat yang jauh dari nilai-nilai Islam, berpandangan materialistik, menganggap kaum perempuan pribumi bodoh, padahal merekalah yang menciptakan situasi tersebut.

Surat Kartini kepada Ny. Abendanon tanggal 12 Oktober membuktikan itu, “Dan saya menjawab, tidak ada Tuhan kecuali Allah, kami mengatakan bahwa kami beriman kepada-Nya. Kami ingin mengabdi kepada Allah dan bukan kepada manusia, jika sebaliknya tentulah kami sudah memuja orang, bukan manusia”.

Subhanallah, Allah memberi hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan mencabut hidayah dari siapa yang dikehendaki-Nya. Beruntunglah Kartini, diakhir hayatnya Allah menunjukinya jalan yang benar, bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhamad adalah utusan Allah. Wanita diciptakan Allah dari tulang rusuk laki-laki untuk menjadi patner khalifah di muka bumi ini. Dan Rasul telah membebaskan perempuan dari kukungan jahiliyah yang merendahkan martabat wanita, sehingga kerjasama itu dapat dilaksanakan dengan baik.

Jika Kartini pada akhir hayatnya ingin kembali kepada cahaya Allah, dan melupakan teori Barat dan Eropa, mengapa kita masih meragukan kesempurnaan ajaran Islam?. Kembalilah kepada fitrah yang telah Allah berikan kepada wanita, sebagai istri yang meneguhkan pijakan kaki suami, sebagai ibu, pendidik pertama bagi pertumbuhan dan perkembangan anak-anaknya. Tak ada yang lebih berharga dalam hidup ini, jika kita memiliki keluarga yang harmonis, suami yang sholeh, istri yang sholehah, anak yang sholeh, sehat dan cerdas, yang disinari cahaya Islam, semua itu tiidak lepas dari kreasi tangan wanita.

Saat ini yang perlu kita lakukan adalah menciptakan generasi kreatif, inovatif, prestatif, edukatif dan produktif. Adalah sebuah mimpi hal itu terwujud jika tidak dilukis oleh tangan-tangan lembut wanita. Untuk mewujudkan itu, tidak lain hanyalah wanita sholehah yang berilmu, berakal dan bertaqwa yang dapat melakukannya.

Wanita sholehah adalah sekuntum bunga terpelihara. Tidak mudah bagi kumbang mengisap madunya. Dalam dirinya tersimpan potensi kepahlawanan yang akan membawa ummat pada puncak peradaban terhormat. Wanita sholehah akan terus membuktikan prestasi kepahlawannya. Apakah keluarga kita yang perempuan termasuk dalam bagiannya?

Senin, Desember 11, 2006

Kokoh dan Indahnya Silaturahmi

By : Aa Gym

Pertama, Meningkatkan Silaturahmi

Hikmah dari sikap Nabi Muhammad selalu berbeda jalan ketika berangkat dan pulang dari masjid adalah karena beliau setiap waktu ingin selalu memperbanyak silaturahmi dengan umatnya. Artinya kitapun harus memiliki budaya yang sama yaitu upayakan memiliki jadwal dan cara khusus untuk bersilaturahmi dengan sebanyak mungkin kalangan, baik yang sudah dikenal ataupun yang belum. Baik yang akrab maupun yang tak menyukai kita.

Andai saja kita tahu kedahsyatan manfaat silaturahmi, niscaya sepanjang waktu ini rasanya ingin selalu bersilaturahmi. Setidaknya silaturahmi yang baik akan menambah saudara baru dan mempereratnya, menambah wawasan dan ilmu serta semakin menambah kekuatan bagi ukhuwah kita. Sering sekali terjadi salah paham karena lemahnya komunikasi akibat jarangnya bersilaturahmi. Pendek kata silaturahmi yang teratur dan terprogram dengan baik adalah bagian kunci suksesnya ukhuwah kita ini.

Kedua, Kirimlah Hadiah

Nabi Muhammad Saw, sudah mengisyaratkan bahwa berkiriman hadiah itu akan menambah rasa sayang dan memang kenyataannyapun demikian. Bila ada yang berkirim sesuatu yang bermanfaat bagi kita, pada umumnya akan senang hati dan merasa hutang budi, cenderung lebih memaafkan dan mempererat hubungan.

Oleh karena itu, kita harus memiliki program pengadaan dana untuk hadiah kepada orang tua, tetangga, kawan dekat, dan siapapun yang kita harapkan dapat bersinergi dalam ukhuwah ini. Tentu saja semuanya ini harus sangat terjaga, keikhlasannya. Biasakanlah setiap kali memiliki makanan, tetanggapun ikut menikmatinya. Jauh sangat lebih baik kita makan hanya separuh dari makanan sendiri dan sebagian yang lain dinikmati saudara seiman lainnya dari pada kenyang sendiri dan orang lain tak mendapatkan apapun.

Ketiga, Jauhi Perdebatan walaupun Benar

Jujur saja sebetulnya perdebatan yang banyak terjadi tampaknya bukan sedang mencari kebenaran tapi lebih dekat kepada mencari kemenangan pendapatnya sendiri, hal ini tampak dari cara dan bentuk percakapannya yang lebih menjurus pada berbantah-bantahan secara emosi, kata yang saling menyerang dan bau permusuhan saling menyudutkan, jauh dari cara kajian ilmiah yang penuh etika.

Maka sekiranya kita ada dalam situasi yang tak sehat ini menghindar dari berdebat bukanlah suatu tindakan menghindar dari kebenaran, melainkan menghindar dari peluang bangkit dan berkobarnya suasana permusuhan, berpalinglah dan carilah topik bahasan yang lebih mempersatukan. Tentu saja bukan tidak boleh mengadakan diskusi pemecahan masalah, namun harus didasari kesiapan mental yang baik, kesiapan ilmu yang memadai, dan kesiapan mendengar serta berbicara yang baik pula, Insya Allah akan datang petunjuk Allah dalam mecari kebenaran.

Keempat, Selalu Berusaha Mendahului Menegur, Mengucapkan Salam, Berjabat Tangan Dengan Ramah Dan Tulus.

Dengan kata lain, praktekkan lima (5) S, senyum sapa, salam, sopan, dan santun. Insya Allah interaksi kita kepada siapapun akan jauh lebih bermakna jikalau wajah kita senantiasa diliputi senyuman, sapa penuh kelembutan, dan akhlak yang penuh kerendahan hati akan memikat setiap orang yang kita jumpai. Alangkah indahnya wajah yang jernih, ceria, senyum yang tulus dan ikhlas, membahagiakan siapapun.

Betapa nyamannya suasana saat salam hangat ditebar, saling mendo’akan, menyapa dengan ramah, lembut dan penuh perhatian. Alangkah agungnya pribadi kita, jika penampilan kita selalu sopan dengan siapapun dan dalam kondisi bagaimanapun. Betapa nikmatnya dipandang, jika pribadi kita santun, mau mendahulukan orang lain, rela mengalah dan memberikan haknya, lapang dada, pemaaf yang tulus, dan ingin membalas keburukan dengan kebaikan serta kemuliaan.

Rabu, Desember 06, 2006

Sudahkah Aku Mencintai Allah SWT

Semoga kita selalu mengingat akan nikmat yang telah diberikan kepada kita. Tiada yang berharga dari hidup kita selain bersyukur dan beribadah kepada Allah SWT.

Sesungguhnya aku masih belum mengetahui apakah aku sudah mencintai Allah. Dalam hidup aku selalu menganggap bahwa pasangan yang nyatalah yang aku cintai. Seperti Kedua Orang tua, Keluarga, Teman. Cinta terhadap Allah, sungguh aku tidak tahu?

Apakah cinta itu sama seperti aku mencintai Kedua Orang tua, Keluarga, Teman. Aku sungguh tidak tahuuuu ??? Semoga aku sudah mencintai Allah SWT. karena yang tahu cinta aku hanyalah Allah SWT. Betapa nista dan kufurnya aku bila tidak mencintainya.


Allah SWT Engkaulah sang kholik yang esa.


Yaa Allah Hamba memohon Ridho mu.
Yaa Allah Hamba memohon Rahmat mu.
Yaa Allah Hamba memohon Perlindungan mu.
Yaa Allah Hamba memohon Ampunan mu.


Jangan engkau tutup jalan yang lurus menuju surga mu yaa Allah.
Jangan engkau palingkan Aku dari cahaya rahmat mu yaa Allah.
Ingat kan lah selalu aku apabila aku tersesat di jalan Syaitan.
Hanya engkaulah Allah SWT yang pantas mendapatkan cinta aku.

Senin, Desember 04, 2006

Ujian Kehidupan

“Tiap-tiap orang yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Anbiyaa (21) : 35).

Ujian merupakan segala yg terjadi pada manusia baik berupa suatu kesulitan maupun kesenangan. Musibah adalah hal-hal yg tidak menyenangkan yg terjadi pada manusia. Kebanyakan manusia menganggap bahwa ujian dan cobaan hanya berupa derita, kesulitan, kegagalan, bencana dan sejenisnya yg lazim disebut dengan musibah. Jarang dikatakan bahwa kelapangan hidup, kekayaan popularitas dan keberhasilan meraih cita-cita dikatakan ujian, padahal sebenarnya ini juga merupakan ujian dari Allah Swt.

Setiap manusia akan menerima ujian dari Allah Swt. Bentuk ujian itu ialah segala yg tidak disenangi atau yg disenangi oleh setiap orang (ujian bisy-syar dan bil-khair), ujian ini berjalan kedua-duanya, bersamaan atau bergantian, kadang manusia diuji dengan nasib baik, kekayaan dan kesenangan dan adakalanya diuji dengan musibah, kesulitan dan rasa putus asa, tidak ada orang senang terus sejak masa lahirnya tanpa merasakan sedikitpun kesusahan atau keguncangan. Dan sebaliknya, tidak ada orang yg susah terus sepanjang hidupnya tanpa pernah mengalami kesenangan dan kegembiraan. Karena kehidupan di dunia ini terdiri atas hal-hal yg menyenangkan dan yg tidak menyenangkan.

Banyak orang yg lulus dalam ujian bisy-syar (kesusahan/kesulitan) tetapi jatuh dalam ujian bil-khair (kesenangan). Banyak orang yg gagal menghadapi ujian dalam bentuk kebaikan/kesenangan daripada ujian yg berbentuk kesulitan/musibah.

Rasululloh Saw bersabda, “ Demi Allah, bukanlah kefakiran yg aku khawatirkan atas kalian, akan tetapi aku justru khawatir (kalau-kalau) kemegahan dunia yg kalian dapatkan, sebagaimana yg diberikan kepada orang-orang sebelum kalian. Lalu kalian bergelimang dalam kemewahan itu sehingga binasa, sebagaimana mereka bergelimang dan binasa pula.” (HR. Bukhari).

Kebiasaan manusia lupa diri ketika menghadapi ujian kesenangan dan kenikmatan, diungkapkan dalam Al Qur’an : “Adapun manusia apabila diberi ujian oleh Tuhan-Nya yaitu diberi tempat yg mulia dan diberikan kenikmatan kepadanya, lalu berkata : ‘Tuhanku telah memuliakan aku.” Dan sebaliknya : “Adapun bila Tuhan-Nya mengujinya lalu membatasi rezkinya maka dia berkata : “ Tuhanku menghinakanku”. (QS. 89 : 15-16)

Ada tiga golongan manusia dalam menghadapi musibah/ujian :

Pertama Orang yg menganggap bahwa musibah/ujian kehidupan sebagai hukuman dan azab kepadanya, sehingga ia selalu merasa sempit dada dan selalu berkeluh kesah, bila ia mendapatkan kebaikan dia menjadi kikir.

Sebagaimana firman_Nya : “Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir”. (QS. 70 : 20-21)

Kedua Orang yg menilai bahwa musibah adalah sebagai penghapus dosa, ia tidak pernah menyerahkan apa2 yg menimpanya kecuali kepada Allah Swt.

Dalam hadits kudsi Allah Swt berfirman : “Demi keagungan dan kalimat-Ku Aku akan mengeluarkan hamba-Ku yg Aku inginkan kebaikan baginya dari kehidupan dunia, sehingga aku tebus perbuatan2 dosanya dengan penyakit pada tubuhnya, kerugian pada hartanya, kehilangan anaknya. Apabila masih ada dosa yg tersisa dijadikan ia merasa berat disaat sakaratulmaut, sehingga ia menjumpai Aku seperti bayi yang baru lahir”.

Ketiga Orang yg meyakini bahwa musibah adalah ladang peningkatan iman dan taqwanya, org seperti ini selalu tenang serta percaya bahwa dengan musibah/ujian itu Allah Swt menghendaki kebaikan bagi dirinya.

Sebagaimana firman Allah Swt : “Maha Suci Allah yg ditangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya dia menguji kamu, siapa diantara kamu yg lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”. (QS. 67 : 1-2)

Dan dalam ayat yg lain Allah menjelaskan : “Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yg ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah diantara mereka yg terbaik amalnya”. (QS. 18 : 7)

Sabar menghadapi ujian

Ujian/musibah yg ditimpakan kepada manusia ada dua macam :

Pertama Musibah dunia, salah satunya ialah ketakutan, kelaparan, kematian dan bencana alam yg sekarang banyak terjadi di Negara kita ini, seperti tsunami, gempa dsb agar kita bersabar.

Sebagaimana Allah Swt berfirman : “Dan sesungguhnya akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”. (QS. 2 : 155)

Kedua Musibah akhirat, adalah orang yg tidak punya amal shalih dalam hidupnya, sehingga jauh dari pahala dan ridha Allah Swt.

Rasulullah Saw bersabda, “Orang yg terkena musibah bukanlah seperti yg kalian ketahui, tetapi orang yg terkena musibah yaitu yg tidak memperoleh kebajikan (pahala) dalam hidupnya”.

Orang yg terkena musibah berupa kesusahan dan kesulitan di dunia, jika dihadapi dengan kesabaran, ikhtiar dan tawakal kepada Allah, hakikatnya tidak terkena musibah, justru yg didapatkan adalah ladang pahala. Sebaliknya musibah (ujian) kesenangan selama hidupnya jika tidak pandai mensyukurinya, malah digunakan kesenangan tsb dijalan maksiat dan dosa, maka itulah musibah yg sesungguhnya, bukannya pahala/ridha Allah yg didapatkan melainkan menjadi ladang (saham) dosa.

Sebagaimana hadits Rosululloh Saw, “ Sesungguhnya menakjubkan perkara orang yg beriman, seluruh perkaranya menjadi baik ketika ditimpa musibah ia bersabar, itu membawa kebaikan baginya dan ketika mendapatkan nikmat kesenangan dia bersyukur dan itu membawa kebaikan baginya”. (HR. Muslim)

Jika seorang hamba telah mengetahui bahwa orang-orang yg bersabar dalam menghadapi ujian dari Allah Swt, kesabaran itu telah ditunggu oleh balasan yg paling baik disisi Allah Swt. Sebagaimana firman-Nya : “Apa yg ada disisimu akan lenyap dan apa yg ada disisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yg sabar dengan pahala yg lebih baik dari apa yg telah mereka kerjakan”. (QS. 16 : 96)

Musibah/ujian adalah suatu kepastian yg melanda semua manusia, baik secara perorangan, kelompok atau melanda sebuah Negara. Musibah pada hakikatnya adalah ujian dari Allah Swt, dan ketika ujian itu dapat dilaluinya dengan baik maka akan menaikan derajat dan kebaikan bagi yg diujinya itu, sebagaimana anak-anak pelajar yg akan naik kelas, mereka perlu diuji dahulu. Sebagaimana sabda Rasululloh Saw, “Siapa yg akan diberikan limpahan kebaikan dari Allah, maka diberi ujian terlebih dahulu”. (HR. Bukhari – Muslim)

Semoga setiap menghadapi ujian kesulitan kita bersabar dan berusaha mencari solusi dengan bertawakal kepada Allah Swt, sebagai bukti keimanan kepada-Nya. Dan jika mendapatkan ujian kesenangan, kebaikan kita bersyukur kepada-Nya.

Setiap muslim selayaknya meneladani sikap Nabi Sulaiman As ketika diberi anugerah kekayaan dan kekuasaan yg luar biasa oleh Allah Swt. Sebagaimana diungkapkan dalam Alqur’an : “ini termasuk karunia dari Tuhanku untuk menguji aku apakah aku bersyukur atau kufur atas nikmat-Nya. Dan barangsiapa yg bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk kebaikan dirinya sendiri dan barangsiapa yg ingkar maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”. (QS. 27 : 40)

Buletin Khairu Ummah Edisi 35/Nopember 2006

Jumat, Desember 01, 2006

Hati – hati menjalani hidup

Kecelakaan di jalan tol lebih besar dibanding kecelakaan di jalan berbelok-belok, becek atau jalan berlubang. Saya dengar, di jalan tol Padaleunyi saja, dalam setahun, telah terjadi sekitar dua ratus kecelakaan. Angka ini lebih banyak di banding kecelakaan di jalan raya biasa.

Begitu pula dalam hidup. Kenyamanan dan keserbacukupan berpotensi melenakan dan menghancurkan. Anak-anak yang dibesarkan dalam suasana serba mudah, lebih rentan tergelincir. Mereka pun cenderung mudah kalah saat di hadapkan pada kondisi sulit. Berbeda dengan anak-anak yang lahir dan dibesarkan dalam kondisi serba sulit. Mereka akan jauh memiliki daya tahan dalam mengarungi hidup. Betapa banyak orang sukses mengawali hidupnya dari kondisi serba darurat. Ketika kesulitan menghadang, mereka akan menghadapinya dengan senyuman. Mengapa? Karena kesulitan sudah jadi "mainan" sehari-hari.

Ibaratnya, hidup serba mudah seperti jalan tol, lurus, rata, konstan dan mudah diprediksi belokannya. Sedangkan hidup serba susah bagaikan berkendaraan di jalan penuh kelokan. Sulit diprediksi, dinamis, menuntut konsentrasi dan kehati-hatian ekstra. Sehingga kecelakaan lebih dapat diminimalisasi.

Kalau kita cermati, ternyata ada kemiripan antara kecelakaan di jalan raya dengan kecelakaan dalam hidup. Khususnya bila dilihat dari penyebabnya. Mari kita lihat.

1. Ngantuk karena tidak pandai mengukur kemampuan diri. Dalam hidup, kalau seseorang tidak pandai menyikapi hidup dan mengukur kemampuan dirinya, maka ia akan mudah tergelincir.

2. Ugal-ugalan. Orang yang ugal-ugalan dalam hidup, tidak memakai perhitungan matang, tergesa-gesa mengambil keputusan, kehidupannya pasti berantakan.

3. Nyetir sambil menelepon. Mirip dengan orang yang lalai, tidak waspada dan berdisiplin. Ia kurang bisa menempatkan sesuatu pada tempatnya. Akibatnya sungguh fatal.

4. Ceroboh, tidak terampil menggunakan rem misalnya, mirip orang yang tidak terampil mengendalikan nafsu. Kita dapat menduga apa yang akan terjadi pada orang yang kurang terampil mengendalikan nafsu, hati akan mengeras, susah akur, tamak, dsb.

5. Tidak memiliki persiapan matang, tidak memeriksa kendaraan sebelum berangkat. Hal ini mengingatkan kita betapa pentingnya melakukan persiapan dan perencanaan matang sebelum beraktivitas. Gagal merencanakan sama artinya dengan merencanakan gagal. Orang yang tidak memiliki perencanaan dalam hidupnya, berpeluang besar untuk gagal.

6. Belum lancar mengendarai. Dalam hidup, kalau kita tidak terampil dan terlatih menghadapi masalah, akan membuat hidup terasa ruwet dan getir. Di sinilah pentingnya amal yang berkesinambungan di bawah dibimbing seorang pelatih profesional. Dalam hidup, pembimbing kita adalah Alquran dan hadis.

7. Tidak tahu rambu-rambu lalu lintas, sama artinya dengan tidak memahami aturan hidup yang digariskan agama. Atau, orang yang mengetahui adanya rambu-rambu lalu lintas, namun tidak mau menaatinya.

Kehidupan kita tidak jauh beda seperti seorang yang mengendarai mobil di jalan. Maka berhati-hatilah menjalani kehidupan ini agar kita selamat menuju alam akhirat, seperti kita menghindari kecelakaan di jalan raya.

- KH Abdullah Gymnastiar -

Kamis, November 30, 2006

Berlapang Dada Menghadapi Kritikan

Penulis : KH Abdullah Gymnastiar

Persepsi kita terhadap kritik akan lebih baik bila kita menanamkan di dalam hati bahwa kritik itu penting. Sahabat, apa yang terlintas dalam benak kita ketika mendengar orang berkata, "Saya ingin mengkritik Anda!". Biasanya, jika seseorang mendapat perlakukan seperti itu, ia akan bereaksi negatif. Seakan-akan kehormatan dan harga dirinya sedang terancam. Ia menganggap kritik sebagai penghinaan yang akan menurunkan harga diri dan mencemarkan nama baiknya.

Maka, wajar jika reaksi yang muncul -- entah itu berupa pikiran, perasaan, maupun sikap tubuh -- adalah pembelaan diri. Sulit baginya untuk menerima semua kritikan, apalagi menikmatinya. Akan tetapi, responsnya akan berbeda jika kita mendengar perkataan, "Saya akan memberi kamu kripik". Spontan, kita akan senang menerimanya. Wajah menjadi cerah. Riang rasanya perasaan karena membayangkan akan diberi kripik yang lezat.

Di sinilah perbedaan kata 'kritik' dan 'kripik'. Tetapi, yang terpenting bukan itu. Hal terpenting adalah mengapa kita sampai memunculkan sikap berbeda ketika mendengar dua kata itu? Untuk yang pertama, kita cenderung sungkan menerimanya. Sementara untuk yang kedua, kita malah sering mencarinya. Sebenarnya, masalah kritik dan kripik bisa sama kalau persepsi kita tentang kritik itu kita benahi; bila kata-kata kritik menjadi bagian keseharian yang kita nikmati. Lebih dari itu, kita juga butuh ilmunya sehingga kritik ini menjadi sesuatu yang berarti dan layak kita akrabi.

Dalam menerima kritik, kita memerlukan beberapa trik, sehingga kita bisa menerima kritik tersebut sebagai sarana membangun kemuliaan. Bagaimana caranya?

Pertama, rindukanlah kritik dan nasihat tersebut. Selayaknya, kita bisa memposisikan diri menjadi orang yang rindu dikoreksi, dan rindu dinasihati. Seperti rindunya kita melihat cermin agar penampilan kita selalu bagus. Persepsi kita terhadap kritik akan lebih baik bila kita menanamkan di dalam hati bahwa kritik itu penting. Kritik adalah kunci kesuksesan dan kemajuan, kritik akan membuka prestasi, derajat, dan kedudukan yang lebih baik.

Kedua, cari dan bertanyalah. Belajarlah bertanya kepada orang lain dan nikmati saran-saran yang mereka lontarkan. Milikilah teman yang mau dengan jujur untuk saling mengoreksi. Tanyalah kekurangan diri pada orang-orang yang dekat dengan kita. Percayalah, semua itu tidak akan mengurangi kemuliaan

Ketiga, nikmati kritik. Persiapkan diri untuk menerima kenyataan bahwa koreksi itu tidak selalu harus sesuai dengan keinginan kita. Ada kalanya isinya benar, namun caranya salah. Tidak ada yang rugi dengan dikoreksi. Jadi, kalau ada yang mengkritik usahakan untuk tidak berkomentar. Jangan memotong pembicaraan. Apalagi membantahnya. Belajarlah untuk diam dan menjadi pendengar yang baik.

Keempat, syukurilah. Jangan melempar komentar apapun kecuali ucapan terimakasih yang tulus kepada si pemberi kritik. Tampakkanlah raut muka yang sungguh-sungguh dan penuh perhatian. Sertakan namanya dalam doa-doa kita, terutama bila kita ingat akan kebaikan-kebaikan yang pernah ia berikan.

Kelima, evaluasi diri. Jujurlah kepada diri sendiri ketika menerima kritik. Jangan sibuk menyalahkan pengkritik, atau mencari kambing hitam dengan menyalahkan orang lain.

Keenam, perbaiki diri. Buatlah program perbaikan dengan sungguh-sungguh. Jadikan program tersebut sebagai ungkapan rasa syukur terhadap kritik yang datang. Mintalah kepada Allah, sebab perubahan hanya terjadi dengan izin dan kekuasaan Dia.

Ketujuh, balas budi. Jangan lupa untuk mengirimkan tanda terima kasih. Bisa berupa barang berharga, makanan, sepucuk surat, atau-minimal- informasi kepada yang mengkritik bahwa kita berterima kasih atas kebaikannya.

Selamat menikmati kritik.

Jumat, November 24, 2006

Take it or Lose it

Dalam sebuah kelas pelatihan, saya mengambil selembar kertas polos kemudian menggunting-guntingnya menjadi beberapa bagian. Ada guntingan besar, ada juga yang kecil. Tapi jumlahnya sengaja saya buat tak sama dengan jumlah peserta dalam kelas itu, dua puluh orang.

Kemudian saya meminta kepada peserta untuk mengambil masing-masing satu guntingan kertas yang tersedia di meja depan. "Silahkan ambil satu!" demikian instruksi yang saya berikan. Dapat diduga, ada yang antusias maju dengan gerak cepat dan mengambil bagiannya, ada yang berjalan santai, ada juga yang meminta bantuan temannya untuk mengambilkan. Dua tiga orang bahkan terlihat bermalasan untuk mengambil, mereka berpikir toh semuanya kebagian guntingan kertas tersebut.

Hasilnya? Empat orang terakhir tak mendapatkan guntingan kertas. Delapan orang pertama ke depan mendapatkan guntingan besar-besar, yang berjalan santai dan yang meminta diambilkan harus rela mendapatkan yang kecil. Lalu saya katakan kepada mereka, "Inilah hidup. Anda ambil kesempatan yang tersedia atau Anda akan kehilangan kesempatan itu. Anda tak melakukannya, akan banyak orang lain yang melakukannya".

Pagi ini di kereta saya mendapati seorang wanita hamil yang berdiri agak jauh. Saya sempat berpikir bahwa orang yang paling dekat lah yang 'wajib' memberinya tempat duduk. Tapi sedetik kemudian saya bangun dan segera memanggil ibu itu untuk duduk. Ini perbuatan baik, jika saya tak mengambil kesempatan ini, orang lain lah yang melakukannya. Dan belum tentu esok hari saya masih memiliki kesempatan seperti ini.

Soal rezeki misalnya, saya percaya ia tak pernah datang sendiri menghampiri orang-orang yang lelap tertidur meski matahari sudah terik. "Bangun pagi, rezekinya dipatok ayam tuh!" Orang tua dulu sering berucap seperti itu.

Dan entah kenapa hingga detik ini saya tak pernah bisa menyanggah ucapan orangtua perihal rezeki itu. Saya percaya bahwa orang-orang yang lebih cepat berupaya meraihnya lah yang memiliki kesempatan untuk mendapatkan rezeki yang lebih banyak. Sementara mereka yang bersantai-santai atau bahkan bermalas-malasan, terdapat kemungkinan kehabisan rezeki.

Contoh kecil, datanglah terlambat dari jam kantor Anda yang semestinya. Perusahaan tidak hanya akan mengurangi gaji Anda akibat keterlambatan Anda, bahkan kinerja Anda dianggap minus dan itu mempengaruhi penilaian perusahaan terhadap Anda. Bisa jadi Anda tidak mendapatkan promosi tahun ini, sementara rekan Anda yang tak pernah terlambat lebih berpeluang.

Saya sering mendengar teman saya berkomentar negatif tentang apa yang dikerjakan orang lain, "Ah, kalau cuma tulisan begini sih saya juga bisa melakukannya" atau "Saya bisa melakukan yang lebih baik dari orang itu". Kepadanya saya katakan, saya yakin Anda bisa melakukannya. Masalahnya, sejak tadi saya hanya melihat Anda terus berbicara dan tak melakukan apapun. Sementara orang-orang di luar sana langsung berbuat tanpa perlu banyak bicara. Buktikan, jika Anda sanggup! Terus berbicara dan mengomentari hasil kerja orang lain tidak akan membuat Anda diakui keberadaannya. Hanya orang-orang yang berbuatlah yang diakui keberadaannya.

Kepada peserta di kelas pelatihan tersebut saya jelaskan, simulasi tadi juga berlaku untuk urusan ibadah. Saya tidak berhak mengatakan bahwa orang yang lebih tepat waktu akan mendapatkan pahala lebih besar, karena itu hak Allah dan juga tergantung dengan kualitas ibadahnya itu sendiri. Tapi bukankah setiap orang tua akan lebih menyukai anaknya yang tanggap dan cepat menghampiri ketika dipanggil ketimbang anak lainnya yang menunda-nunda? Jika demikian, buatlah Allah suka kepada Anda. Karena suka mungkin saja awal dari cinta. Semoga.

Bayu Gautama

Rabu, November 22, 2006

Gaul Syar'i Ala Muslimah

Penulis : Aris Solikhah

Gaul and modis, siapa sih yang nggak pengen? Pasti semua orang pengen. Saking pengennya, kadang cewek suka jadi plagiat total gaya hidup para selebritis. Coba deh lihat sekitar kamu. Soal pakaian saja, remaja putri mencontek abis fesyennya selebritis lokal maupun Holywood semisal Agnes Monica, Jeniffer Lopez, Nicole Kidman, Madonna dan sebagainya. Rok mini diatas dengkul, bujal, aurat terbuka merata disekitar leher dan dada.

Hidup para selebritis kita pun tak jauh dari aktivitas dunia gemerlap alias dugem. Berhura-hura di pesta dan tempat hiburan dengan gonta-ganti pasangan. Tampil full aksesoris nyentrik dan make up tebal demi menggaet simpati serta kenalan. Kita nggak mau dong over acting untuk menarik perhatian dan simpatik orang seperti itu, tapi ngorbanin ridhanya Allah. Sebenarnya kayak apa sih tampil gaul, modis tapi tetap syar'i. Nah kalo kamu ingin jadi muslimah gaul tapi syar'i, kamu kudu ngikutin rambu-rambu Allah dibawah ini.

Berbusana Muslimah

Islam juga mengatur urusan malbusat (urusan pakaian) ini lho. Ada dua busana yang wajib dipakai seorang muslimah yaitu khimar (kerudung) dan jilbab. Di masyarakat, orang menyamakan begitu saja antara kerudung dan jilbab.

Kerudung adalah penutup kepala atau pakaian atas. Batasan kerudung, minimal dua kancing paling atas baju atau tepat diatas dada. Selain itu tak membentuk kepala. Kadang karena pengen tampil trendy, perempuan suka niru gaya kudung gaul ketat menutup kepala dan leher saja. Bahkan tanpa sadar kelihatan warna kulit lehernya. Nah, gaya seperti ini sebenarnya belum sesuai dengan syar'i. Perintah memakai kerudung ini ada di Al Quran surat An Nur ayat 31.

Jilbab sendiri dalam kamus bahasa arab Al Munawir artinya baju longgar yang terus ke bawah tak berpotongan. Rambu-rambu dalam berjilbab antara lain nggak transparan sehingga kelihatan warna kulitnya, longgar, nggak press body serta irkha'; ilaa asfal alias menyentuh tanah tapi nggak panjang berekor.

Kewajiban berjilbab ini termaktub dalam surat Al Ahzab ayat 59. "Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang Mukmin, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal sehingga mereka tidak diganggu."

Biar kelihatan cantik & modis. Ada tips yang perlu diperhatikan. Bagi kamu yang bertubuh bongsor pilih kain jilbab yang berbunga kecil-kecil atau bergaris vertikal. Kebalikannya, bagi kamu yang berbody ceking pilih jilbab berbunga besar atau garis horisontal. Warna cerah dan bunga setaman sangat cocok bagi jiwa mudamu.

Biar tambah keren, coba padankan warna jilbab dengan warna kerudungmu. Kamu juga bisa berkreasi dengan model jilbabmu, dikasih rompi, rendra, manik-manik, bordir dan apa aja deh terserah selera . Asal jangan dikasih paku payung aja, entar dibilang kayak Rocker lagi.

No Ikhtilat, No Khalwat!

Tahu kan ikhtilat dan khalwat? Yup, ikhtilat ialah kondisi bercampurbaurnya antara laki-laki asing dan perempuan yang tidak dalam satu tempat tanpa ada urusan yang diperbolehkan agama. Maksud asing di sini, bukan mahram (laki-laki yang haram dinikahi) dan suami.

Birthday party, tamasya, jjs (jalan-jalan sore) bareng-bareng, nonton film rame-rame cowok campur cewek adalah beberapa contoh aktivitas per-ikhtilatan ria. Hampir semua aktivitas, saat ini full dengan ikhtilat. Nggak semua ikhtilat dilarang sih. Di bidang muamalah seperti pendidikan, jual beli, medis, persaksian di pengadilan, ikhtilat diperbolehkan, namun juga dengan batas tertentu pula.

Berlawanan dengan ikhtilat, khalwat adalah berdua-duaan antara laki-laki asing dan perempuan di tempat sepi. Berdasar ketidakbolehan khalwat inilah, hukum pacaran jadi nggak boleh alias haram. Apalagi ditambah aksi tangan doi yang 'menjelajah' kemana-mana. Wah gawat bisa terjadi adegan usia 17 ke atas. Sensor film kaleee.

Pantang non, mendekati zina. Jadi inget iklan sabun : no ikhtilat, no khalwat, no MBA (marry by accident maksudnya). Yang sudah terlanjur ke jebur melakukan pacaran, mendingan di-cut aja deh. Atau segera menikah, dengerin sarannya Meggy Z terlanjur basah, iya sudah mandi sekalian...

Jaga Pandangan

Dari mata jatuh ke hati. Exactly. Hati yang kotor berawal dari ketidakbisaan menjaga pandangan mata. Mata adalah jendela hati. Oleh karena itu Allah memerintahkan laki-laki dan perempuan mukmin untuk menundukkan pandangan (ghadul bashar) terutama pada lawan jenis. Menundukkan disini bukan lantas kemana saja bawaannya merem atau nunduk terus. Bisa-bisa dikira orang lagi cari uang receh yang jatuh ke jalan.

Menundukkan pandangan artinya kita melihat sesuatu itu no feeling. Natural dan biasa aja gitu loh. Termasuk melihat makhluk bernama pria. Emang sih, kalau dituruti siapa bisa nolak pemandangan cowok cool kayak Leonardo De Caprio atau Nicholas Saputra lewat di depan mata. Pengennya ekor mata ngikutin sampai si doski hilang dari pandangan. Ampe lupa tu di depan ada tiang listrik menanti. Wadauw kejedot. Sakit booo...

Makanya kalau bertemu dengan lawan jenis terus ada sesuatu perubahan di diri kita sehingga menimbulkan silah jinsi (perasaan yang mengarah pada hal yang istimewa), itulah saat tepat untuk segera membalikkan pandangan mata dari obyek semula. Pandangan pertama rezeki. Selanjutnya, ghadhul bashar dong.

So, kamu jadi paham kan, nggak bener tuh, kalo kita menjadi muslimah yang kaffah, terus dibilang nggak gaul. Kamu bisa kok gaul n modis, tapi tetap syar'i. Biar funky asal syar'i...

Selasa, November 21, 2006

Sebaik-baiknya teman adalah….

Selama kita hidup di dunia ini, kita akan selalu berhubungan dengan yang namanya "teman". Ada teman yang baik, ada pula teman yang buruk. Tapi kadang kita sulit membedakan, mana sih teman yang baik itu, atau mana teman yang buruk itu. Sebagaimana halnya kita sering sulit membedakan mana yang haq dan mana yang bathil.

Saudaraku, Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Allah memberikan petunjuk kepada kita melalui Al Qur'an yang dapat membedakan antara yang haq dan yang bathil. Dengan petunjuk Allah itu, kita bisa menemukan siapa sebenarnya teman yang baik, yang pantas kita jadikan sebagai teman.

Saudaraku, teman yang baik itu adalah orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah. Mereka itu adalah:

  1. Nabi-nabi
  2. Para Shiddiiqiin
  3. Orang-orang yang mati syahid
  4. Orang-orang yang sholeh

Mereka itulah sebaik-baiknya teman.

"Dan barangsiapa yang menta'ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang- orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya." (QS. An Nisaa': 69)

Sekarang para nabi sudah tiada. Oleh karena itu, carilah teman yang menjadikan nabi sebagai idola dan teladannya. Carilah teman yang menjadikan Al Qur'an dan As Sunnah sebagai panduan hidupnya. Carilah teman yang menjadikan para shiddiiqiin sebagai panutannya. Carilah teman yang memiliki cita-cita mati syahid. Dan carilah teman yang sholeh/ah.

Lalu bagaimana doanya agar kita diberi petunjuk agar menemukan teman-teman yang baik (alias teman-teman yang dianugerahi nikmat oleh Allah itu)? Sebenarnya doa itu sudah sering kita ucapkan ketika sholat, mari sama-sama kita buka dan baca surat Al Fatihah ayat 6-7:

"Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat." (QS. Al Fatihah: 6-7)


Aamiin Allahumma Aamiin...
Sumber :
Hudzaifah.org

Senin, November 20, 2006

Temanku, Tuhanku

“Ia mengatakan kepada teman dialognya: ‘Apakah kamu tidak bersyukur terhadap nikmat Tuhan yang telah menciptakanmu dari tanah, kemudian dari setetes sperma, kemudian membentukmu menjadi seorang pria?” (QS. Al Kahf : 37)

“ Wahai dua temanku sepenjara! Apakan Tuhan – tuhan yang beraneka ragam lebih baik, ataukah Allah Yang Esa Yang Perkasa?” (Qs. Yusuf : 39)

Kata teman, kawan, konco, sahabat dll mempunyai makna yang mirip dalam bahasa Indonesia, yaitu orang lain yang dekat dengan kita, yang tidak mempunyai hubungan darah. Selain itu, teman juga berarti pendamping dan dengan demikian; anak, ayah, ibu, mertua, kakek yang mempunyai hubungan keluarga dengan kita juga dapat menjadi teman.

Setiap orang mempunyai teman yang mendampinginya dalam hidup ini pada masa tertentu. Ada teman bermain yang menemani dalam bermain, atau teman bicara yang menemani dalam bicara, atau teman hidup yang menemani dalam hidup, baiik sebagai istri maupun sebagai suami. Ada teman kencan yang menemani kencan tetapi biasanya bukan diikat oleh tali perkawinan dan ini dilarang oleh Allah dan bertentangan dengan norma-norma yang hidup dalam masyarakat islam.

Kehidupan ini tidak mungkin dilalu tanpa teman, dan ini tidak hanya khusus bagi bangsa manusia, tetapi juga binatang dan makhluk-makhluk yang lain. Bahkan ada pertemanan antara dua makhluk yang berbeda, misalnya antara manusia dan binatang, antara manusia dan jin atau setan.

Dalam islam mausia boleh berteman dengan binatang tetapi dilarang berteman dengan iblis atau setan. Khusus setan, maka makhluk ini diciptakan Allah menjadi musush manusia. Allah meminta supaya manusia menjadikan setan sebagai musuh.

“Setan itu sesungguhnya adalah musuh kalian karena itu jadikanlah ia sebagai musuh.” (Qs. Fathir : 6)

Karena musuh maka pertemanan dengan iblis atau setan akan berakhir dengan kekecewaan bagi manusia. Satu saat iblis atau setan akan mencelakakan mausia. Banyak orang yang menjadi susah kehidupannya di kemudian hari, bahkan susah untuk menghembuskan nafas terakhir dikala sakaratulmaut karena pada masa mudanya berteman dengan setan atau iblis.

Kebutuhan kepada teman sering menjadi kebutuhan dasar. Anak kecil butuh bermain dan orang dewasa butuh relaksasi. Ia membutuhkan seseorang atau beberapa orang dalam bermain atau upaya menghilangkan stress dengan berlibur, olahraga dll. Ini tidak ada salahnya dilakukan selama permainan dan relaksasi tsb tidak bertentangan dengan ajaran islam.

Orang juga butuh teman bicara. Orang mungkin tidak butuh uang atau bantuan, tetapi sorang teman yang dapat mendengarkan pendapat dan keluhannya, atau paling tidak untuk memecah kesunyian hidup. Teman bicara ini mungkin isteri/suami, anak/cucu, teman dekat atau siapa sajaa yang dapat menjadi pendengar yang baik. Kadang-kadang kita tidak menemukan teman bicara padahal kita sangat membutuhkannya, jalan keluar terbaik adalah berbicara kepada Allah melalui munajat, do’a dan membaca Al Qur’an.

Setiap insan tentu butuh teman hidup, mempunyai istri/suami. Melakukan perkawinan adalah sunnah (hokum) kehidupan yang ditetapkan oleh Allah. Dengan menikah hidup akan tenang, kasih sayang akan terbentuk dan anak cucu penerus cita-cita dan generasi yang akan lahir. Karena itu memutuskan untuk hidup membujang sepanjang umur tidak sesuai dengan sunnah (hokum) kehidupan tsb.

Teman pun tidak satu jenisnya. Ada teman dekat dan ada teman jauh atau teman akrab dan teman biasa. Teman biasa adalah teman yang biasa kita temui di tempat kerja, kantor, sekolah, universitas, organisasi, partai politik, pemukiman dll. Kita berteman karena sering bertemu dan hidup dilingkungan yang sama. Sungguhpun dekat dimata teman seperti ini belum tentu dekat di hati.

Kitapun mengenal teman dekat/akrab yang selalu memperhatikan temannya. Teman dekat inilah yang dapat dijadikan tempat curahan hati (curhat). Bila hati yang santun dan bersahabat bertemu dengan hati yang lain yang juga santun dan bersahabat, maka keduanya akan melahirkan persahabatan kental.

Teman biasa adalah teman dikala suka tetapi teman akrab adalah teman dikala suka dan duka, dikala lapang dan sempit. Inilah sahabat karib, dari bahasa arab sahaabah qariibah yang selalu dekat dan menyertai, sekalupun berpisah secara fisik.

Pertemana yang terbaik adalah dengan Allah Pencipta manusia. Seorang nabi Allah yaitu Ibrahim a.s. juga disebut sebagai teman Allah (Khalilullah / Khalilurrahman)

“Allah telah mengambil Ibrahim sebagai teman.” (Qs. An nisa : 125)

Dengan menjadikan Allah sebagai teman hidup, orang tidak akan pernah kecewa. Teman akrab sekalipun tidak mungkin dihubungi terus menerus selama 24 jam, tetapi Allah bisa. Ia akan mendengarkan keluhan kita bila kita mengeluh kepada Nya. Teman akrab sekalipun tidak akan mungkin selalu dekat kepada kita, tetapi Allah lebih dekat kepada kita daripada batang leher kita sendiri (QS. Qaf : 16), bila kita dekat kepada Nya.

Pertemanan dengan Allah tidak mungkin diselingi pertemanan dengan iblis/setan. Baik setan iblis maupun setan manusia. Hal itu karena minyak tidak mungkin bersatu dengan air. Air tidak mungkin bersatu dengan api. Hak tidak mungkin bersatu dengan bathil. Kedzaliman tidak mungkin diaduk dengan keadilan dst.

Sebaliknya pertemanan dengan Allah juga tidak bias diselingi dengan pertemanan antara sesame manusia berdasarkan kebohongan, tipu daya, pengkhianatan, menggunting dalam lipatan dll. Pertemanan sesame manusia harus berdasarkan keridhaal Allah, karena Allah mencintai kita disebabkan perbuatan kita dan kita cinta kepada Nya karena Allah yang paling berhak untuk dicintai. Cinta kita kepada Nya membuat kita dekat dengan Nya dan Allah dekat dengan kita.

By : Dr. Rifyal Ka’bah, MA
Sumber : Buletin Dakwah No. 15 thn XXXIII/14 April 2006

Senin, November 13, 2006

Bersihkanlah hati agar meraih keberkahan-Nya

Hati yang bersih adalah hati yang akan membawa kebahagiaan, kesuksesan, kemenangan, kedamaian, dunia akhirat. Sungguh sukses beruntunglah hamba Allah yang suci hatinya. Hati yang suci akan mudah mengakses, menerima, hidayah - petunjuk Allah, rahmat - kasih sayang Allah, maghfirah - ampunan Allah, inayah - pertolongan Allah, dan berkah demi berkah.

Yang kedua, hati yang bersih, do'a pun menjadi mustijabah. Karena tidak ada hijab, tidak ada yang menghalangi dia dekat dengan Allah, karena bersih hatinya, bening.

Kemudian yang ketiga, hati yang bersih, subhanallah, kalau ia bicara, bicaranya pun menjadi hikmah. Qoulan tsakila, kata-kata yang berbobot.. Dan kalau hamba Allah yang hatinya bersih itu bicara, orang akan mendengar, orang akan menyimak, dan mudah mendapatkan hikmah, al ilmu dari mereka yang hatinya bersih.

Hati yang bersih, subhanallah, bersemainya sifat-sifat yang mulia. Ikhlash, sabar, syukur, qona'ah, tawadhu, tawakal, dan sebagainya, subur sekali sifat-sifat mulia tumbuh bersemai di hatinya. Kemudian hati yang bersih mudah meraih kekhusyu'an, mudah menerima ilham, intuisi-intuisi kebaikan dan perbaikan.

Hati yang bersih, subhanallah, akan mendapat kedudukan yang mulia, maqoomammahmuudah. Hati yang bersih, subhanallah, pusat perhatian para malaikat. Seperti bintang di tengah malam, menyala-nyala, mengundang perhatian para malaikat. Sehingga malaikat mendekatinya dan terus memujinya dan mendoakannya, agar ia terus dalam kebersihan, dalam kesucian di hadapan Allah.

Kemudian hati yang bersih, subhanallah, akan membuat hati itu bercahaya. Hati yang bercahaya akan menerangi pikirannya, bicaranya, penglihatannya, pendengarannya, tubuhnya bercahaya. Hai akhlak yang mulia. Kemudian ia bercahaya, maka siapapun yang mendekati dirinya akan merasakan berkah dari cahaya yang ada pada dirinya. Jangankan dia, orang mendekat dia pun akan merasakan keberkahan-Nya. Kalau suami hatinya bersih, istrinya pun mendapatkan keberkahan. Kalau istri hatinya bersih insya Allah suami pun mendapat keberkahan dari Allah. Kalau orang tua bersih hatinya insya Allah anak-anaknya pun mendapat keberkahan dari Allah. Kalau pemimpin hatinya bersih insya Allah rakyat pun mendapatkan keberkahan dari kebersihan hatinya.

Hati yang bersih, firasatnya sangat tajam. Hati yang bersih, syaithon tidak dapat menguasainya, silau mata syaithon melihat hati hamba Allah yang bersih, karena memancar cahaya.

Karena itu kita mohon kepada Allah agar hati kita dibersihkan oleh Allah SWT, diampuni dosa-dosa yang mengotori hati kita, diperbaiki akhlaq buruk yang menjadi hijab di hati kita. Sehingga dengan hati yang bersih kita mendapatkan keberkahan demi keberkahan

By : Ust. M. Arifin Ilham
Sumber : www.hudzaifah.org

Kamis, November 09, 2006

KISAH SEBATANG BAMBU

Sebatang bambu yang indah tumbuh di halaman rumah seorang petani. Batang bambu ini tumbuh tinggi menjulang di antara batang-batang bambu lainnya.
Suatu hari datanglah sang petani yang empunya pohon bambu itu.
Dia berkata kepada batang bambu," Wahai bambu, maukah engkau kupakai untuk menjadi pipa saluran air, yang sangat berguna untuk mengairi sawahku?"

Batang bambu menjawabnya, "Oh tentu aku mau bila dapat berguna bagi engkau, Tuan. Tapi ceritakan apa yang akan kau lakukan untuk membuatku menjadi pipa saluran air itu."
Sang petani menjawab, "Pertama, aku akan menebangmu untuk memisahkan engkau dari rumpunmu yang indah itu. Lalu aku akan membuang cabang-cabangmu yang dapat melukai orang yang memegangmu. Setelah itu aku akan membelah-belah engkau sesuai dengan keperluanku. Terakhir aku akan membuang sekat-sekat yang ada di dalam batangmu, supaya air dapat mengalir dengan lancar.

Apabila aku sudah selesai dengan pekerjaanku, engkau akan menjadi pipa yang akan mengalirkan air untuk mengairi sawahku sehingga padi yang kutanam dapat tumbuh dengan subur."

Mendengar hal ini, batang bambu lama terdiam..... , kemudian dia berkata kepada petani, "Tuan, tentu aku akan merasa sangat sakit ketika engkau menebangku. Juga pasti akan sakit ketika engkau membuang cabang-cabangku, bahkan lebih sakit lagi ketika engkau membelah-belah batangku yang indah ini, dan pasti tak tertahankan ketika engkau mengorek-ngorek bagian dalam tubuhku untuk membuang sekat-sekat penghalang itu. Apakah aku akan kuat melalui semua proses itu, Tuan?"

Petani menjawab batang bambu itu, " Wahai bambu, engkau pasti kuat melalui semua itu, karena aku memilihmu justru karena engkau yang paling kuat dari semua batang pada rumpun ini. Jadi tenanglah."

Akhirnya batang bambu itu menyerah, "Baiklah, Tuan. Aku ingin sekali berguna bagimu. Ini aku, tebanglah aku, perbuatlah sesuai dengan yang kau kehendaki."

Setelah petani selesai dengan pekerjaannya, batang bambu indah yang dulu hanya menjadi penghias halaman rumah petani, kini telah berubah menjadi pipa saluran air yang mengairi sawahnya sehingga padi dapat tumbuh dengan subur dan berbuah banyak.


Pernahkah kita berpikir bahwa dengan masalah yang datang silih berganti tak habis-habisnya, mungkin Allah sedang memproses kita untuk menjadi indah di hadapan-Nya? Sama seperti batang bambu itu, kita sedang ditempa, Allah sedang membuat kita sempurna untuk di pakai menjadi penyalur berkat. Dia sedang membuang kesombongan dan segala sifat kita yang tak berkenan bagi-Nya. Tapi jangan kuatir, kita pasti kuat karena Allah tak akan memberikan beban yang tak mampu kita pikul. Jadi maukah kita berserah pada kehendak Allah, membiarkan Dia bebas berkarya di dalam diri kita untuk menjadikan kita alat yang berguna bagi-Nya?

Seperti batang bambu itu, mari kita berkata, " Ini aku Allah, perbuatlah sesuai dengan yang Kau kehendaki."

Semoga Bermanfaat..dr Milis ESQWay 165

Selasa, Oktober 17, 2006

"9 Hal yang Menjadi Penghalang Kecintaan Manusia kepada Allah SWT"

By : Ust. Aam Amiruddin


1. Kefasikan (perbuatan fasiq)

Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik. (Q.S. 59 : 19)

2. Mengikuti Syahwat

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (Q.S. 3 : 14)

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya ? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? (Q.S.45 : 23)

3. Kesombongan

Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Maka orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat, hati mereka mengingkari (keesaan Allah), sedangkan mereka sendiri adalah orang-orang yang sombong. (Q.S. 16 : 22)

4. Kedzaliman

Dan siapakah yang lebih dzalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling daripadanya? Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa. (Q.S. 32 : 22)

5. Mendustakan

Kecelakaan besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina?, Kemudian Kami letakkan dia dalam tempat yang kokoh (rahim), sampai waktu yang ditentukan, lalu Kami tentukan (bentuknya), maka Kami-lah sebaik-baik yang menentukan. (Q.S.77 : 19-23)

6. Banyak Melakukan Maksiat

Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Hak) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu. (Q.S. 47 : 19)

Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka. (Q.S. 83 : 14)

7. Tidak Memahami Ajaran-Nya

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (Q.S. 17 : 36)

8. Melalaikan ajaran-ajaran Agama dalam Kehidupan

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (Q.S. 7 : 179)

9. Meragukan Kebenaran isi Al Qur an

Dan senantiasalah orang-orang kafir itu berada dalam keragu-raguan terhadap Al Qur'an, hingga datang kepada mereka saat (kematiannya) dengan tiba-tiba atau datang kepada mereka adzab hari kiamat. (Q.S. 22 : 55)

Jumat, Oktober 13, 2006

Bersumpah dengan waktu

Ustadz, apa arti Wal 'Ashri? Ada yang mengartikannya "Demi waktu Ashar" padahal yang saya ketahui "Demi Waktu" ? Mana yang benar? dan mengapa Allah swt bersumpah dengan waktu? Mohon penjelasannya.
Nani @ e-mail

Jawab :
Di antara para ahli tafsir ada yang mengartikan Al 'Ashr itu dengan waktu shalat Ashar, karenanya mereka mengartikan Wal 'Ashri itu Demi waktu 'Ashar. Sementara kebanyakan para ahli tafsir mengartikan Al 'Ashr adalah waktu yang di dalamnya berlangsung segala kejadian dan aktifitas. Penulis lebih cenderung memilih pendapat yang kedua karena lebih bersifat umum.

Pada surat Al 'Ashr, Allah swt. bersumpah Wal 'Ashri (Demi waktu), tujuannya agar kita memperhatikannya dengan seksama. Ingat, sesungguhnya manusia sangat terikat oleh dimensi waktu. sifat waktu itu dinamis, berjalan terus. keadaan manusia pun berubah sesuai dengan perjalanan waktu.

Contoh sederhana, bulan lalu kita masih mahasiswa, sekarang sudah bergelar sarjana atau bisa juga malah drop out. Tahun lalu bergelar ayah, sekarang menjadi kakek. Sepuluh tahun lalu kulit kita masih mulus, sekarang mulai keriput, dst. Jadi, sadar atau tidak perjalanan waktu akan mengubah kita.

Persoalannya, ke arah mana perubahan itu terjadi? Menurut suatu riwayat, ada tiga kemungkinan. Siapa yang kualitas (amal shaleh) hari ini sama dengan kemarin, itulah orang yang tertipu (oleh waktu). Siapa yang kualitas hari ini lebih buruk dibandingkan dengan hari kemarin, itulah orang yang terlaknat. Siapa yang kondisi hari ini lebih baik dari hari kemarin, Itulah orang yang mendapat rahmat. Al Qur'an menyebutkan, manusia akan sadar betapa mahalnya waktu saat malaikat maut menjemput.

Firman-Nya, "Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: 'Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematianku) sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yg shaleh." (Al Munaafiquun 63:10)

Ayat ini menegaskan bahwa ada orang yang baru tersadar kalau dirinya belum punya perbekalan akhirat saat dijemput malaikat maut. Orang macam ini memohon, "Ya Allah tangguhkan kematian saya sesaat saja agar punya kesempatan untuk beramal shaleh." Penyesalan ini tak berarti, kalau jatahnya sudah habis, sedetik pun tidak bisa diperpanjang.

Kematian itu misterius tapi pasti. silakan jangan percaya, tapi cepat atau lambat kita akan merasakannya. tdak ada yang tahu kecuali Allah. berapa jam, hari, bulan, atau tahun lagi sisa umur kita, semuanya misterius. Nah, mumpung malaikat maut belum menjemput, marilah kita isi waktu yang ada saat ini dengan ucapan dan perbuatan yang dicintai dan diridhai-Nya. Tiada detik yang dilalui kecuali diisi dengan amal shaleh.

Kalau semester ini tidak lulus, kita masih punya kesempatan pada semester berikutnya. Kalau tidak lulus dalam menggunakan waktu, tidak ada her mengulangi kehidupan, yang ada hanya penyesalan abadi. Di akhirat, ada yang berteriak saat selesai penghisaban,

"Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami (dari neraka), niscaya kami akan mengerjakan amal yang shaleh, berlainan dengan yang telah kami kerjakan." (Faathiir 35 : 37).

Terlambat! kehidupan sudah usai, tidak ada pengulangan. Na'udzubillah. karena itu, dalam surat Al 'Ashr Allah swt. mengingatkan, "Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan saling menasehati supaya menaati kebenaran dan saling menasehati supaya tetap dalam kesabaran."

Kesimpulannya, Allah bersumpah dengan waktu dengan tujuan untuk mengingatkan kita bahwa waktu merupakan modal yang paling utama. Karena itu isilah waktu yang masih ada pada geenggaman kita dengan berbagai karya dan amal shaleh.Wallahu A'lam

Sumber : www.percikan-iman.com

Kamis, Oktober 05, 2006

Indahnya Cahaya Mu

Oleh: Ummu Ghaida Muthmainnah (Teh Ninih)

Bissmillahirahmanirrahiim

Sahabat, apa yang terlintas ketika berbicara seputar wanita? banyak hal bukan?, meskipun identiknya dengan makhluk lemah, suka mendramatisir keadaan, rentan rasa, banyak masalah, tapi siapa takut? Tidak apa-apa kita identik dengan kondisi-kondisi tadi sejauh Allah dalam jiwa.

Melihat sifat-sifat wanita yang tadi tampaknya sesama muslimah harus dan senang ditemani, karena muslimah itu rentan yaitu lemah, karena feminimnya, sensitifnya, sehingga buat orang satu hal bukan masalah tapi buat dia bisa jadi sudah nangis bombay, sudah sedih sehingga membuat murung. Kadang karena berlebihannya perasaan seorang muslimah, menjadikan waktu yang sebenarnya berharga dengan keindahan Allah menjadi sirna.

Kalau lagi bete, jutek, sebel, sakit hati, dikecewakan dan dalam menanti si dia yang tak kunjung datang seolah Allah tidak berpihak, sudah tahajjud, shaum senin kamis, shaum daud, kok Allah tidak berpihak juga ya, pernah tidak seperti itu? Nah jadi kita ini bukan saja harus menyadari, namun juga harus bertanya pada diri sendiri, hidup ini buat apa? jawaban yang tepat untuk ibadah bukan? sebagaimana firman Allah dalam surat Adz-Dzariyaat:56 yang artinya "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah (ibadah) kepada-Ku".

Kalau begitu tidak ada alasan untuk bersedih, apalagi setelah kita merenungi hadits Rasulullah SAW yang kutipannya seperti ini, bahwa Allah sedang memilih kepada siapa cinta-Nya akan diberikan, kemudian Allah akan menguji hambanya dengan memberi cinta-Nya apabila hambanya dapat sabar dalam cobaannya itu Allah akan memilihnya untuk memberikan cinta-Nya dan apabila dia ikhlas, maka Allah akan menggugurkan dosa-dosanya dan ridho Allah ada beserta hambanya yang ridho dan ikhlas. Jadi kalau lagi susah hati itu bukan berarti Allah tidak berpihak, kenapa? karena Allah sedang menguji kita dalam keadaan tidak berkenan, tidak enak, tidak menyenangkan, cinta kita kepada Allah harus tetap tinggi. Adanya kesedihan yang muncul, adanya fikiran kondisi tersebut karena Allah tidak berpihak, jangan sampai membuat kita larut didalamnya, kenapa? karena kalau dalam keadaan begitu Allah memanggil kita kemudian wafat, kita bagaimana?

Dalam arti mengapa kita tidak melihat kenikmatan dan kebesaran Allah yang banyak jauh lebih banyak disekeliling kita. Kebiasaan kita hanya fokus pada masalah yang satu itu, padahal Allah sangat mengagungkan kaum perempuan, bahkan Allah telah menyiapkan surga khusus untuk kaum wanita, yaitu surga Allah yang ke lima, yang saat ini sudah dihuni oleh Fatimah az Zahra, Siti Hawa, Siti Asiyah yang walaupun suaminya telah berlaku dzalim padanya Siti Asiyah tetap taat pada suaminya dalam hal-hal yang tidak bertentangan dengan akidah sampai Siti Asiyah memohon dalam doanya kepada Allah, "Ya Rabb, jika Engkau tidak memberikan surgaku didunia ini maka berikanlah surga-Mu di akhirat kelak", sehingga terwujudlah sekarang bermukim di surga kelima, pada saat Nabi mi'raj, terlihat di sana Jibril menjelaskan pada Nabi bahwa inilah tempat wanita yang ada di dunia sebagai balasan perilaku baiknya didunia, semua kembali pada kita apakah kita mampu qonaah atau tidak dalam menerima qada dan qadar dari Allah SWT.

Siapa yang wajahnya jutek itu berarti kalbunya tidak sehat, katanya yakin Allah ada, sholatnya rajin, tapi sholatnya, ngajinya, asmaul husnanya tidak menetes ke kalbunya, itu namanya asbun (asal bunyi), dzikirnya kejar setoran, istighfar itu harus tertembak ke yang kita maksud, jadi seorang kalbu muslimah, jika ia kuat tertetes oleh Rabbani nya Allah, apapun yang menyerang dia, dia bertahan untuk bisa meraihnya. Kita harus mampu membaca apa yang diinginkan Allah, bukan yang diinginkan diri supaya kecewa. Bukankah Allah SWT sudah berfirman"….Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui".

Hal lain yang tidak jarang membuat kita kecewa karena tidak terwujud kebahagaiaan pada saat yang diharapkann, rentannya seorang muslimah di situ kalau dia terkecewakan dia runtuh sehingga banyak melakukan sensasi-sensasi. Ingatlah permasalahan demi permasalahan tidak akan pernah selesai sampai akhir hayat kita, baik mulai dari tingkat kita sampai ketingkatan ulama sekalipun past akan mengalami jatuh bangun dengan segudang permasalahan pada tingkatannya masing-masing, oleh karena itu betapa penting seorang muslimah untuk senantiasa riyadhoh (latihan) agar kekuatan mentalnya dalam setiap kekecewaan bukan hanya terobati tetapi dapat menjadi kokoh dan tegar dalam bersikap.

Tips untuk menghindari kekecewaan:

Pertama, jangan sekali-sekali menargetkan apa yang kita mau, selalu dalam segala hal harus ada judul didepannya yaitu dengan kata "Insya Allah", Kalau Allah ridho akan keinginan kita mudah-mudahan tercapai, kalau tidak jangan memaksakan karena tidak akan terwujud, senantiasa qonaah dan ikhlas. Kalau banyak keinginan siap-siap untuk kecewa, kalau sudah kecewa susah, menjeritlah hanya kepada Allah, Allah itu bisa menjadi sahabat, sampaikan kepada Allah segala keluh kesah kita, hanya kepada Allah dengan sepenuh keyakinan, kenapa? karena yang membuat rasa itu Allah, yang membuat senang juga Allah. Kita ikhtiar maksimal tetapi Allah yang memutuskan, kalau kalbu kita tertuntun pada saat marah, marahnya tidak akan lama, kata "Insya Allah" ini aplikasi dari sebuah tawakal kepada Allah.

Kedua, harus haqul yakin kepada Allah, contoh sudah taaruf, sudah menentukan hari pernikahan, tiba-tiba ada sesuatu hal yang menyebabkan batalnya pernikahan itu, kita harus membacanya sebagai pertolongan Allah.

Ketiga, kita harus pasrah, tawakal kepada Allah,.berpikir positif terus sehingga menuju cahaya Allah, kalau tujuannya sebatas mendapatkan seseorang, tentu akan berakhir setelah di dapat, kalau tidak dapat kecewa, tapi kalau tujuannya menuju cahaya Allahbisa dipastikan tidak akan ada kekecewaan karena itulah tujuan sesungguhnya dan tujuan sebenarnya, kalau hal ini sudah hadir di hati luar biasa indahnya.

Segala puji bagi Allah, karena kebesaran-Nya kita bisa menghujamkan pinta seorang hamba ini ke dalam kalbu kita, Insya Allah bermanfaat.

"Allahu Rabbi, aku minta izin bila suatu saat aku jatuh cinta, jangan biarkan cinta untuk-Mu berkurang, hingga membuat lalai akan adanya Engkau. Allahu Rabbi, aku punya pinta bila suatu saat aku jatuh cinta, penuhilah hatiku dengan bilangan cinta-Mu yang tak terbatas biar rasaku pada-Mu tetap utuh. Allahu Rabbi, izinkanlah bila suatu saat aku jatuh cinta pilihkan untukku seseorang yang hatinya penuh dengan kasih-Mu dan membuat semakin mengagumi-Mu".

"Allahu Rabbi, bila suatu saat aku jatuh cinta, pertemukanlah kami, berilah kami kesempatan untuk lebih mendekati cinta-Mu, Allahu Rabbi, pintaku terakhir adalah seandainya kujatuh cinta jangan pernah Kau palingkan wajah-Mu dariku anugerahkanlah aku cinta-Mu, cinta yang tak pernah pupus oleh waktu".

Sahabat yang dimuliakan Allah, Rabi'ah al Adawiyah, hanya merindukan Allah selama hidupnya, Rasulullah berkata, jika ada seseorang yang datang bermaksud meminangmu, maka bukan ummatku kalau tidak mengikuti sunnahku, tapi bagi yang tidak berkesempatan jangan pernah khawatir karena sudah pasti Allah mempunyai rahasia dibalik semuanya.

Kalbu seorang muslimah langkahnya bisa berkata tanpa berkata, perilakunya bisa dibaca oleh orang lain, indah kalbunya indah pula kata-katanya, atau justru sebaliknya, maka jika ingin hidup ini indah jadikanlah cahaya Allah sebagai tujuan kita, karena Allah begitu indah dan keindahannya akan terbiasa kepada kita jika Dia menghendaki.. Wallahualam bishawab