Selasa, Januari 26, 2010

KUNCI-KUNCI KEBAIKAN

Ibnu Qayyim al-Jauziyah berkata,
"Allah telah menjadikan kunci sebagai pembuka bagi setiap perkara yang dituntut. Dia menjadikan kunci shalat adalah besuci, sebagaimana sabda Nabi SAW,

"Kunci shalat adalah bersuci."1

Dan kunci haji adalah ihram. Kunci kebajikan adalah kejujuran. Kunci surga adalah tauhid. Kunci ilmu adalah sikap yang baik dalam bertanya dan mendengar. Kunci pertolongan dan kemenangan adalah kesabaran. Kunci bertambahnya nikmat adalah syukur. Kunci kewalian adalah kecintaan dan dzikir. Kunci keberuntungan adalah takwa. Kunci taufiq adalah raghbah (rasa harap yang disertai dengan amalan) dan rahbah (rasa takut yang disertai dengan amalan).

Kunci ijabah (sambutan Allah) adalah doa. Kunci cinta akhirat adalah zuhud terhaap dunia. Kunci iman adalah memikirkan perkara yang Allah serukan untukdifikirkan oleh hamba-hambaNya. Kunci untuk menjumpai Allah adalah ketundukan hati dan keselamatan hati untuk-Nya, ikhlas kepada-Nya dalam cinta, benci, berbuat dan meninggalkan sesuatu. Kunci hidupnya hati adalah tadabbur (memperhatikan dan merenungi) al-Qur'an, merendahkan diri waktu sahar (waktu malam sebelum fajar) dan meninggalkan dosa.

Kunci mendapatkan rahmat adalah berbuat ihsan dalam beribadah kepada al-Khaliq (Sang Pencipta) dan berusaha memberi manfaat kepada hamba-hambaNya. Kunci rezeki adalah usaha yang disertai dengan istighfar (permohonan ampun kepada Allah) dan takwa, kunci kemuliaan adalah ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Kunci persiapan diri untuk akhirat adalah memperpendek angan-angan. Dan kunci segala kebaikan adalah kecintaan kepada Allah dan negri akhirat. Sedangkan kunci segala keburukan adalah cinta dunia dan panjang angan-angan.

Ini adalah permasalahan agung yang merupakan permasalahan ilmu paling bermanfaat. Yaitu mengetahui kunci-kunci kebaikan dan keburukan. Tidak ada yang mendapatkan taufik untuk mengetahui dan memperhatikannya kecuali orang yang memiliki bagian dan taufik yang besar."2

Apa yang beliau sebutkan di atas, tidaklah mencakup seluruh kunci-kunci kebaikan. Karena kita tahu bahwa kebaikan itu sendiri tidak terbatas pada apa yang beliau sebutkan. Meski demikian, perkataan itu cukup untuk memberikan gambaran kepada kita bahwa setiap kebaikan pasti ada kunci-kuncinya. Dan beliau juga menyebutkan perkara-perkara agung yang sangat dibutuhkan seorang muslim yang beriman.
Di sana masih ada kunci-kunci kebaikan yang disebutkan pada ulama yang lain. Di antaranya.3

Aun bin Abdillah berkata, "Perhatian seorang hamba terhadap dosanya akan mendorongnya untuk meninggalkan dosa itu. Dan penyesalannya atas dosa itu adalah kunci untuk bertaubat. Seorang hamba senantiasa memperhatikan dosa yang dilakukannya sehingga hal itu menjadi lebih bermanfaat baginya dari pada sebagian kebaikan-kebaikanny a."4

Sufyan bin Uyainah berkata, "Tafakkur (berfikir) adalah kunci rahmat. Tidakkah kamu lihat seseorang berfikir lalu bertaubat."5

Al-Hasan berkata, "Kunci lautan adalah perahu-perahu. Kunci bumi adalah jalan-jalan. Sedangkan kunci langit adalah doa."6

Sahl bin Abdillah berkata, "Meninggalkan hawa nafsu adalah kunci surga, berdasarkan firman Allah ta'ala,

Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabb-nya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)7."8

Sufyan berkata, "Dahulu dikatan, diam yang lama adalah kunci ibadah."9

Syaikhul Islam berkata, "Maka kejujuran adalah kunci segala kebaikan, sebagaimana dusta adalah kunci segala keburukan."10

Beliau juga berkata, "Doa adalah kunci segala kebaikan."11

Maka dengan memohon pertolongan kepada Allah, kita akan perinci sebagian dari kunci-kunci kebaikan tersebut, dengan harapan bisa memberi manfaat bagi kita semua.


  1. Riwayat Abu Daud (no. 61) dan at-Tirmidzi (no. 3). Dishahihkan al-Albani dalam Shahih al-Jami' (no. 5885)
  2. Al-Jawabul Kafi (hlm. 100)
  3. Nukilan-nukilan berikut diambil dari risalah Syekh Abdurrazaq al-Badr yang berjudul Mafatihul Khair.
  4. Diriwayatkan oleh Abu Nu'aim dalam al-Hilyah (4/251)
  5. Diriwayatkan oleh Abu asy-Syaikh dalam al-Azhomah (no. 39)
  6. Disebutkan oleh al-Qurthubi dalam tafsirnya (14/53)
  7. Surat an-Naziat ayat 40-41.
  8. Disebutkan oleh al-Qurthubi dalam tafsirnya (19/135)
  9. Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunya dalam ash-Shomt (no. 136)
  10. Al-Istiqomah (1/467)
  11. Lihat Majmu' al-Fatawa (10/661)

Sumber : Email seorang kawan

Selasa, Desember 22, 2009

Mereka Berbakti Kepada Sang Ibu

Ibu adalah sosok wanita istimewa bagi seseorang. Seorang lelaki tak akan lahir ke bumi kalau tidak ada seorang wanita bernama ibu. Tanpa jengah oleh tuduhan ngawur kaum feminis yang menganggap Islam bersikap diskriminatif terhadap wanita, Islam sudah menekankan untuk menghormati dan memuliakan kaum wanita. Bagaimana berbakti kepada Ibu?

Sejarah hidup para ulama as Salaf bertabur dengan kisah-kisah bakti kepada sang ibu. Bila dicermati bahkan sikap mereka nyaris mustahil dilakukan oleh orang-orang biasa. Memang, mereka bukanlah manusia biasa. Kehidupan mereka sarat manikam hikmah yang sangat berharga untuk dijadikan sebagai butiran-butiran keteladanan.

Muhammad bin al-Mukandar menuturkan, “Saat saudaraku, Umar, sibuk menghabiskan malamnya untuk melakukan shalat, aku justru sibuk memijat-mijat kaki ibuku. Aku tidak rela seandainya malamku digantikan dengan malam seperti yang dia lakukan.”a

Shalat malam adalah ibadah yang penuh keutamaan, bahkan sebuah tradisi orang shalih. Berbakti kepada seorang ibu, ternyata melebihi nilai ibadah tersebut. Lebih-lebih bila atas permintaan sang ibu.

Ibnu Aun pernah bercerita, “Syahdan, ada seorang lelaki yang ingin menemui Muhammad bin Sirin di rumah ibunya. Orang itu bertanya, ‘Sebenarnya apa yang dikerjakan Muhammad di rumah ini? Ada keperluan apa sehingga sering kemari?’ Orang-orang di situ menjawab, ‘Tidak ada. Cuma demikianlah kerjanya, selalu terlihat sibuk bila berada di rumah ibunya.”b

Para ulama as Salaf demikian besar perhatiannya terhadap kepentingan dan kebahagiaan seorang ibu. Bila perlu berusaha mencari apa saja yang bisa dikerjakan, demi menyenangkan sang ibu, meski harus “membuang” banyak waktu.

Hafshah binti Sirin berkata, “Putraku Hudzail biasa mengumpulkan kayu bakar pada musim panas untuk dikuliti. Ia juga mengambil bambu dan membelahnya. Aku tinggal mendapatkan enaknya saja. Bila datang musim dingin, ia membawakan tungku dan meletakkan di belakang punggungku, sementara aku sendiri berdiam di tempat shalatku. Setelah itu ia duduk, membakar kayu bakar yang sudah dikupas kulitnya, berikut bambu yang telah dibelah sebagai bahan bakar yang asapnya tidak mengganggu, tapi bisa menghangatkan tubuhku. Demikianlah yang dia lakukan dari waktu ke waktu.“c

Begitu indah panorama kehidupan manusia-manusia pilihan tersebut. Cinta kasih mereka terhadap sang ibu, yang telah melahirkan dan membesarkan mereka, sungguh memikat hati. Seolah-olah tak sedikit pun mereka membiarkan diri melakukan secuil kesalahan terhadap ibu mereka.

“Ibnu Aun menceritakan bahwa suatu hari sang ibu memanggilnya, namun disambutnya panggilan itu dengan suara yang menurut anggapannya lebih keras dari suara ibunya. Serta merta beliau membebaskan dua orang budak.”d

Mereka bukan saja berupaya berbuat baik kepada sang ibu, namun juga menjaga batas-batas dalam berbicara, agar tidak sampai melontarkan kata-kata yang dapat menyinggung perasaan ibu mereka.

Hafshah binti Sirin menceritakan, “Bila suatu saat Muhammad (bin Sirin) menemui ibunya, dia tidak pernah banyak berbicara dan mengumbar omongan yang tidak perlu, demi mengormati ibu.”e

Kisah-kisah hebat tersebut menyodorkan sebuah gambaran, betapa berbakti kepada seorang ibu dalam pandangan para ulama yang shalih adalah pekerjaan yang sangat mulia. Memang, tidak ada amalan yang lebih bernilai bagi seorang hamba, sesudah tauhid, dibanding berbakti kepada sang ibu. Bukankah Allah menyandingkan perintah untuk untuk berbuat kepada orang tua setelah tauhid?!

Ada seorang lelaki menemui Ibnu Abbas seraya menuturkan kisahnya, “Aku pernah mencintai seorang wanita, lalu meminangnya, namun ditolak. Setelah itu datang pria lain meminangnya, ternyata diterima. Aku merasa cemburu sehingga membunuhnya. Duhai, apakah aku berkesempatan untuk bertobat?’ Ibnu Abbas balik bertanya, ‘Apakah ibumu masih hidup?’ Lelaki itu menjawab, ‘Tidak.’ Ibnu Abbas berkata, ‘Kalau begitu, bertobat saja kepada Allah dan beramallah sebisamu.’ Seseorang yang hadir di situ bertanya kepada Ibnu Abbas, ‘Kenapa engkau menanyakan tentang ibunya?’ Ibnu Abbas menjawab, ‘Aku tidak mengetahui adanya suatu amalan yang lebih mampu mendekatkan seseorang kepada Allah selain berbakti kepada seorang ibu!”f

Betul-betul sebuah perikehidupan yang teramat sayang diabaikan. Dari perikehidupan yang begitu agung, perikehidupan anak manusia yang demikian berbakti kepada ibunya, muncul sosok-sosok pribadi yang juga amat dimuliakan oleh ibunya. Al Rabi`bin Khutsaim adalah salah satu contohnya. Beliau adalah salah satu ulama tabi`in yang utama dan satu di antara delapan orang yang hidup zuhud di zamannya. Merupakan orang Arab asli dari suku Mudhar, silsilahnya bertemu dengan Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam pada kakeknya, Ilyas dan Mudhar. Beliau tekun menjalankan ketaatan kepada Allah semenjak kecil.

Seringkali ibunya terbangun di tengah malam dan melihat dia masih berada di mihrabnya, berenang dalam munajat kepada Allah dan tenggelam dalam kekhusyukan shalatnya. Sampai ibunya memanggil, ‘Ananda Rabi’, kenapa engkau tidak juga tidur?’ Dia menjawab, ‘Bagaimana seseorang yang di waktu gelap khawatir akan diserbu musuh, akan bisa tidur nyenyak?” Air mata ibu pun meleleh di pipinya, lalu didoakanlah putranya agar mendapat kebaikan.

Semakin dewasa, takwa dan takutnya kepada Allah semakin bertambah. Kadang-kadang ibunya merasa khawatir karena seringnya melihat puteranya menangis sendiri di gelapnya malam, sementara kebanyakan orang masih asyik menutup matanya. Ibunya menyangka yang bukan-bukan dan memanggilnya, ‘Apa yang terjadi padamu wahai anakku, apakah engkau telah melakukan kejahatan atau telah membunuh jiwa?’ Beliau menjawab, ‘Benar ibu, aku telah membunuh seorang jiwa!’

Sang ibu bertanya, ‘Siapakah yang kau bunuh, nak? Katakanlah agar aku bisa meminta orang-orang menjadi perantara damai dengan keluarganya, semoga mereka memaafkamu. Demi Allah seandainya keluarga korban itu mengetahui tangisan dan penderitaanmu tentulah mereka akan kasihan melihatmu.’

Beliau berkata, ‘Wahai ibu… jangan beritahukan kepada orang lain, aku telah membunuh jiwaku dengan dosa-dosa!’ Allahu akbar…! Indah sekali mereka berbakti kepada sang ibu.

Catatan:
a Shifatush Shafwah, II/143.
b Shifatush Shafwah, III/245.
c Shifatush Shafwah, IV/25.
d Siyaru A’lamin Nubala, VI/366.
e Shifatush Shafwah, III/245.
f Diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari dalam Al-Adab al-Mufrad, I/45.

Sumber: Majalah Fatawa Vol.IV/No.01 | Muharram 1429 / Januari 2008

Senin, November 30, 2009

Kasih sayang, Kekayaan & Kesuksesan

Suatu ketika, ada seorang wanita yang kembali pulang ke rumah dari perjalanannya keluar rumah, dan ia melihat ada 3 orang pria berjanggut yang duduk di halaman depan. Wanita itu tidak mengenal mereka semua.


Wanita itu berkata dengan senyumnya yang khas: "Aku tidak mengenal Anda, tapi aku yakin Anda semua pasti orang baik-baik yang sedang lapar. Mari masuk ke dalam, aku pasti punya sesuatu untuk mengganjal perut".


Pria berjanggut itu lalu balik bertanya, "Apakah suamimu sudah pulang?" Wanita itu menjawab, "Belum, dia sedang keluar". "Oh kalau begitu, kami tak ingin masuk. Kami akan menunggu sampai suamimu kembali", kata pria itu.


Di waktu senja, saat keluarga itu berkumpul, sang isteri menceritakan semua kejadian tadi. Sang suami, awalnya bingung dengan kejadian ini, lalu ia berkata pada istrinya, "Sampaikan pada mereka, aku telah kembali, dan mereka semua boleh masuk untuk menikmati makan malam ini".

Wanita itu kemudian keluar dan mengundang mereka untuk masuk ke dalam. "Maaf, kami semua tak bisa masuk bersama-sama" , kata pria itu hampir bersamaan.


"Lho, kenapa? tanya wanita itu karena merasa heran. Salah seseorang pria itu berkata, "Nama dia Kekayaan," katanya sambil menunjuk seorang pria berjanggut disebelahnya, "sedangkan yang ini bernama Kesuksesan, sambil memegang bahu pria berjanggut lainnya. Sedangkan aku sendiri bernama Kasih-Sayang. Sekarang, coba tanya kepada suamimu, siapa diantara kami yang boleh masuk kerumahmu."


Wanita itu kembali masuk kedalam, dan memberitahu pesan pria di luar. Suaminya pun merasa heran. "Ohho...menyenangkan sekali. Baiklah, kalau begitu, coba kamu ajak si Kekayaan masuk ke dalam. Aku ingin rumah ini penuh dengan Kekayaan."


Istrinya tak setuju dengan pilihan itu. Ia bertanya, "sayangku, kenapa kita tak mengundang si Kesuksesan saja? Sebab sepertinya kita perlu dia untuk membantu keberhasilan panen ladang pertanian kita."


Ternyata, anak mereka mendengarkan percakapan itu. Ia pun ikut mengusulkan siapa yang akan masuk ke dalam rumah. "Bukankah lebih baik jika kita mengajak si Kasih-sayang yang masuk ke dalam? Rumah kita ini akan nyaman dan penuh dengan kehangatan Kasih-sayang. "


Suami-istri itu setuju dengan pilihan buah hati mereka. "Baiklah, ajak masuk si Kasih-sayang ini ke dalam. Dan malam ini, Si Kasih-sayang menjadi teman santap malam kita."


Wanita itu kembali ke luar, dan bertanya kepada 3 pria itu. "Siapa diantara Anda yang bernama Kasih-sayang? Ayo, silahkan masuk, Anda menjadi tamu kita malam ini."

Si Kasih-sayang berdiri, dan berjalan menuju beranda rumah. Ohho.. ternyata, kedua pria berjanggut lainnya pun ikut serta. Karena merasa ganjil, wanita itu bertanya kepada si Kekayaan dan si Kesuksesan.


"Aku hanya mengundang si Kasih-sayang yang masuk ke dalam, tapi kenapa kamu ikut juga?" Kedua pria yang ditanya itu menjawab bersamaan. "Kalau Anda mengundang si Kekayaan, atau si Kesuksesan, maka yang lainnya akan tinggal di luar. Namun, karena Anda mengundang si Kasih-sayang, maka, kemana pun Kasih sayang pergi, kami akan ikut selalu bersamanya. Dimana ada Kasih-sayang, maka kekayaan dan Kesuksesan juga akan ikut serta. Sebab, ketahuilah, sebenarnya kami berdua ini buta. Dan hanya si Kasih-sayang yang bisa melihat. Hanya dia yang bisa menunjukkan kita pada jalan kebaikan, kepada jalan yang lurus. Maka, kami butuh bimbingannya saat berjalan Saat kami menjalani hidup ini."


Salam dari Kasih sayang


Sumber : Email Seorang kawan

Jumat, Oktober 02, 2009

MENGAPA ALLAH MEMBERIKAN KITA MASALAH

Permasalaan yang kita hadapi bisa membuat kita jatuh atau bertumbuh, tergantung dari bagaimana cara kita menanggapinya. Sangat disayangkan banyak orang gagal untuk melihat bagaimana Allah menggunakan masalah untuk kebaikan mereka. Mereka lebih memilih untuk bertindak bodoh dan membenci masalah-masalah mereka daripada menghadapi dan merenungkan kebaikan apa yang bisa mereka dapat dari masalah-masalah tersebut.

1. Allah menggunakan masalah untuk MENGARAHKAN kita.
Kadang-kadang Allah harus menyalakan api di bawah kita untuk membuat kita tetap bergerak. Sering kali masalah yang kita hadapi akan mengarahkan kita ke arah yang baru dan memberikan kita motivasi untuk berubah. Ada kalanya masalah menjadi cara yang Allah pakai untuk menarik perhatian kita.

2. Allah menggunakan masalah untuk MENGUJI kita.
Manusia bagaikan teh celup... jika anda ingin tahu apa yang ada di dalamnya, celupkan saja ke dalam air panas! Allah kadang ingin menguji kesetiaan kita melalui masalah-masalah yang kita hadapi.

3. Allah menggunakan masalah untuk MENGOREKSI kita.
Ada pelajaran-pelajaran yang hanya dapat kita pelajari melalui penderitaan dan kegagalan. Mungkin waktu kita masih kecil orang tua kita mengajar kita untuk tidak boleh menyentuh kompor yang panas. Tetapi mungkin kita baru benar-benar belajar justru setelah tangan kita terbakar. Kadang-kadang kita baru bisa menghargai sesuatu... kesehatan, teman, hubungan..., saat kita sudah kehilangan.

4. Allah menggunakan masalah untuk MELINDUNGI kita.
Suatu masalah bisa menjadi berkat jika masalah tersebut menghindarkan kita dari bahaya. Tahun lalu ada seorang sahabat yang diberhentikan dari pekerjaannya karena ia menolak untuk melakukan sesuatu yang tidak etis bagi bossnya. Ia menjadi mengganggur, tetapi justru dari masalah itulah ia terhindar dari ditangkap dan dimasukan ke dalam penjara, karena setahun kemudian tindakan boss itu terbongkar.

5. Allah menggunakan masalah untuk MENYEMPURNAKAN kita.
Jika kita menanggapi masalah dengan cara dan pandangan yang benar, masalah tersebut bisa membentuk kita. Allah lebih memperhatikan karakter kita daripada kenyamanan kita. Hanya hubungan kita dengan Allah yang akan kita bawa sampai kekal. " ... Kita malah bermegah dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan.

Apa yang ada di tangan kita?
Dalam beberapa hal, hidup kita berada di tangan kita. Kita dapat memilih untuk menghamburkan setiap jam, hari, minggu, bulan, dan tahun demi kepentingan kita sendiri
Kita akan heran saat menyaksikan betapa banyaknya hal yang Allah sempurnakan dalam diri kita dan melalui kita. Jadi sabar dan jalanilah setiap permasalahan yang kita hadapi. dan permasalahan yang timbul adalah suatu rahmat untuk kita. dan menjadi sebuah tantangan kita untuk hidup yang lebih baik.

Sumber : Kiriman email seorang teman

Senin, September 28, 2009

Ayat-ayat Rezeki

Prakata
Terdapat sekurangnya 10 macam kiat pembuka pintu rezeki dan tidak salah kiranya jika kita mencoba meraihnya. Sedangkan dalil penunjukannya baik berupa ayat Al-Qur’an maupun dari hadist-hadist Nabawi.

Sengaja saya hanya mencantumkan dalil saja tanpa memberi penjelasan lebih jauh dan selanjutnya teman-teman sendiri yang harus sibuk mencarinya, jika ingin mengetahui lebih jauh, baik membaca, bertanya kepada ustadz terdekat, datang ke majelis taklim dan lain sebagainya. Apakah salah kita mencari rezeki dengan cara seperti yang ditunjukan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi? Tidak! Silahkan saja karena Al-Qur’an milik kita, dan pencarian rezeki ini ditunjukan oleh Allah dan Nabi Saw..


Kiat memperolehnya antara lain:


1. Istighfar dan Taubat


Maka aku katakan kepada mereka: 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan Mengadakan untukmu kebun-kebun dan Mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12)


Hasan al-Bashri salah seorang pemuka di kalangan tabi’in selalu menganjurkan banyak istighfar kepada siapa saja yang datang kepadanya ketika mengadu tentang gagal panen, sulit rezeki, sulit mendapatkan keturunan, dan sawah ladang yang tidak produktif. (Tafsir Qurthubi)

2. Takwa


Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah Mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3)


“Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi…” (QS. Al-A’raf: 96)


3. Tawwakal


“Sungguh, seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenarnya, niscaya kalian diberi rezeki sebagaimana rezeki burung-burung. Mereka berangkat pagi hari dalam keadaan lapa,r dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibn Mubarak, Hakim, Musnad asy-Syihab. Sanadny disahihkan oleh Ahmad Syakir dan Al-Albani)


4. Taat dan Beribadah Sebaik-baiknya


“Sesungguhnya Allah berfirman, “ Wahai anak Adam, beribadahlah sepenuhnya kepada-KU, niscaya Aku penuhi di dalam dada dengan kekayaan dan semua kebutuhanmu. Jika tidak kalian lakukan (tidak taat) Aku penuhi dengan kesibukan dan tidak Aku penuhi kebutuhanmu (tidak ada hasilnya semua usaha).” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, Hakim dari Abu Hurairah. Al-Albani mensahihkannya)


5. Melaksanakan Haji dan Umrah


Pertanyaan ini sering ditujukan pada saya baik para jamaah yang saya bimbing ketika haji atau umrah, “Apakah haji dan umrah ini akan mendatangkan rezeki?" Inilah dalilnya:
“Lanjutkan haji dan umrah karena sesungguhnya keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa. Sebagaimana api dapat menghilangkan karat, emas dan perak. Dan tidak ada pahala haji mabrur kecuali surga.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Nasai, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban. Syeikh Ahmad Syakir mengatakan sanadnya sahih, Al-Albani mengatakan hasan sahih sedangkan Syeikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan hasan)


6. Silaturahmi


“Siapa saja yang suka agar rezekinya luas, dipanjangkan umurrnya, maka hendaklah ia menperbanyak silaturahmi.” (HR. Bukhari)


Maksud dari dipanjangkan umur dalam hadist ini adalah berkah umur menurut Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Barri.

“Belajarlan tentang nasab (garis keturunan) sehingga kalian bisa menyambung silaturahmi. Karena sungguh silaturahmi itu adalah (salah satu cara) menimbulkan kasih saying antara keluarga, (sebab) luasnya rezeki dan bertambah usia (berkah umur).” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Hakim. Syaikh Ahmad Syakir dan Al-Albani mensahihkannya)



7. Sedekah dan Infak


“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, Maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah pemberi rezki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba: 39)


“Allah Tabaraka wa Ta’ala mengatakan: Wahai anak Adam, berinfaklah, niscaya Aku memberi rezeki kepada kamu.” (HR. Muslim)


8. Membiayai Pelajar Yang Sedang Menuntut Ilmu Islam


“ Dahulu ada dua orang bersuadara pada masa Rasulullah Saw. Salah seorangnya pernah datang kepada Nabi Saw (untuk belajar ilmu agama), sedangkan saudara yang lainya bekerja, Lalu saudara yang bekerja itu pernah mengadu (mengadukan bahwa saudaranya itu tidak mau membatnunya dalam kerjaannya) kepada Nabi, dan beliau bersabda,” Mudah-mudahan engkau diberi rezeki sebab itu.” (HR. Tirmidzi, dan Hakim. Syaikh Albani mensahihkannya)


9. Menolong dan Membantu Orang Miskin


Dalam sahih Bukhari dikisahkan bahwa Sa’ad merasa dirinya memiliki kelebihan dari pada yang lain. Kemudian Rasulllah Saw bersabda: “Bukankah kalian ditolong dan diberi rezeki lantaran orang-orang miskin?”


“Carilah keridhaanku melalui orang-orang miskin diantara kalian. Karena sungguh kalian diberi rezeki dan ditolong karena sebab orang miskin diantara kalian.” (HR. Ahmad, Abu Daud, Tirmizi, dan Hakim. Disahikan oleh Albani)


10. Hijrah Di Jalan Allah


Makna hijrah selain dari kata asalnya mencakup banyak arti. Diantaranya menurut Rasyid Ridha adalah menolong sesama Muslim agar tidak terjerat oleh hasutan agama lain agar masuk ke agama mereka. Dan tentunya bantuan ini sangat berharga bila berbentuk dana untuk pendidikan mereka, makanan, obat-obatan dan lainnya.


“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang Luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), Maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. An-Nisa: 100)


Semoga bermanfaat


Sumber : Taujih seorang Usatad