Jumat, Agustus 21, 2009

KHUTBAH RASULULLAH SAW MENYAMBUT BULAN SUCI RAMADHAN

Wahai manusia!
Sungguh telah datang pada kalian bulan Allah dengan membawa berkah rahmat dan maghfirah. Bulan yang paling mulia disisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama. Malam-malamnya adalah malam-malam yang paling utama. Jam demi jamnya adalah jam-jam yang paling utama.Inilah bulan ketika kamu diundang menjadi tamu ALLAH dan dimuliakan oleh-Nya.

Di bulan ini nafas-nafasmu menjadi tasbih, tidurmu, ibadahmu, amal-amalmu diterima dan doa-doamu di ijabah. Bermohonlah kepada Allah Rabbmu dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingmu untuk melakukan shiyam dan membaca Kitab-Nya. Celakalah orang yang tidak mendapat ampunan Allah dibulan yang agung ini. Kenanglah dengan rasa lapar dan hausmu, kelaparan dan kehausan di hari kiamat.

Bersedekahlah kepada kaum fuqara dan masakin. Muliakanlah orang tuamu, sayangilah yang muda, sambungkanlah tali persaudaraanmu, jaga lidahmu, tahan pandanganmu dari apa yang tidak halal kamu memandangnya dan pendengaranmu dari apa yang tidak halal kamu mendengarnya. Kasihilah anak-anak yatim, niscaya dikasihi manusia anak-anak yatimmu. Bertaubatlah kepada Allah dari dosa-dosamu.

Angkatlah tangan-tanganmu untuk berdo'a pada waktu shalatmu karena itulah saat-saat yang paling utama ketika Allah Azza wa Jalla memandang hamba-hamba-Nya dengan penuh kasih;

Dia menjawab mereka ketika mereka menyeruNya, menyambut mereka ketika mereka memanggil-Nya dan mengabulkan doa mereka ketika mereka berdoa kepada-Nya.

Wahai manusia!
Sesungguhnya diri-dirimu tergadai karena amal-amalmu, maka bebaskanlah dengan istighfar. Punggung-punggungmu berat karena beban (dosa) mu, maka ringankanlah dengan memperpanjang sujudmu. Ketahuilah!

Allah ta'ala bersumpah dengan segala kebesaran-Nya bahwa Dia tidak akan mengadzab orang-orang yang shalat dan sujud, dan tidak akan mengancam mereka dengan neraka pada hari manusia berdiri di hadapan Rabbal-alamin.

Wahai manusia!
Barang siapa di antaramu memberi buka kepada orang-orang mukmin yang berpuasa di bulan ini, maka di sisi Allah nilainya sama dengan membebaskan seorang budak dan dia diberi ampunan atas dosa-dosa yang lalu.

Sahabat-sahabat lain bertanya: "Ya Rasulullah! Tidaklah kami semua mampu berbuat demikian.
" Rasulullah meneruskan: Jagalah dirimu dari api neraka walau pun hanya dengan sebiji kurma. Jagalah dirimu dari api neraka walau pun hanya dengan seteguk air.
Wahai manusia!

Siapa yang membaguskan akhlaknya di bulan ini ia akan berhasil melewati sirathol mustaqim pada hari ketika kaki-kaki tergelincir.

Siapa yang meringankan pekerjaan orang-orang yang dimiliki tangan kanannya (pegawai atau pembantu) di bulan ini, Allah akan meringankan pemeriksaan-Nya di hari kiamat.

Barangsiapa menahan kejelekannya di bulan ini, Allah akan menahan murka-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa memuliakan anak yatim di bulan ini, Allah akan memuliakanya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa menyambungkan tali persaudaraan (silaturahmi) di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.

Barang siapa memutuskan kekeluargaan di bulan ini, Allah akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barangsiapa melakukan shalat sunat di bulan ini, Allah akan menuliskan baginya kebebasan dari api neraka.

Barangsiapa melakukan shalat fardu baginya ganjaran seperti melakukan 70 shalat fardu di bulan lain. Barangsiapa memperbanyak shalawat kepadaku di bulan ini, Allah akan memberatkan timbangannya pada hari ketika timbangan meringan. Barangsiapa di bulan ini membaca satu ayat Al-Quran, ganjarannya sama seperti mengkhatam Al-Quran pada bulan-bulan yang lain.

Wahai manusia!
Sesungguhnya pintu-pintu surga dibukakan bagimu, maka mintalah kepada Tuhanmu agar tidak pernah menutupkannya bagimu. Pintu-pintu neraka tertutup, maka mohonlah kepada Rabbmu untuk tidak akan pernah dibukakan bagimu.

Setan-setan terbelenggu, maka mintalah agar ia tak lagi pernah menguasaimu. Amirul mukminin berkata: "Aku berdiri dan berkata: "Ya Rasulullah! Apa amal yang paling utama di bulan ini?" Jawab Nabi: Ya Abal Hasan! Amal yang paling utama di bulan ini adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah".

**Marhaban** Yaa Ramadhan**......**

" Sesungguhnya Allah telah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan Dia memberi pengajaran kepadamu, agar kamu dapat mengambil pelajaran"(QS An Nahl 90).

Jumat, Agustus 14, 2009

Jangan lagi mulai dari Nol

Memelihara Moment Ramadhan


“Dan janganlah kalian seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat , menjadi cerai berai kembali” (QS. An Nahl (16) : 92)


Ramadhan datang, Ramadhan pergi. Begitulah sunnatullah yang berlaku pada kehidupan alam semesta ini. Keadaan yang melingkupi diri seorang mu’min dari Ramashan ke Ramadhan berikutnya pun hampir pasti berbeda-beda.


Kesadaran Hakiki


Hampir merata setiap mu’min terpanggil dan tergugah kesadaran hakikinya sebagai hamba Allah SWT, begitu Ramadhan datang, gegap gempita kaum mu’minin seantero dunia dalam menyambut dan mengisi bulan suci Ramadhan adalah merupakan indikasi yang paling mudah dibaca. Masjid penuh sesak, tilawah Al Qur’an yang menggema membahana naik ke langit dari hampir setiap rumah tangga mu’min, bahkan dari kantor, stasiun dan pasar sekalipun. Busana muslimah yang rapi dan anggun mewarnai hampir setiap komunitas termasuk komunitas sinetron dan bisnis. Kesalehan sosialpun segera tampak, dari sejak memberi makan berbuka (ifthar ash-sha’imin) sampai berbagai bentuk kepedulian sosial yang lebih berkualitas. Jangan lagi dipertanyakan kajian-kajian keislaman yang beragam dan semakin intens saja. Dan mata pun begitu murah dan gampang berurai berlinang air mata. Bi Dumuw’i Al iman Nastaqbil Ramadhan (Dengan airmata iman kita sambut dan jalani Ramadhan) begitu judul buku yang ditulis oleh syaikh Sulaiman Abdul Karim Al-Mufrij.


Tntu, itu semua tidak menafikan adanya sebagian mu’minin yang merasa terpasung dan terpenjara oleh Ramadhan, yang melewati hari-hari Ramadhan dengan rasa kesal, sesak nafas, menggerutu dan berbagai sumpah serapah, Na’udzubillah min dzalik.


Peningkatan Siklikal


Ssudah Ramadhan berlalu, adakah telah terjadi peningkatan kualitas diri seorang mu’min secara signifikan?.

Ayat diatas (QS. 16:92) sesungguhnya memberikan peringatan dini terhadap setiap mu’min agar tidak bersikap dan berlaku naif, ibarat perempuan yang memintal, menenun benang helai demi helai, berhari-hari, berpekan bahkan berbulan-bulan hingga menjadi kain yang kuat dan indah. Bisa bermanfaat untuk berbagai jenis pakaian dan asesoris,etapi tiba-tiba menguraikannya kembali helai demi helai terburai tak menentu bahkan menjadi benang kusut tak bernilai lagi sama sekali. Segalanya hilang percuma.


Dalam konteks shaum (puasa), peningkatan seperti ini adalah peningkatan siklikal, amalan-amalan meningkat tinggi dan bahkan drastis tetapi usai Ramadhan turun drastis pula, maka setiap Ramadhan memulai dari nol, Nol Besar.


Inilah kondisi buruk seorang mu’min yang apa boleh dikata-diaminkan Rasulullah SAW sebagai orang yang rugi (ketika Jibril a.s. memnberitakan kondisi itu kepada Rasul).


Rugi bagi seseorang yang (dalam hidupnya) dilewati bulan Ramadhan, hingga Ramadhan kemudian berlalu, ia tidak diampunkan dosanya oleh Allah SWT (HR. Bukhari dan Baihaqi)


Dalam konteks dakwah dan amal jama’i kondisi ini dilukiskan seorang penyair : Kapan sebuah bangunan mencapai hari selesainya? Jika anda membangunnya, selain anda menghancurkannya.


Peningkatan Struktural


Maka, peningkatan kualitas yang mesti diupayakan oleh diri seorang mu’min dengan ibadah shaum dan ibadah-ibadah lain yang menyertainyaadalah peningkatan struktural (Al-irtifaa at-tashaa’udy), peningkatan secara berjenjang, ibarat struktur anak tangga. Jangan lagi mulai dari Nol, artinya setelah gegap gempita amaliah satu Ramadhan, menurun normal pada bulan Syawal, tetapi naik dari nol ke anak tangga satu, posisi anak tangga satu (dari bawah) dijaga sepanjang bulan-bulan berikutnya. Jika Ramadhan datang lagi mulai dari satu dan bukan dari nol lagi. Begitu seterusnya, meningkat secara terstruktur. Rindu lagi Ramadhan, meminjam ungkapan puitis Taufiq Ismail, menjadi lebih bermakna.


Memelihara Moment Ramadhan


Ramadhan adalah moment ketaatan dan kepatuhan hamba, moment taqarrub ilallah, moment kepedulian sosial dan moment pembelaan terhadap kesucian Al Islam dan masa depannya. Moment-moment imani (Mawaqif imaniyah0 ini haruslah dijaga seterusnya.

Allah Yang Maha Mengetahui dan Menghitun

g amal manusia di bulan Ramadhan, DIA jugalah yang berkuasa menghitung segala amal hamba-Nya dibulan-bulan lainnya. Tak terjadi pergeseran penguasa. Penguasa tunggal : ALLAH SWT. Secara deskriptif pemeliharaan moment-moment itu bisa dilakukan melalui antara lain :

1. Al Iltizam bi shalatil jama’ah fil masjid (komitmen dengan shalat jamaah 5 waktu di masjid)

2. Mudawamatu tilawatil Qur’an (Melestarikan baca dan tadabbur Al Qur’an)

3. Mudawamatu qiyami’l-lail (Melestarikan shalat malam atau tahajud)

4. Hifdzul lisan wal bashar wal faraj (Menjaga lisan, mata dan kehormatan)

5. Al Inayah bil mustadh-afin (Peduli terhadap yang lemah dan dilemahkan)

6. al Hirsh ’alal ’ulumin-mafi’ah (Rajin berusaha menuntut ilmu-ilmu yang bermanfaat)

7. Ad Da’wah ilallah wa ad-difa’ ’anil Islam (Dakwah ilallah dan membela al Islam)

8. Iftinabul Ma’ashi wal unkarat (Menjauhi berbagai kemaksiatan dan kemungkaran)

9. At-Tawarru’ ’anisy-syubuhat (Memelihara diri dari segala samar/bias)

10. Muzawalatu ruhit Tadhhiyah wal itsar (Terus melatih memupuk semangat berkorban dan mendahulukan kepentingan orang lain)


Konsistensi wajah dan wijhah menuju dien yang benar dan lurus, yang telah terbina baik sepanjang Ramadhan, sudah barang pasti haruslah dijaga.


”Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah): (tetapkanlah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar Rum : 30)


Ya Allah, berikanlah hamba kesempatan mereguk kenikmatan surgawi Ramadhan tahun depan, amin ya Rabbal ’alamin. Wallahu a’lam bi shawab.


Sumber : Muzayyin Abdul Wahhab (Intisari khutbah Idul Fitri 1426 H di kedubes Malaysia).


Rabu, Juli 22, 2009

10 hal yang dikerjakan orangtua sukses

Mereka pemimpin juga orangtua

• Mereka tidak bergantung pada sekolah, pemerintah, televisi atau tontonan lain untuk mengajar anak mereka tentang nilai dan perbedaan antara baik dna buruk. Mereka kerjakan itu sendiri.


Mereka punya cita-cita bagi keluarganya dan masa depan

• Hal ini sering didiskusikan dan disampaikan kepada semua anggota keluarga. Dan mereka mencapai cita-cita tersebut dengan sebuah keyakinan dan nilai-nilai yang sering mereka sampaikan secara lisan. Semua kegiatan, tingkahlaku dan keputusan diambil berdasarkan keyakinan dan nilai-nilai tersebut. Jadi semua orang memiliki pandangan yang jelas tentang bagaimana semua kegiatan harus dikerjakan dan kenapa harus dikerjakan.


Tingkah laku mereka adalah contoh bagi anak-anaknya

• Mereka jujur karena mereka percaya pada kejujuran, mereka terbuka karena mereka menghargai keterbukaan, mereka pemaaf karena mereka tahu Allah Maha Penerima taubat.

• Mereka membuat keputusan penting yang sulit saat dibutuhkan, dan mereka bertanggungjawab atas akibatnya. Mereka tidak hanya bicara nilai dan keyakinan, tapi mereka menunjukkannya lewat kata dan perbuatan.


Mereka mem’berdaya’kan anak-anaknya

• Mereka menyampaikan harapan yang tinggi (tapi masuk akal) atas tingkah laku dan penampilan. Mereka juga menyiapkan sumber-sumber bagi kebutuhan spiritual, emosi, fisik, intelektual dan finansial yang mereka butuhkan. Karena mereka tahu ‘harga diri adalah perlu untuk anak-anaknya.


Mereka bicara bersama anak bukan kepada anak.

• Mereka mengembangkan kebiasaan menerima masukan sehingga anak akan mengerti akibat dari tingkahlaku mereka terhadap orang lain. Mereka menyaksikan sendiri bahwa anak-anak mengerti hubungan antara tingkahlaku dan konsekuensi. Dan mereka membedakan anak dan tingkah lakunya, sehingga saat terjadi masalah, cintanya tetap tidak bersyarat untuk membantu anak mencari solusi masalahnya.


Mereka bersusahpayah memahami perkembangan anak-anaknya.

• Saat anak menemukan ‘jalan’nya di muka bumi ini, maka orangtua sukses ini akan menggunakan kombinasi dari kematangan dan kemampuan untuk mengarahkan jika anak-anak perlu pengarahan, berdiskusi jika situasinya membingungkan, mendorong anak jika mereka perlu energi untuk mencoba sesuatu, dan akhirnya orantua sukses ini akan melepaskan mereka dengan ikhlas. Namun, pintu tetap terbuka lebar bagi anak-anak untuk kembali saat mereka membutuhkan.


Mereka berperan aktif pada pendidikan anak, formal maupun informal.

• Mereka adalah kontributor aktif di sekolah dan di komunitas mereka. Mereka memperkaya lingkungan rumahnya sesuai kemampuan mereka. Mereka menghadiri konser, pertandingan, perkemahan dan ke perayaan-perayaan lain bersama anak-anak.


Mereka ikhlas mengatakan bahwa anak mereka tidak sempurna.

• Walaupun anak mereka sangat menonjol di berbagai bidang tapi orangtua ini tidak bombastis.

• Mereka menerima dan bicara secara terbuka bahwa walaupun anak mereka baik, tapi tetap saja punya sifat anak-anak, yang suka berbuat salah, dan mengalami tahap perkembangan yang normal.


Mereka membicarakan masa depan dan siap memberikan saran dan bimbingan yang sesuai.

• Ketika waktunya datang, mereka akan membicarakan masa depan anak-anak

• Mereka juga siap memberi saran bagi karir dan pilihan-pilihan hidup yang lain yang harus diambil oleh anak-anak mereka.


Mereka mendorong anak-anak menjadi mandiri dan berpikir kritis.

• Melalui semua hal di atas mereka mendorong anak-anak menjadi mandiri dan dapat berpikir kritis. Sehinga pada akhirnya setiap anak akan menjadi dirinya sendiri.


Sumber : Dr. Tom Olson

Jumat, Juli 17, 2009

Merenungkan hari akhir

Dewasa ini, dilemma yang kian melanda kaum muslim didunia adalah perhatian akan hari akhir yang sudah semakin buram dan terabaikan oleh kepentingan-kepentingan dunia yang menyita banyak keperluan. Bahkan terkadang sebagian dari mereka hanya melewatkan waktu tanpa ada kesadaran yang terbersit untuk membenahi diri sebagai hamba-Nya, dan merenungkan segala kesalahan yang terjadi pada hari itu. Hal ini dianalogikan ketika melihat manusia bersiap sepenuh kemampuan untuk menghadapi musim dingin dan musim panas, sementara segelintir dari mereka hanya terpapah santai dan tidak mempersiapkan diri untuk menghadapi panasnya api jahanam.


Padahal lafadz iman billah dan yaumil akhir telah jelas tersebutkan dalam Al Qur’an, namun masih banyak manusia yang tidak mengingat saat itu, bahkan menganggapnya sangat jauh. Mereka cenderung mengutamakan dimensi yang lebih dekat, yaitu dunia. Sesungguhnya hanya dengan mendengar nama hari tersebut, sudah dapat menggetarkan perasaan dan membangunkan hati kita yang terlena dan lalai. Beberapa nama hari kiamat yang disebutkan dalam Al Qur’an diantaranya adalah : Al-Rariah (hari yang menggegerkan), Al-Haaqqah (hari yang pasti terjadi), Ash-Shakkhah (suara yang memekakkan telinga), dan nama-nama lain dengan berbagai sifatnya.


“Hai manusia, bertaqwalah kepada Tuhanmu. Sesungguhnya keguncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang dahsyat. Ingatlah pada hari ketika kamu melihat keguncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusui dan menggugurkan kandungan segala wanita yang hamil dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi adzab Allah itu sangat keras” (Al-Hajj : 1-2)


Karena itu wahai saudaraku, mari bersama merenungkan hari akhir dengan segala hal yang akan terjadi di dalamnya serta peristiwa-peristiwa yang dapat memutihkan rambut anak kecil. Mari kita renungkan tiupan pertama sangkakala yang mengisyaratkan tiupan kiamat pada dunia ini, dimana peristiwa itu ditandai dengan beberapa kejadian yang sangat sulit dibayangkan. Hancurnya langit, bertaburannya bintang-bintang, gunung-gunung berterbangan, lautan meluap. Kemudian ditiupkan sangkakala untuk kedua kalinya. Saat itulah terjadi kebangkitan, dan manusia dikumpulkan dalam keadaan telanjang dan tidak beralas kaki.


(Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan) pada hari ketika tiupan pertama mengguncang alam, tiupan pertama itu diiringi oleh tiupan kedua. Hati manusia pada waktu itu sangat takut, pandangannya tunduk. (orang-orang kafir) berkata : “Apakah sesungguhnya kami benar-benar dikembalikan kepada kehidupan semula?”. (Al-Naziat : 6-10)


Setelah itu, marilah kita melongok pada kehidupan setelah mati, yakni saat penghisaban dan penimbangan amal. Bayangkan saat ketika kita dimintai pertanggungjawaban tentang perbuatan kita semasa didunia dahulu. Bagaimana orang gemetar saat dimintai pertanggungjawaban oleh atasannya, bagaimana bila yang meminta pertanggungjawaban adalah Allah SWT.


Di hari itu orang-orang kafir dan orang-orang yang mendurhakai rasul, ingin supaya mereka disamaratakan dengan tanah, dan mereka tidak dapat menyembunyikan (dari Allah) sesuatu kejadianpun (An-Nisa : 42)


Ketika itu, semua kezholiman akan dibalas. Semua orang yang terzholimi akan memperoleh haknya dari orang yang menzholiminya. Pada hari itu juga ada orang yang mendapat kebahagiaan, kesenangan, dan mendapatkan rahmat-Nya. Berdoalah agar kita menjadi salah satu dari yang kaum dengan perlakuan baik itu.

Setelah dihisab, manusia harus melintasi jembatan sirath yang berada diatas neraka jahanam. Ketika kita merenungkan sejenak peristiwa itu dan seolah-olah realita mengantarkan ke depan mata, tentu hati dan jiwa kita akan sangat bergetar ketakutan walau hanya sekedar memikirkannya saja. Mari kita renungkan hadits berikut, ”Manusia akan melewati titian (yang terbentang diatas) neraka jahanam. Disekitarnya terdapat banyak duri, belenggu dan jangkar yang akan menyambar manusia dari kanan dan kiri. Di kedua tepinya ada malaikat yang berdoa, ”Ya Allah selamatkanlah”. Diantara manusia ada yang melintas secepat kilat, ada yang melintasi secepat angin, ada yang melintasinya seperti penunggang kuda, ada yang berlari-lari kecil, ada yang berjalan biasa. Adapun orang yang berhak masuk neraka, maka akan masuk kedalamnya. Di dalamnya mereka tidak mati dan tidak hidup... sementara manusia yang lain disiksa dengan dosa dan kesalahannya. Mereka terbakar hingga menjadi arang, kemudian diizinkan untuk mendapat syafaat.” (Muttafaq a’laih dari Abu Said al Khudri)


Sebahagian dari orang yang beriman ada yang berhak masuk neraka, lalu Allah memberikan karunia kepada mereka dengan menerima syafaat dari orang-orang yang diridhoi, para Nabi, syuhada, shalihin atau lainnya untuk mereka. Marilah kita renungkan sejenak, berfikir dengan penug\h kesadaran bahwa akhiratlah yang saat ini sedang menanti kita. Berdoalah, bersungguh-sungguhlah dalam hidup ini... Allaahumma inni as alukal jannah...


Sumber : Buletin Jum’at Fusi edisi 05/1430 H/2009

Kamis, Juni 18, 2009

Cinta Dan Nafsu

Di jadikan indah pada pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu : wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah lading. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan disisi Allah lah tempat kembali yang baik (surga). (QS. Ali Imran : 14).


Pernahkan Anda jatuh cinta kepada seseorang? Cinta seorang lelaki kepada seorang wanita? Ini pasti dialami oleh anak-anak muda, para remaja, namun juga tidak jarang terjadi bagi seorang yang telah lanjut usia. Cinta kepada sesama lawan jenis merupakan naluri normal manusia. Merasa senang dengan seseorang merupakan hak setiap orang namun sering orang lupa bahwa dibalik ini semua ada nafsu yang bermain.


Naluri dan Syahwat


Perasaan cinta kepada lawan jenisnya yang ada pada tiap diri seseorang manusia adalah normal. Kecintaan kepada sesuatu yang diinginkan, memang sudah menjadi anugerah Allah sejak manusia dilahirkan. Inilah yang dijelaskan dalam Al Qur’an.


Di jadikan indah pada pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu : wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah lading. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan disisi Allah lah tempat kembali yang baik (surga). (QS. Ali Imran : 14).


Ada pengaruh naluri daya tarik antara lawan jenis yang alami, naluri yang ada pada setiap makhluk ciptaan Allah, yang bergerak maupun yang tidak, daya tarik yang merupakan syarat mutlak bagi pengembang biakan makhluk itu. Daya tarik alami ini yang membuat lawan jenis kelamin saling tertarik, saling mendekati lalu terjadi penyatuan yang melahirkan makhluk baru sebagai proses penciptaan yang amat indah dan suci.


Namun disamping naluri yang sifatnya suci dan alami, masuk pula pengaruh nafsu dan dalam cinta asmara, nafsu memainkan peran sepenuhnya sehingga memberikan kesenangan selengkapny kepada manusia yang dilanda cinta. Kenikmatan dirasakan manusia melalui kesenangan yang terkandung dalam panca inderanya. Kalau orang sedang bercinta, mata melihat keindahan pada orang yang dicinta, telinga mendengar kemerduan, hidung menicum keharuman dan segala macam perasaan, sentuhan dan apa saja terasa teramat indah.


Segala macam perasaan yang mengandung susah senang, adalah permainan nafsu. Nafsu memang selalu mempunyai satu arah tujuan, yaitu kesenangan yang dinikmati tubuh melalui panca indera. Anda senang pada makanan tertentu, itu karena nafsu... jika faktor-faktor indera yang mendorong anda menyukainya... misalnya karena enak dilihat, menyenangkan keetika dipandang.


Namun, karena nafsu memegang peran yang begitu besarnya, maka seperti akibat daripada permainan nafsu, semua kesenangan itu setiap saat dapat berubah menjadi kesusahan. Kesenangan dalam cinta yang didasari nafsu itu dalam sekejap mata dapat berubah menjadi kebalikannya, yaitu kesusahan kalau penyebab kesenangan itu lepas dari tangan. Simaklah kisah cinta asmara yang digambarkan Allah dalam Alqur’an, yaitu cinta istri Al Aziz kepada Nabi Yusuf AS.


Dan wanita-wanita dikota berkata: ” Istri Al Aziz mengoda bujangnya untuk menundukkan dirinya (kepadanya), sesungguhnya cintanya kepada bujangnya itu adalah sangat mendalam. Sesungguhnya kami memandangnya dalam kesesatan yang nyata : (QS. Yusuf : 30)


Maka tatkala wanita itu (Zulaikha) mendengar cercaan mereka, diundangnyalah wanita-wanita itu dan disediakannya bagi mereka tempat duduk, dan diberikannya kepada masing-masing mereka sebuah pisau (untuk memotong jamuan), kemudian dia berkata (kepada Yusuf) :” Keluarlah (nampakkanlah dirimu) kepada mereka ”. Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepada (keelokan rupa)nya, dan mereka melukai (jari) tanganya dan berkata :” Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mula”. (QS. Yusuf:31)


Wanita itu berkata : ” Itulah dia orang yang kamu cela aku karena (tertarik) kepadanya, dan sesungguhnya aku telah mengoda dia untuk menundukkan dirinya (kepadaku) akan tetapi dia menolak. Dan sesungguhnya jika dia tidak mentaati apa yang aku peerintahkan kepadanya, niscaya dia akan dipenjarakan dan dia akan termasuk golongan orang-orang yang hina ”. (QS. Yusuf : 32)


Tertipu Kesenangan Sesaat


Cinta asmara antara pria dan wanita merupakan suatu perasaan manusia yang paling rumit dan aneh. Cobalah simak apa yang dilakukan wanita itu ketika cintanya yang didasari hawa nafsu ditolak oleh Nabi Yusuf AS. Cinta dengan mudah menjadi kebencian bahkan keinginan untuk mencelakakan yang dicintai...


Diantara manusia ada yang berkata, ”Tidak ada kesenangan melebihi senangnya orang bercinta, dan tidak ada kesusahan hati melebihi orang gagal dalam bercinta! Dunia seakan kiamat, harapan seakan-akan hancur lebur, hidup seakan-akan tiada artinya lagi!”. Pernyataan itu muncul, sebagai gambaran betapa banyak korban cinta nafsu. Dalam saat seperti itu, betapa banyaknya orang yang kurang tabah dan kurang sadar melakukan perbuatan dungu seperti bunuh diri, atau membunuh orang yang menggagalkan cintanya termasuk orang yang dicintainya itu sendiri. Dalam mabuk cinta, kita lupa bahwa segala kesenangan itu ada batasnya, dan tidak abadi.


Jelas bahwa nafsu yang bermain di dalam cinta kasih tidak abadi pula. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (QS. Alhadid : 20)


Siapa pun dapat menjadi korban dari ketertipuan cinta nafsu itu. Ketika gagal mendapatkan sesuatu yang didambakannya merasa seolah-olah hidupnya hancur lebur. Dalam keadaan seperti itu, ia tidak tahu bahwa kesusahan, seperti juga kesenangan, tidak abadi, bahkan tidak panjang umurnya, walaupun dibandingkan kesenangan, kesusahan lebih lama dirasakan manusia. Tidak mungkin senang terus tanpa kesusahan, seperti tidak mungkinnya susah terus tanpa kesenangan. Bahkan di waktu siang hari pun, tidak selalu terang benderang, kadang-kadang digelapkan awan mendung, dan malam gelap gulita pun kadang-kadang diterangi bulan atau bintang-bintang. Dalam keadaan senang, orang lupa bahwa kesusahan sudah berada diambang pintu. Dalam keadaan susah, seseorang seolah-olah merasa bahwa tidak ada harapan lagi dan selalu dia akan menderita susah, seperti sakit yang tak mungkin dapat diobati lagi.


Yang abadi adalah sesuatu yang datangnya bukan dari nafsu yang menggelimangi hati akal pikiran. Yang asli dan abadi adalah cinta yang tidak dikotori nafsu dan cinta inilah yang menjadi dasar dari segala perasaan yang baik, cinta ini yang biasa kita namakan dengan rahmat Allah. Rahmat Allah ini terdapat dalam sinar matahari, dalam titik-titik air hujan, dalam gelombang samudera, dalam bersilirnya angin semilir, dalam merekahnya dan harumnya bunga-bunga, dalam senyum ranum dan matangnya buah-buahan, dalam air mata seorang ibu dalam belaian tangannya, dalam pandangan mata seorang ayah, dalam tangis seorang bayi dan masih banyak lagi. Itulah cinta yang bersumber dari Allah dan sesuai ajaran agama-Nya Al Islam.


Melalui ajaran Islam Allah membimbing manusia untuk hidup dalam cinta_nya agar ia dapat mencintai sesamanya dengan tetap berada dalam rahmat-Nya.


Cinta dan Keimanan


Dalam Islam cinta dan keimanan adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan. Cinta yang dilandasi iman akan membawa seseorang kepada kemuliaan sebaliknya cinta yang tidak dilandasi iman akan menjatuhkan seseorang ke jurang kehinaan. Cinta dan keimanan laksana dua sayap burung. Al Ustadz Imam Hasan Al Banna mengatakan bahwa ”dengan dua sayap inilah Islam diterbangkan setinggi-tingginya ke langit kemuliaan”. Bagaimana tidak, jikalau iman tanpa cinta akan pincang, dan cinta tanpa iman akan jatuh ke jurang kehinaan. Selain itu iman tidak akan terasa lezat tanpa cinta dan sebaliknya cinta pun tak lezat tanpa iman. Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hurairah ra, dari Nabi Muhammad SAW : ”Barang siapa ingin memperoleh kelezatan iman, hendaklah ia mencintai seseorang hanya karena Allah Ta’ala.” (Riwayat Ahmad, dari Abu Hurairah ra).


Tidak heran ketika ’Uqbah bin Al Harits rela bercerai dengan istri yang sangat dicintainya Ummu Yahya, atas persetujuan Rasulullah SAW hanya karena pengakuan seorang wanita tua bahwa ia telah menyusukan pasangan suami istri itu di saat mereka masih bayi. Allah mengharamkan pernikahan saudara sesusuan. Demikian pula kecintaan Abdullah bin Abu Bakar kepada istrinya, yang terkenal kecantikannya, keluhuran budinya dan keangungan akhlaknya. Karena ayahnya mengamati bahwa kecintaannya tersebut telah melalaikan Abdullah dalam berjihad di jalan Allah dan memerintahkan untuk menceraikan istrinya. Pemuda Abdullah memandang perintah itu dengan kaca mata iman, sehingga dia rela menceraikan belahan jiwanya tersebut demi mempererat kembali cintanya kepada Allah.


Subhanallah, pasangan itu telah bersatu karena Allah, saling mencinta karena Allah, bahkan telah berpisah karena Allah. Cinta kepada Allah di atas segalanya. Bagaimana halnya dengan pasangan yang terlanjur jatuh cinta, atau yang ’pacaran’ atau sudah bercinta sebelum menikah? Hanya ada dua jalan; bersegeralah menikah atau berpisah karena Allah, niscaya akan terasa lezat dan manisnya iman. Dan janganlah mencintai ’si dia’ lebih dari pada cinta kepada allah dan Rasul-Nya.


Dari Anas ra, Rasulullah SAW bersabda : ”Ada tiga hal dimana orang yang memilikinya akan merasakan manisnya iman, yaitu mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi segala-galanya, mencintai seseorang hanya karena Allah, dan enggan untuk menjadi kafir setelah diselamatkan Allah daripadanya sebagaimana enggannya kalau dilempar ke dalam api”. (HR. Bukhari dan Muslim)


Sumber : Ust. H. Aus Hidayat Nur yg ditulis dalam Lembaran Da’wah keluarga ”Marhamah” edisi 884 th 18 1430 H/2009 M