Rabu, Desember 19, 2007

Cinta Ini Milikmu Ibu

“Yun, bangun… bentar lagi azan subuh, sarapannya nanti ibu taruh di meja bawah ya..” tradisi ini dah berlangsung bertahun-tahun, sekarang usiaku dah kepala 3 tapi kebiasaan ibu tak pernah berubah. Pernah suatu hari aku berkata “ibu sayang.. ga usah repot-repot bangunin aku dan siapin sarapan lagi, aku dah dewasa, aku bisa bangun dan menyiapkan sarapan sendiri”. Seketika itu wajah ibu berubah, beliau terdiam dan kelihatan sedih.

Ingin kubalas jasa ibu selama ini dengan hasil keringatku. Raut sedih itu tak bisa disembunyikan.. Kenapa ibu mudah sekali sedih? Mungkin sekarang fasenya aku mengalami kesulitan memahami ibu karena dari artikel yang pernah aku baca, orang yang sudah lanjut usia bisa sangat sensitive dan cenderung bersikap kekanak-kanakan, tapi entahlah.. niatku ingin membahagiakan malah membuat ibu sedih.

Suatu hari kuberanikan diri untuk bertanya “Bu, maafin aku ya telah menyakiti perasaan ibu, apa yang bikin ibu sedih? Kulihat ada genangan air disudut matanya, dengan terbata beliau berkata, “tiba-tiba ibu merasa kamu dah tidak membutuhkan ibu lagi, kamu udah dewasa, udah bisa menghidupi diri sendiri, ibu tidak boleh lagi menyiapkan sarapan kamu, semua sudah bisa kamu kerjakan sendiri.”
Ya Allah ternyata untuk seorang ibu .. bersusah payah melayani anaknya adalah sebuah kebahagiaan, aku tak pernah menyadari kalo niat membahagiakannya justru membuat beliau sedih.

Diam-diam aku bermuhasabah.. Apa yang telah aku persembahkan untuk ibu dalam usiaku sekarang? Adakah ibu bahagia dan bangga dengan aku? Ketika aku tanyakan pada ibu, beliau menjawab “banyak kebahagian yang dah kamu berikan, kamu tumbuh sehat, lucu kerika bayi, berprestasi di sekolah, setelah dewasa kamu berperilaku seharusnya seorang hambah dan mempunyai penghasilan sendiri semua itu merupakan kebahagiaan ibu. Aku hanya bisa berucap “Ampunilah aku ya Allah kalau selama ini sedikit sekali ketulusan yang telah aku berikan pada ibu disaat beliau menginginkan sesuatu”.

Cinta ini milikmu ibu…Aku masih membutuhkanmu.. Maafkan aku yang belum bisa menjabarkan arti kebahagian buat dirimu..
“Ya Allah, cintai ibuku, beri aku kesempatan untuk membahagiakan beliau.. dan jika kelak KAU panggil beliau, panggilah dalam keaadaan khusul khatimah, titip ibuku ya Rahman”.

1 komentar:

vivi mengatakan...

Teteh...

makasih ya atas tulisannya, ana jadi inget bunda...