Jumat, Juli 17, 2009

Merenungkan hari akhir

Dewasa ini, dilemma yang kian melanda kaum muslim didunia adalah perhatian akan hari akhir yang sudah semakin buram dan terabaikan oleh kepentingan-kepentingan dunia yang menyita banyak keperluan. Bahkan terkadang sebagian dari mereka hanya melewatkan waktu tanpa ada kesadaran yang terbersit untuk membenahi diri sebagai hamba-Nya, dan merenungkan segala kesalahan yang terjadi pada hari itu. Hal ini dianalogikan ketika melihat manusia bersiap sepenuh kemampuan untuk menghadapi musim dingin dan musim panas, sementara segelintir dari mereka hanya terpapah santai dan tidak mempersiapkan diri untuk menghadapi panasnya api jahanam.


Padahal lafadz iman billah dan yaumil akhir telah jelas tersebutkan dalam Al Qur’an, namun masih banyak manusia yang tidak mengingat saat itu, bahkan menganggapnya sangat jauh. Mereka cenderung mengutamakan dimensi yang lebih dekat, yaitu dunia. Sesungguhnya hanya dengan mendengar nama hari tersebut, sudah dapat menggetarkan perasaan dan membangunkan hati kita yang terlena dan lalai. Beberapa nama hari kiamat yang disebutkan dalam Al Qur’an diantaranya adalah : Al-Rariah (hari yang menggegerkan), Al-Haaqqah (hari yang pasti terjadi), Ash-Shakkhah (suara yang memekakkan telinga), dan nama-nama lain dengan berbagai sifatnya.


“Hai manusia, bertaqwalah kepada Tuhanmu. Sesungguhnya keguncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang dahsyat. Ingatlah pada hari ketika kamu melihat keguncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusui dan menggugurkan kandungan segala wanita yang hamil dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi adzab Allah itu sangat keras” (Al-Hajj : 1-2)


Karena itu wahai saudaraku, mari bersama merenungkan hari akhir dengan segala hal yang akan terjadi di dalamnya serta peristiwa-peristiwa yang dapat memutihkan rambut anak kecil. Mari kita renungkan tiupan pertama sangkakala yang mengisyaratkan tiupan kiamat pada dunia ini, dimana peristiwa itu ditandai dengan beberapa kejadian yang sangat sulit dibayangkan. Hancurnya langit, bertaburannya bintang-bintang, gunung-gunung berterbangan, lautan meluap. Kemudian ditiupkan sangkakala untuk kedua kalinya. Saat itulah terjadi kebangkitan, dan manusia dikumpulkan dalam keadaan telanjang dan tidak beralas kaki.


(Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan) pada hari ketika tiupan pertama mengguncang alam, tiupan pertama itu diiringi oleh tiupan kedua. Hati manusia pada waktu itu sangat takut, pandangannya tunduk. (orang-orang kafir) berkata : “Apakah sesungguhnya kami benar-benar dikembalikan kepada kehidupan semula?”. (Al-Naziat : 6-10)


Setelah itu, marilah kita melongok pada kehidupan setelah mati, yakni saat penghisaban dan penimbangan amal. Bayangkan saat ketika kita dimintai pertanggungjawaban tentang perbuatan kita semasa didunia dahulu. Bagaimana orang gemetar saat dimintai pertanggungjawaban oleh atasannya, bagaimana bila yang meminta pertanggungjawaban adalah Allah SWT.


Di hari itu orang-orang kafir dan orang-orang yang mendurhakai rasul, ingin supaya mereka disamaratakan dengan tanah, dan mereka tidak dapat menyembunyikan (dari Allah) sesuatu kejadianpun (An-Nisa : 42)


Ketika itu, semua kezholiman akan dibalas. Semua orang yang terzholimi akan memperoleh haknya dari orang yang menzholiminya. Pada hari itu juga ada orang yang mendapat kebahagiaan, kesenangan, dan mendapatkan rahmat-Nya. Berdoalah agar kita menjadi salah satu dari yang kaum dengan perlakuan baik itu.

Setelah dihisab, manusia harus melintasi jembatan sirath yang berada diatas neraka jahanam. Ketika kita merenungkan sejenak peristiwa itu dan seolah-olah realita mengantarkan ke depan mata, tentu hati dan jiwa kita akan sangat bergetar ketakutan walau hanya sekedar memikirkannya saja. Mari kita renungkan hadits berikut, ”Manusia akan melewati titian (yang terbentang diatas) neraka jahanam. Disekitarnya terdapat banyak duri, belenggu dan jangkar yang akan menyambar manusia dari kanan dan kiri. Di kedua tepinya ada malaikat yang berdoa, ”Ya Allah selamatkanlah”. Diantara manusia ada yang melintas secepat kilat, ada yang melintasi secepat angin, ada yang melintasinya seperti penunggang kuda, ada yang berlari-lari kecil, ada yang berjalan biasa. Adapun orang yang berhak masuk neraka, maka akan masuk kedalamnya. Di dalamnya mereka tidak mati dan tidak hidup... sementara manusia yang lain disiksa dengan dosa dan kesalahannya. Mereka terbakar hingga menjadi arang, kemudian diizinkan untuk mendapat syafaat.” (Muttafaq a’laih dari Abu Said al Khudri)


Sebahagian dari orang yang beriman ada yang berhak masuk neraka, lalu Allah memberikan karunia kepada mereka dengan menerima syafaat dari orang-orang yang diridhoi, para Nabi, syuhada, shalihin atau lainnya untuk mereka. Marilah kita renungkan sejenak, berfikir dengan penug\h kesadaran bahwa akhiratlah yang saat ini sedang menanti kita. Berdoalah, bersungguh-sungguhlah dalam hidup ini... Allaahumma inni as alukal jannah...


Sumber : Buletin Jum’at Fusi edisi 05/1430 H/2009

Kamis, Juni 18, 2009

Cinta Dan Nafsu

Di jadikan indah pada pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu : wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah lading. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan disisi Allah lah tempat kembali yang baik (surga). (QS. Ali Imran : 14).


Pernahkan Anda jatuh cinta kepada seseorang? Cinta seorang lelaki kepada seorang wanita? Ini pasti dialami oleh anak-anak muda, para remaja, namun juga tidak jarang terjadi bagi seorang yang telah lanjut usia. Cinta kepada sesama lawan jenis merupakan naluri normal manusia. Merasa senang dengan seseorang merupakan hak setiap orang namun sering orang lupa bahwa dibalik ini semua ada nafsu yang bermain.


Naluri dan Syahwat


Perasaan cinta kepada lawan jenisnya yang ada pada tiap diri seseorang manusia adalah normal. Kecintaan kepada sesuatu yang diinginkan, memang sudah menjadi anugerah Allah sejak manusia dilahirkan. Inilah yang dijelaskan dalam Al Qur’an.


Di jadikan indah pada pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu : wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah lading. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan disisi Allah lah tempat kembali yang baik (surga). (QS. Ali Imran : 14).


Ada pengaruh naluri daya tarik antara lawan jenis yang alami, naluri yang ada pada setiap makhluk ciptaan Allah, yang bergerak maupun yang tidak, daya tarik yang merupakan syarat mutlak bagi pengembang biakan makhluk itu. Daya tarik alami ini yang membuat lawan jenis kelamin saling tertarik, saling mendekati lalu terjadi penyatuan yang melahirkan makhluk baru sebagai proses penciptaan yang amat indah dan suci.


Namun disamping naluri yang sifatnya suci dan alami, masuk pula pengaruh nafsu dan dalam cinta asmara, nafsu memainkan peran sepenuhnya sehingga memberikan kesenangan selengkapny kepada manusia yang dilanda cinta. Kenikmatan dirasakan manusia melalui kesenangan yang terkandung dalam panca inderanya. Kalau orang sedang bercinta, mata melihat keindahan pada orang yang dicinta, telinga mendengar kemerduan, hidung menicum keharuman dan segala macam perasaan, sentuhan dan apa saja terasa teramat indah.


Segala macam perasaan yang mengandung susah senang, adalah permainan nafsu. Nafsu memang selalu mempunyai satu arah tujuan, yaitu kesenangan yang dinikmati tubuh melalui panca indera. Anda senang pada makanan tertentu, itu karena nafsu... jika faktor-faktor indera yang mendorong anda menyukainya... misalnya karena enak dilihat, menyenangkan keetika dipandang.


Namun, karena nafsu memegang peran yang begitu besarnya, maka seperti akibat daripada permainan nafsu, semua kesenangan itu setiap saat dapat berubah menjadi kesusahan. Kesenangan dalam cinta yang didasari nafsu itu dalam sekejap mata dapat berubah menjadi kebalikannya, yaitu kesusahan kalau penyebab kesenangan itu lepas dari tangan. Simaklah kisah cinta asmara yang digambarkan Allah dalam Alqur’an, yaitu cinta istri Al Aziz kepada Nabi Yusuf AS.


Dan wanita-wanita dikota berkata: ” Istri Al Aziz mengoda bujangnya untuk menundukkan dirinya (kepadanya), sesungguhnya cintanya kepada bujangnya itu adalah sangat mendalam. Sesungguhnya kami memandangnya dalam kesesatan yang nyata : (QS. Yusuf : 30)


Maka tatkala wanita itu (Zulaikha) mendengar cercaan mereka, diundangnyalah wanita-wanita itu dan disediakannya bagi mereka tempat duduk, dan diberikannya kepada masing-masing mereka sebuah pisau (untuk memotong jamuan), kemudian dia berkata (kepada Yusuf) :” Keluarlah (nampakkanlah dirimu) kepada mereka ”. Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepada (keelokan rupa)nya, dan mereka melukai (jari) tanganya dan berkata :” Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mula”. (QS. Yusuf:31)


Wanita itu berkata : ” Itulah dia orang yang kamu cela aku karena (tertarik) kepadanya, dan sesungguhnya aku telah mengoda dia untuk menundukkan dirinya (kepadaku) akan tetapi dia menolak. Dan sesungguhnya jika dia tidak mentaati apa yang aku peerintahkan kepadanya, niscaya dia akan dipenjarakan dan dia akan termasuk golongan orang-orang yang hina ”. (QS. Yusuf : 32)


Tertipu Kesenangan Sesaat


Cinta asmara antara pria dan wanita merupakan suatu perasaan manusia yang paling rumit dan aneh. Cobalah simak apa yang dilakukan wanita itu ketika cintanya yang didasari hawa nafsu ditolak oleh Nabi Yusuf AS. Cinta dengan mudah menjadi kebencian bahkan keinginan untuk mencelakakan yang dicintai...


Diantara manusia ada yang berkata, ”Tidak ada kesenangan melebihi senangnya orang bercinta, dan tidak ada kesusahan hati melebihi orang gagal dalam bercinta! Dunia seakan kiamat, harapan seakan-akan hancur lebur, hidup seakan-akan tiada artinya lagi!”. Pernyataan itu muncul, sebagai gambaran betapa banyak korban cinta nafsu. Dalam saat seperti itu, betapa banyaknya orang yang kurang tabah dan kurang sadar melakukan perbuatan dungu seperti bunuh diri, atau membunuh orang yang menggagalkan cintanya termasuk orang yang dicintainya itu sendiri. Dalam mabuk cinta, kita lupa bahwa segala kesenangan itu ada batasnya, dan tidak abadi.


Jelas bahwa nafsu yang bermain di dalam cinta kasih tidak abadi pula. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (QS. Alhadid : 20)


Siapa pun dapat menjadi korban dari ketertipuan cinta nafsu itu. Ketika gagal mendapatkan sesuatu yang didambakannya merasa seolah-olah hidupnya hancur lebur. Dalam keadaan seperti itu, ia tidak tahu bahwa kesusahan, seperti juga kesenangan, tidak abadi, bahkan tidak panjang umurnya, walaupun dibandingkan kesenangan, kesusahan lebih lama dirasakan manusia. Tidak mungkin senang terus tanpa kesusahan, seperti tidak mungkinnya susah terus tanpa kesenangan. Bahkan di waktu siang hari pun, tidak selalu terang benderang, kadang-kadang digelapkan awan mendung, dan malam gelap gulita pun kadang-kadang diterangi bulan atau bintang-bintang. Dalam keadaan senang, orang lupa bahwa kesusahan sudah berada diambang pintu. Dalam keadaan susah, seseorang seolah-olah merasa bahwa tidak ada harapan lagi dan selalu dia akan menderita susah, seperti sakit yang tak mungkin dapat diobati lagi.


Yang abadi adalah sesuatu yang datangnya bukan dari nafsu yang menggelimangi hati akal pikiran. Yang asli dan abadi adalah cinta yang tidak dikotori nafsu dan cinta inilah yang menjadi dasar dari segala perasaan yang baik, cinta ini yang biasa kita namakan dengan rahmat Allah. Rahmat Allah ini terdapat dalam sinar matahari, dalam titik-titik air hujan, dalam gelombang samudera, dalam bersilirnya angin semilir, dalam merekahnya dan harumnya bunga-bunga, dalam senyum ranum dan matangnya buah-buahan, dalam air mata seorang ibu dalam belaian tangannya, dalam pandangan mata seorang ayah, dalam tangis seorang bayi dan masih banyak lagi. Itulah cinta yang bersumber dari Allah dan sesuai ajaran agama-Nya Al Islam.


Melalui ajaran Islam Allah membimbing manusia untuk hidup dalam cinta_nya agar ia dapat mencintai sesamanya dengan tetap berada dalam rahmat-Nya.


Cinta dan Keimanan


Dalam Islam cinta dan keimanan adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan. Cinta yang dilandasi iman akan membawa seseorang kepada kemuliaan sebaliknya cinta yang tidak dilandasi iman akan menjatuhkan seseorang ke jurang kehinaan. Cinta dan keimanan laksana dua sayap burung. Al Ustadz Imam Hasan Al Banna mengatakan bahwa ”dengan dua sayap inilah Islam diterbangkan setinggi-tingginya ke langit kemuliaan”. Bagaimana tidak, jikalau iman tanpa cinta akan pincang, dan cinta tanpa iman akan jatuh ke jurang kehinaan. Selain itu iman tidak akan terasa lezat tanpa cinta dan sebaliknya cinta pun tak lezat tanpa iman. Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hurairah ra, dari Nabi Muhammad SAW : ”Barang siapa ingin memperoleh kelezatan iman, hendaklah ia mencintai seseorang hanya karena Allah Ta’ala.” (Riwayat Ahmad, dari Abu Hurairah ra).


Tidak heran ketika ’Uqbah bin Al Harits rela bercerai dengan istri yang sangat dicintainya Ummu Yahya, atas persetujuan Rasulullah SAW hanya karena pengakuan seorang wanita tua bahwa ia telah menyusukan pasangan suami istri itu di saat mereka masih bayi. Allah mengharamkan pernikahan saudara sesusuan. Demikian pula kecintaan Abdullah bin Abu Bakar kepada istrinya, yang terkenal kecantikannya, keluhuran budinya dan keangungan akhlaknya. Karena ayahnya mengamati bahwa kecintaannya tersebut telah melalaikan Abdullah dalam berjihad di jalan Allah dan memerintahkan untuk menceraikan istrinya. Pemuda Abdullah memandang perintah itu dengan kaca mata iman, sehingga dia rela menceraikan belahan jiwanya tersebut demi mempererat kembali cintanya kepada Allah.


Subhanallah, pasangan itu telah bersatu karena Allah, saling mencinta karena Allah, bahkan telah berpisah karena Allah. Cinta kepada Allah di atas segalanya. Bagaimana halnya dengan pasangan yang terlanjur jatuh cinta, atau yang ’pacaran’ atau sudah bercinta sebelum menikah? Hanya ada dua jalan; bersegeralah menikah atau berpisah karena Allah, niscaya akan terasa lezat dan manisnya iman. Dan janganlah mencintai ’si dia’ lebih dari pada cinta kepada allah dan Rasul-Nya.


Dari Anas ra, Rasulullah SAW bersabda : ”Ada tiga hal dimana orang yang memilikinya akan merasakan manisnya iman, yaitu mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi segala-galanya, mencintai seseorang hanya karena Allah, dan enggan untuk menjadi kafir setelah diselamatkan Allah daripadanya sebagaimana enggannya kalau dilempar ke dalam api”. (HR. Bukhari dan Muslim)


Sumber : Ust. H. Aus Hidayat Nur yg ditulis dalam Lembaran Da’wah keluarga ”Marhamah” edisi 884 th 18 1430 H/2009 M

Kamis, Mei 28, 2009

Amirah Catering & Bridal Decoration

Amirah Catering & Bridal Decoration
Internasional & Tradisional

Suparmadi

Jl. Jasawarga Gg. Damai Raya No.117 Rt.005 Rw.21
Depok Timur 16418
Phone: 081282407371


Contoh Dekorasi:































































































Dekorasi Gate


Dekorasi Model Gebyok Variasi


Dekorasi Model Kertas Kaca Varisi tirai salem dan pilar bunga


Dekorasi Model Kertas Kaca

Panjang Dekorasi +/- 12 M dengan kertas kaca variasi pilar-pilar bunga artificial 5 Rangkaian bunga untuk belakang pengantin dan kiri kanan orang tua depan mini garden

Dekorasi Model Mahkota Sunda Irza

Panjang dekorasi +/- 14 M dengan hiasan strofon 5 rangkaian bunga Depan mini garden

Dekorasi Model Istana Tirai unggu


Dekorasi model Subur variasi tirai

Panjang dekorasi +/- 12 m dengan bunga artificial 4 Rangkaian bunga fresh untuk kiri kanan pengantin dan orang tua depan rangkaian bungan artifial memanjang


Dekorasi Model Palembang



Dekorasi Model Kertas Kaca

Panjang Dekorasi +/- 12 M dengan kertas kaca variasi pilar-pilar bunga artificial 5 Rangkaian bunga untuk belakang pengantin dan kiri kanan orang tua depan mini garden


Dekorasi Model Taman



Dekorasi Model Subur Deptan



Dekorasi Model Bambu



Dekorasi Model Gebyok Variasi Palimanan air terjun

Panjang dekorasi +/- 12 m dengan rangkaian bunga fresh belakang bambu 4 Rangkaian bunga untuk kiri kanan pengantin dan orang tua Depan mini garden


Dekorasi Model Batak Rumah Gorga Variasi



Dekorasi Model Gebyok Full Fresh


Rabu, Mei 27, 2009

Keputusan Tepat

Sesungguhnya orang mukmin yang cerdas adalah orang yang selalu tegas dalam memutuskan. Dalam bersikap, dia tidak plin-plan. Sifat ragu-ragu senantiasa dibuang jauh-jauh. Allah SWT berfirman, ''Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasulnya, kemudian mereka tidak ragu-ragu..''(QS.Alhujurat [49]:15).


Ayat di atas mengisyaratkan orang mukmin dituntut cerdik dalam bersikap. 'Aid bin Abdullah Al Qorni dalam bukunya La Tahzan mengatakan, orang cerdik adalah orang yang mengetahui urusan yang dijalaninya dapat tuntas atau tidak, membawa kebaikan atau tidak, dapat dilanjutkan atau tidak. Sehingga, ia akan bertindak cepat dalam
memutuskan, bukan sebaliknya, menghabiskan waktu karena sibuk memutuskan.


Imam Muslim meriwayatkan Rasulullah mengilustrasikan kegamangan orang munafik dengan seekor kambing yang kebingungan di antara dua kelompok. ''Perumpamaan orang munafik adalah seperti kambing buta yang berada di antara dua kambing, sesekali berjalan ke salah satu kambing dan berjalan ke kambing yang lain di lain waktu.'' (HR Muslim).

Sebagaimana firman Allah dalam surat At Taubah ayat 45, seorang Muslim sebaiknya jauh dari sikap 'selalu bimbang dalam keragu-raguannya'. Seringkali setelah mengambil keputusan, keraguan memang acap datang dan timbul dengan sendirinya.


Bahkan, Nabi Yunus AS dengan tegas menyarankan kaumnya yang diduga tidak setia padanya tidak ragu mengambil langkah. ''.... Bulatkanlah keputusanmu dan (kumpulkanlah) sekutu-sekutumu (untuk membinasakanku), kemudian janganlah keputusanmu itu dirahasiakan, lalu lakukanlah terhadap diriku dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku.'' (QS Yunus [10]:71).


Bila keputusan sudah diambil, pantang bagi orang yang berpegang pada keyakinannya membiarkan diri dalam kebimbangan. Rasulullah bersabda, ''Janganlah kamu katakan 'kalaulah aku mengerjakan seperti ini', tapi katakanlah 'takdir Allah'. Sesungguhnya kata 'kalaulah' bakal membukakan amal setan.'' (HR Muslim).


Teguh memegang komitmen dan pantang berbalik ke belakang, begitulah semestinya tindak lanjut setelah keputusan diambil. Wallahu a'lam bish- shawab.

Sumber : Teguh Hudaya

Jumat, Mei 01, 2009

Jika Esok Tak Pernah Datang

Oleh Bayu Gawtama

Setiap bangun tidur dan membuka mata, yang terucap adalah kalimat syukur bahwa Allah masih mengizinkan diri ini kembali melihat fajar. Merasai hembusan angin pagi yang menerobos celah jendela, dan menjumpai semua yang semalam terlihat sebelum mata terpejam masih seperti sedia kala, tidak ada yang berubah.

Kemudian melangkahlah dengan iringan doa di gerbang mungil menuju arena perjuangan kehidupan. Dengan tuntunan-Nya lah diri ini tak melangkah ke jalan yang salah, tak menjamah yang bukan hak, tak melihat yang dilarang, tak memamah yang tak halal, tak mendengar yang batil, dan tak banyak melakukan yang sia-sia. Karena setiap waktu yang terlewati pasti akan ditagih tanggungjawabnya. Lantaran semua jalan yang dilalui akan dimintai kesaksiannya atas diri ini. Dan sebab seluruh indera ini akan diminta bicara tentang apa-apa yang pernah tercipta.

Hari ini, masih ada lalai terbuat. Masih juga lengah sehingga khilaf tercipta. Meski segunung tausyiah pernah didengar, mulut ini masih terselip berucap dusta, saringan telinga ini tetap tak mampu membendung suara-suara melenakan, dan masih saja ada perbuatan yang salah, walau itu dalam bingkai alpa. Padahal, di setiap terminal ruhiyah, sedikitnya lima kali sehari lidah ini berucap, tangan ini tertengadah, dan mata menitikkan butir bening, seraya memohon perlindungan dari Allah dijauhkan dari salah dan dosa. Tetapi, masih juga langkah ini menuju arah yang sesat.

Setiap hari menangis, setiap hari meminta ampunan, setiap hari berbuat salah. Hari ini mencipta dosa, esok sibuk bersujud, meluluhkan air mata, menyusun kalimat doa, menganyam pinta semoga Allah menghapusnya dalam sekejap. Detik ini berbuat salah, terlalu lama menghapusnya, bahkan kadang lupa. Padahal, bisa saja sedetik kemudian diri ini tak lagi sempat memohon ampunan. Lupakah bahwa waktu sangat cepat berlalu. Lupakah pula bahwa menyesal di akhirat hanyalah kesiaan yang nyata?

Bagaimana jika hari esok tak pernah datang, padahal baru saja seharian ini berenang di lautan dosa. Padahal belum sempat menghapus noda hari ini, kemarin, sepekan yang lalu, setahun lalu, dan bertahun-tahun yang lalu.
Bagaimana jika Allah tak berkenan membukakan mata kita setelah sepanjang malam terlelap? bagaimana jika perjumpaan dan canda riang bersama keluarga semalam adalah yang terakhir kalinya. Ketika esok harinya ruh ini melihat seluruh keluarga menangisi jasad diri yang terbujur kaku berkafan putih.

Bagaimana jika matahari esok terbit dari barat, tak seperti biasanya dari timur? Padahal hari ini lupa menyebut nama-Nya. Padahal di hari ini, belum sempat mengunjungi satu persatu keluarga, kerabat, sahabat, tetangga, dan orang-orang yang pernah tersakiti oleh lidah dan tindakan kita. Sudah terlalu lama tak mencium kaki orang tua mencari keridhaannya, walau tak
terhitung salah diri. Belum lagi sempat berderma, setelah derma kecil beberapa tahun lalu yang sering kita banggakan.

Dan jika memang esok tak pernah datang. Sungguh celakalah diri ini.
Benar-benar celaka, bila belum sempat mencuci dosa sepanjang hidup. Bila belum mendengar ungkapan maaf dari orang-orang yang pernah terzalimi, bila belum menyisihkan harta yang menjadi hak orang lain, bila belum sempat meminta ampun atas segala salah dan khilaf yang tercipta.

Maka, saat pagi ini Allah masih memperkenankan diri menikmati fajar, mulaikan hari dengan kalimat, "terima kasih, Allah"