Rabu, April 16, 2008

Sehat, Mahkota Hidup Yang Terabaikan

“Ya Allah, hamba memohon kehadirat-Mu kesehatan yang prima, kehormatan diri, sifat amanah dan budi pekerti yang baik, serta perasaan ridho terhadap qadar.” (HR. Imam al-Bazzar dan al-Khara’ithi dalam Makarimul Akhlaq, Thabarani dalam al-kabir dari Ibnu ‘Amr dan Ibnu Qani’ dari Zayd bin Kharijah. Hadits Hasan, sebagaimana tercantum dalam Faidhul Qadir, Imam al-Manawi, Huz 11:139 no.1519)

Dari sudut ajaran, bisa disebut dienul Islamlah yang paling banyak menganjurkan penganutnya untuk senantiasa menjaga kesehatan. Meskipun ditingkat pelaksanaan, dengan jujur harus diakui, tingkat kesehatan kaum muslimin masih memprihatinkan. Karena kesehatan memeng berhubungan dengan ekonomi, gaya hidup dan tingkat pendidikan.

Kesehatan bagi orang mu’min adalah ruh ilmu, iman dan amal. Manusia punya tugas dan sekian banyak kewajiban, dimana kesehatan adalah nikmat, sedang badan adalah amanah yang harus dijaga agar tetap prima dan sukses dalam menunaikan tugas. Sebab ketika sakit, tentu saja pelaksanaan ilmu dan amal seorang muslim menjadi tidak sempurna. Padahal ilmu dan amal adalah dua hal utama dalam meningkatkan iman dan taqwa seorang muslim, secara signifikan. Amal qawli yang lisani maupun amal fi’il yang arkani, ketika sakit jelas terganggu, sedang keduanya hampir tak pernah lepas dari keseharian orang mukmin.

Sakit juga menyebabkan pekerjaan sehari-hari terbengkalai, tugas-tugas pentingpun terlantar, jadwal kegiatan berantakan, janji- janji menjadi tertunda. Sakit membuat segala aktifitas nyaris lumpuh, kenyamanan kita terusik. Sakit mempengaruhi laju perkembangan keuangan atau roda ekonomi keluarga. Dan dalam sakit itu tiba-tiba kita merasa ada nikmat yang hilang dalam diri kita yaitu nikmat sehat.

Sehat dan waktu luang memang tergolong nikmat Allah yang paling sering diabaikan oleh manusia dimuka bumi ini. Dua nikmat ini umumnya baru terasa setelah kita sakit, kendati kesadaran itu banyak dibalut oleh perasaan kecewa bercampur risau dengan sedikit rasa penyesalan yang meskipun belum terlambat. Dan disinilah lidah manusia sering keseleo “memprotes takdir” akibat cerobor dalam ilmu disamping tidak yakin dengan sandaran tawakalnya. Hatinya mengerutu, mulutnya jadi comel, perasaan jadi dongkol dan serba minta dilayani.

Ibnu Abbas ra meriwayatkan, Rasululloh saw bersabda : “Ada dua nikmat yang selalu diabaikan oleh orang banyak, yaitu nikmat sehat dan nikmat waktu luang.” (HR. Bukhari, Turmudzi, Ibnu Majah dan Ahmad).

Pada sisi ini sehat adalah mahkota bagi kehidupan manusia yang setiap waktu harus dijaga. Melepaskan mahkota kesehatan berarti menjerumuskan hidupnya pada kesengsaraan. Ibadah jadi tidak nyaman, dikerjakan tidak sebagaimana ketika sehat. Meskipun sebenarnya sakit adalah bagian dari sunatullah dan qadha’ kehidupan yang Allah turunkan sebagai ujian dan penebus dosa orang-orang mukmin.

Dalam Akhlaq islam, sehat termasuk dalam 4 (empat) macam kategori nikmat yang menjadi kata kunci penentu bahagia tidaknya seseorang. Empat nikmat itu adalah : pertama : Keutamaan jiwa (fadha’il an-nafs) terletak pada iman dan akhlaq karimah (husnul khuluq). kedua : Keutaman badan (fadha’il al-badan) terletak pada kesehatan fisik dengan segala bagiannya. ketiga : Keutamaan penyerta bagi badan (an-Ni’am al-Muthifah bi al-Badan) terletak pada harta, ketekunan dan keseriusan, juga keahlian (sandang, pangan dan papan). keempat : Faktor pendukung lain yang sejenis, seperti factor hidayah, petunjuk dan bantuan dari Allah disamping tentunya dukungan usaha dari manusia.

Ringkasnya, sehat hendaknya menjadi gaya hidup dan tingkah laku sehari-hari masyarakat dalam melakukan segaa aktifitas. Seseorang disebut sehat manakala pola hidup kesehariannya berdasarkan aturan, baik aturan agama, aturan Negara (hokum) dan aturan kesehatan (lingkungan). Dari sini makin terasa bahwa sehat adalah kebutuhan dasar yang harus diperjuangkan.

Organisasi kesehatan dunia (WHO) pada tahun 1994 memberikan batasan sehat pada empat dimensi : sehat dalam arti fisik (tubuh), sehat dalam arti psikologik (mental), sehat dalam arti sosial (hubungan kemasyarakatan) dan sehat dalam arti spiritual (agama). Semua dimensi sehat itu umumnya dipengaruhi oleh cara pandang kehidupan seseorang baik terhadap pedoman hidup, tujuan hidup, dasar hidup, kawan dan lawan hidup. Gaya hidup juga dipengaruhi oleh kemajuan infrastruktur dan fasilitas modern yang dimiliki, disamping tentunya latarbelakang agama, pendidikan, etnis dan lingkungan tempat tinggal.

Undang-undang No.23 tahun 1992 mendefinisikankesehatan dengan standar “Keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan social yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis”. Atas dasar definesi UU kesehatan ini, maka manusia selalu dilihat sebagai satu kesatuan yang utuh (bokistik), mwliputi sehat jasmaniah (organobiologik), sehat jiwa (psikoedukatif) dan sehat secara social (sosio cultural).. Semua dimensi sehat baik dari WHO maupun UU kesehatan ini menjadi bermakna dan punya nilai jika paying agama (dienul islam) menjadi ukuran utamanya.

Salah satu cara untuk mencapai jiwa yang sehat adalah dengan penilaian diri, yaitu bagaimana seseorang melihat dirinya yang berkaitan erat dengan tiga cara : cara berfikir, cara berperan dan cara bertindak. Sebaliknya penilaian diri seseorang dipandang negative (baca : tidak waras) apabila seseorang cenderung merasa hidup ini sulit dikendalikan, selalu memikirkan kegagalan, merasa stress dan selalu menghindari tantangan hidup.

Salah seorang sahabat Rasululloh saw yang sangat peduli terhadap kesehatan adalah Ibnu Umar ra. Ibnu Umar ra adalah sosok sahabat yang sangat tinggi penjagaannya terhadap halal-haram baik dalam memilih makanan mulai dari status halalan thayyibannya sampai pada jenis makanan itu sendiri.. Ibnu Umar ra suka melakukan relaksasi berfikir menjelang tidur, mencontoh pola muhasabah yang dilakukan ayahnya, Umar bin Khatthab ra. Semoga Anda juga demikian, Insyaallah.

Sumber : Buletin Dakwah No.30 th.33 – 3 Rajab 1427H/28 Juli 2006M

Selasa, April 01, 2008

Beranikan untuk memulai

Alkisah.. Seorang pembuat jam tangan berkata kepada jam yang sedang dibuatnya, “Hai jam, apakah kamu sanggup untuk berdetak sebanyak 31.104.000 kali selama setahun?” “Haa..?” kata jam terperanjat, “mana mungkin?”

Pembuat jam tersebut bertanya kembali, “Bagaimana kalau 86.400 kali dalam sehari?”. Lalu jam pun menjawab dengan penuh keraguan “Jarum - jarumku kurus seperti ini, mana sanggup aku melakukannya?”

Pembuat jam tidak menyerah untuk bertanya lagi, “Bagaimana kalau 3600 kali dalam satu jam?”. Jam tersebut kembali menjawab, “Dalam satu jam harus berdetak 3600 kali? Wah.. banyak sekali”

Pembuat jam itu dengan penuh kesabaran kembali bicara kepada si jam, “Kalau begitu, sanggupkah kamu berdetak satu kali saja setiap detik?”. Lalu si jam menjawab dengan penuh antusias “Naaaa… kalau begitu, aku sih sanggup…!!!

Maka setelah selesai dibuat, jam itu berdetak satu kali setiap detik. Tanpa terasa, detik demi detik terus berlalu dan jam itu sungguh luar biasa karena ternyata selama satu tahun penuh dia telah berdetak tanpa henti sebanyak 31.104.000 kali.

--o0o--


Segala sesuatu yang seringkali kita anggap berat atau tidak mungkin untuk dilakukan, ternyata dapat dilakukan dengan mudah bila kita berani memulai menjalankannya dan keberhasilan besar akan dapat diperoleh dengan meraih dan mengumpulkan keberhasilan - keberhasilan kecil.

Selasa, Maret 04, 2008

Insya Allah

Kalimat terpopuler di kalangan umat Islam, setelah salam (assalamu'alaikum), adalah insya-Allah. Kalimat ini diucapkan saat seseorang ingin melakukan sesuatu atau berjanji.

''Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu 'sesungguhnya aku akan mengerjakan esok,' kecuali (dengan mengucapkan) insya Allah. Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah 'mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini.'' (QS Al-Kahfi: 23-24).

Secara literal, kalimat insya Allah berarti bila Allah menghendaki. Sayangnya, kalimat ini kerap disalahgunakan.

Ada dua bentuk penyalahgunaan :

  1. Insya Allah dipakai untuk menunjukkan janji yang longgar dan komitmen yang rendah. Insya Allah hanya pengganti dari kalimat, 'tidak janji deh.' Ini keliru sebab nama Allah SWT dijadikan sebagai pembenaran atas kemalasan menepati janji.
  2. Segala tindakan ditentukan oleh Allah (fatalisme). Artinya, manusia tidak memiliki ruang kebebasan untuk bertindak. Paham ini tidak tepat karena Allah menganugerahi manusia kebebasan berkehendak. Bagaimana seseorang mempertanggungjawabkan perbuatan - perbuatan bila seluruh tindakannya ditentukan oleh Allah?


Sebenarnya, insya Allah memiliki falsafah yang mendalam.

1. Pertama, dalam kalimat insya Allah tersimpan keyakinan yang kukuh, bahwa Allah SWT terlibat dan punya andil dalam segala tindak-tanduk manusia. Kesadaran akan kehadiran Allah SWT ini akan memupuk tumbuhnya moral yang luhur (akhlaq al-karimah).

Hanya orang-orang yang merasa dirinya senantiasa ditatap Ilahi saja yang akan mampu menjaga dari segala bentuk pelanggaran. Inilah yang disebut oleh Rasulullah SAW sebagai ihsan, yaitu, ''Engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesunggguhnya Dia melihatmu.'' (HR Muslim).

2. Ekspresi kerendahhatian (tawadhu'). Seseorang yang memastikan diri bahwa besok akan bertindak sesuatu (sesungguhnya) terselip dalam relung jiwanya sifat kibr (sombong). Termasuk sikap, bahwa dirinya penentu segala sesuatu di masa depan tanpa ada peran Allah SWT. Seharusnya, orang yang berucap insya Allah adalah orang yang sadar bahwa Allah SWT selalu membimbing hamba-Nya.

3. Perpaduan usaha dan penyerahan diri. Dalam kata insya Allah terkandung suatu ketidakpastian akan apa yang terjadi esok. Karenanya, keyakinan ini akan melahirkan motivasi, mempersiapkan secara sempurna hal-hal yang menciptakan kesuksesan dari yang direncanakan, serta memastikan apa yang akan terjadi seperti yang dikehendaki. (QS Al-Hasyr: 18).


(M Subhi-Ibrahimi , HIKMAH : Republika. Sumber : http://www.kebunhikmah.com

Senin, Februari 25, 2008

Tawakal

Tawakal adalah salah satu sarana yang bisa mendatangkan kebaikan serta menghindari kerusakan. Ini berlawanan dengan pendapat yang mengatakan bahwa tawakal hanyalah sekedar ibadah yang mendatangkan pahala bagi hamba yang melakukannya, seperti orang yang melempar jumrah.
Juga berlawanan dengan pendapat bahwasannya tawakal berarti meniadakan prinsip sebab musabab dalam penciptaan serta urusan sebagaimana pendapat dari golongan mutakalimin seperti Al-Asy’ari dan lainnya.


Ibnul Qayyim mendefinisikan tawakal sebagai : “Sebab yang paling utama yang bisa mempertahankan seorang hamba ketika ia tak memiliki kekuatan dari serangan makhluk Allah lainnya yang menindas serta memusuhinya.” seperti itu karena ia telah menjadikan Allah pelindungnya atau yang memberinya kecukupan. Maka barang siapa yang menjadikan Allah pelindungnya serta yang memberinya kecukupan maka musuhnya itu tak akan bisa mendatangkan bahaya padanya (Bada’I Al-Fawa’id: 2/268).


Bukti terbaik adalah kejadian nyata. Telah diriwayatkan oleh Al Bukhari yang dinasadkan kepada Ibnu Abbas : Hasbunnallahu wa nima Al-wakiil, yang artinya : Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung.
Ungkapan ini diucapkan Nabi Ibrahim saat tubuhnya dilemparkan ke tengah-tengah api yang membara. Juga diungkapkan oleh Nabi Muhammad SAW ketika dikatakan kepadanya : “Sesungguhnya orang-orang musryik telah berencana membunuhmu, maka waspadalah engkau terhadap mereka.” (Diriwiyatkan oleh Al Bukhari dalam bab Tafsir 4563, Fathul Bari :8/77)


Dan diriwiyatkan oleh Al Baihaqi yang disanadkan kepada Bastar bin Harits, ia berkata : ketika Nabi Ibrahim digotong untuk dilemparkan kedalam api, jibril memperlihatan diri padanya dan berkata : “Wahai Ibrahim, apakah kamu perlu bantuan?” Ibrahim menjawab : “Jika kepada engkau, maka saya tidak perlu bantuan,” (Diriwayatkn oleh Ibni Jarir dalam Tafsirnya 17/45, Al-Baqhwi dalam tafsirnya 4/243). Ini adalah bagian dari kesempurnaan tawakal yang hanya kepada Allah semata tanpa lainnya.


Apa yang terjadi setelah itu? Allah berfirman : “ Kami berfirman : Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim’, mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka orang-orang yang paling merugi”. (QS. Al Anbiya : 69-70).


Dan firman Allah tentang orang-orang beriman : “Hai orang-orang yang beriman, ingatlah kamu akan nikmat Allah (yang diberikan-Nya) kepadamu, di waktu suatu kaum bermaksud hendak menggerakkan tangannya kepadamu (untuk berbuat jahat), maka Allah menahan tangan mereka dari kamu, Dan bertakwalah kepada Allah, dan hanya kepada Allah sajalah orang-orang mukmin itu harus bertawakal.” (QS.Al Maidah(3): 1).


Kandungan dari ayat ini adalah bahwa sikap tawakal kepada Allah yang ada dalam hati orang-orang yang beriman adalah salah satu sebab Allah menahan tangan orang-orang kafir yang hendak mencelakakan orang-orang yang beriman, Allah menggagalkan apa yang diingini oleh orang-orang kafir terhadap orang-orang beriman.


(Dikutip dari buku Rahasia tawakal & sebab akibat oleh Dr. Abdullah bin Umar Ad-Dumaiji.)
Sumber : Dialog Jum’at Tabloid Republika, Jum’at 23 April 2004

Selasa, Februari 05, 2008

Agar Esok Tak Lagi Kelam

Memang, tidak mudah menata masa depan. Seperti juga tidak gampang menyingkapi masa lalu. Segalanya perlu keseriusan. Harus ada kehendak yang kokoh, kemauan yang bertenaga, untuk bertindak dan bersikap sebijak mungkin.

Langkah berikut Insyaallah bisa menjadi sedikit kerangka, bagaimana seharusnya kita menyambung kebaikan masa lalu dengan kebaikan masa depan. Atau menghapus keburukan hari kemarin dengan kebaikan hari ini dan juga hari kemudian.

* Yakini segala sesuatu terjadi atas ijin Allah.

Hidup ini pemberian. Bahkan segala yang melengkapi dan menopangnya juga pemberian. Allah sajalah yang Maha Pencipta. Apa yang kita terima dari beragam warna hidup ini, adalah tanda-tanda kekuasaan Allah semata. Tugas kita hanya berusaha sebaik mungkin.

“Berusahalah mengejar apa-apa yang bermanfaat untuk dirimu. Janganlah engkau bersikap lemah. Bila engkau ditimpa sesuatu, janganlah engkau berkata, ‘seandainya aku berbuat begini atau begitu,’ tetapi katakan, ‘segalanya adalah telah Allah tentukan. Apa yang Ia kehendaki pasti Ia lakukan.’ Karena sesungguhnya kata-kata ; seandainya itu bisa membuka pintu syetan” (HR. Ibnu Majah)

* Perbanyak Istigfar.

Seluruh hidup kita mestinya kita hiasi dengan istigfar. Terlalu sedikit karya dan amal yang telah kita kumpulkan. Tidak ada hari lewat, kecuali pasti celah-celah keburukan. Bilapun kita telah merasa berbuat banyak kebaikan, tetap saja kita harus memohon ampunan, setidaknya untuk perasaan telah berbuat banyak itu sendiri. Istigfar juga bermanfaat sebagai pencerah hati sehingga bisa melangkah kedepan lebih baik.

“Maka Aku katakan kepada mereka, mohonlah ampun kepada Tuhan kalian, sesungguhnyaDia maha Pengampun.” (QS. Nuh : 10)

* Manfaatkan kesempatan, sekecil apapun untuk berbuat baik.

Sekecil apapun kesempatan untuk berbuat baik harus kita lakukan. Melakukan hal-hal yang bermanfaat dan membuang jauh apa yang tidak berguna. Selagi umur masih ada. Selagi waktu masih tersedia. Seringkali kesempatan tidak datang untuk yang kedua kali. Kita harus ingat sebesar apa yang telah kita kumpulkan didunia, sebesar itu pula apa yang akan kita bawa kehadapan Allah.

* Buatlah Rencana Yang Baik.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Hasyr : 18)

* Selalu berdo’a kepada Allah

Do’a adalah kekuatan bahkan intinya. Usaha dan ikhtiar kita tak ada artinya tanpa do’a. Do’a merupakan sandaran bagi tegak berdiri kita. Bagi lempeng lurus langkah kita. Do’a juga merupakan penyambung harapan-harapan kita kepada Allah, sampai akhir hayat kita. Yang tidak pernah berdo’a kepada Allah, berarti tidak pernah berharap kepada-Nya. Dan yang tidak pernah berharap kepada-Nya, Allahpun tidak berharap kepada orang itu.

Takut dosa dan berharap kepada Allah, sesungguhnya inti dari segala dasar-dasar kehidupan. Dengan takut dosa kita akan mendekat kepada Allah. Dengan berharap kepada Allah kitapun akan mendekat kepada-Nya.

Kini tinggal bagaimana kita berjuang secara sungguh-sungguh. Untuk menatap hari esok yang lebih menjanjikan. Sebagian dari warna masa depan itu, kembali kepada pilihan-pilihan kita hari ini.

(Dikutip dari majalah Tarbawi edisi 36 th.3)