Rabu, April 19, 2006

TAPLAK

“ Bapak ada, Yun ?” tanpa permisi lebih dahulu, pemilik suara itu nyelonong masuk. Kontan saja hal ini membuat Yuni yang sedang asyik membaca UMMI jadi kelabakan. Secara reflek Yuni menyambar taplak meja yang ada dihadapannya.

“Lho... ditanya kok malah mainin taplak meja, Yun ?” untuk kesekian kalinya tetangga yang satu ini membuat Yuni salah tingkah.

“Oh... eh... Bapak ada dibelakang “ . Tunggu sebentar, ya Mas ! oh iya silahkan duduk dulu Mas ! kata Yuni basa basi. Sambil menahan senyum si Mas menerima tawaran Yuni.
Setelah memanggil Bapak , Yuni melanjutkan keasyikannya yang sempat tertunda.
Namun tak urung tragedi barusan mengurangi konsentrasinya.

“Astaghfirullah... untuk yang kesekian kalinya aku kecolongan,” gumam Yuni sambil melepas jilbab daruratnya dan menggantinya dengan jilbab kaos warna Pinknya. Dibiarkan si UMMI tergeletak diatas meja, lalu Yuni bergegas ke dapur untuk memuliakan tamunya. Sesudah mengenalan kaos kaki, Yuni menghidangkan jamuan keruang tamu.

“Lho.. taplak mejanya mana ? kok nggak dipasang lagi ?” goda si tetangga membuat wajah Yuni merah padam. Bapak yang tidak tau permasalahannya langsung menjawab “oh... taplaknya sedang dicuci, habis......” belum selesai perkataan yang diucapkan bapak, Yuni sudah ngeloyor masuk.

Diambilnya kembali UMMI yang sempat tertunda . Belum sempat dibuka lembar demi lembar majalah kesayangannya itu, pikir Yuni menerawang pada tragedi tadi. Bagaimana agar kejadian tadi tidak terulang kembali.

Rasanya malu pada “ DIA ” kalau hal tersebut menjadi tradisi, gumam hati Yuni. Memang bentuk rumah orang tua Yuni yang berpintu lurus dari depan hingga kebelakang ini, membuat jilbaber yang berada didalamnya harus ekstra hati - hati untuk masalah penutupan aurat. Hal ini diperparah dengan kebiasaan tetangga dan beberapa kawan - kawan adiknya yang sering ngeloyor masuk tanpa permisi.

Alhamdulillah, ada akal nich ! bergegas Yuni keluar menuju kios “MAFAZA” yang tidak seberapa jauh. Belum ada sejam Yuni sudah kembali sambil membawa sebuah stiker. Dilihatnya ruang tamu sudah kosong. Ah... mumpung lagi sepi langsung dipasang saja, batin Yuni. Setelah mengambil kursi, Yuni memasang stiker tersebut pada tempat yang strategis. Dengan mengucapkan Basmallah diletakkanya stiker itu pada pintu masuk bagian atas. Mudah - mudahan ada manfaatnya, harap Yuni.

Ternyata harapan Yuni tidak sia - sia, terbukti setelah pemasangan stiker bertuliskan jangan masuk sebelum memberi salam. Tragedi jilbab taplak meja tidak terulang lagi.

0 komentar: