Senin, Maret 16, 2009

Ruh Amal adalah Ikhlas

Setiap hamba memiliki kemampuan dan kemauan dalam beribadah yang berbeda-beda. Ada yang rajin shaum senin-kamis, ada yang khusyu dalam shalat, ada yang kuat dalam wirid & zikir, ada yang jujur dalam dagang, dan ada pula yang tekun dalam mempelajari ilmu. Tekun dan rajin beribadahnya seorang hamba adalah tingkat ma’rifat kepada-Nya. Banyaknya amal ibadah seorang hamba juga merupakan tanda sifat ihsan dalam dirinya.

Sedangkan nilai ibadah seorang hamba dihadapan Allah ditunjukkan dengan ikhlasnya dalam beramal. Tanpa keikhlasan takkan berarti apa-apa amal seorang hamba. Sedekah dengan mewakafkan seluruh harta yang dimiliki, kalau sekedar ingin disebut dermawan, sama sekali tidak bernilai apapun. Bekerja siang malam, bersimbah peluh, berkuah keringat demi menafkahi anak dan istri, kalau tidak ikhlas maka tidak ada nilainya disisi Allah.

Ceramah agama dengan memberikan nasihat, mengemukakan dalil-dalil, kalau sekedar memamerkan kemampuan berbicara, kemampuan berbahasa arab dan memamerkan banyaknya hafalan Qur’an dan Hadits maka walau sampai berbusa sekalipun tidak ada nilainya disisi Allah.

Shalat sunah berpuluh rakaat setiap hari, kalau sekedar ingin disebut sebagai ahli ibadah, ingin dipuji oleh mertua atau pimpinan maka shalatnya itu hanya sebagai gerakan-gerakan yang tiada arti dan tak ternilai dihadapan Allah.

Subhanallah, sungguh beruntung bagi siapapun yang amalnya selamat dari tujuan lain selain Allah, yaitu seorang hamba yang amal-amalnya menjauhi motif-motif duniawi karena diniatkan ikhlas karena Allah semata. Inilah derajat mukhlisin yaitu derajat hamba yang amal ibadahnya tegak dan kokoh dengan ikatan iman dan dilaksanakan dengan ikhlas. Karena dia menyadari bahwa ikhlas adalah ruh amal yang menunjukan tegaknya iman.

Imam Ibnu Atho’illah dalam kitabnya Al Hikam berujar, “Beraneka jenis amal yang nampak itu adalah karena beraneka ragam keadaan yang datangnya dari dalam hati seorang hamba. Beraneka ragam amal yang nampak itu merupakan kerangka yang tegak, sedang ruhnya adalah wujud rahasia ikhlas yang ada didalamnya’.

Jelaslah bahwa nilai ibadah seorang hamba dihadapan Allah ditunjukkan oleh ikhlasnya dalam beramal. Seorang hamba ahli ikhlas akan dengan sungguh-sungguh berusaha untuk tidak menyertakan kepentingan pribadi ataupun imbalan duniawi dari apa yang dapat ia lakukan. Konsentrasi seorang hamba ahli ikhlas hanya satu, yakni bagaimana agar apa yang dilakukannya diterima Allah Azza wa Jalla. Dengan kata lain, seorang hamba ahli ikhlas akan mengutamakan pandangan Allah daripada pandangan manusia.

Berbuat amal ibadah bagi seorang hamba ahli ikhlas adalah dengan menyembunyikannya dari pandangan manusia sebagaimana dia menyembunyikan keburukan-keburukannya. Bahkan ikhlasnya seorang hamba ahli ikhlas akan nampak bahwa ia tidak melihat terhadap ikhlas itu sendiri. Sebab jikalau ia menyaksikan keikhlasan dalam ikhlasnya, berarti ikhlasnya tersebut memerlukan keikhlasan lagi, subhanallah.

Lawan ikhlas adalah isyrak, artinya bercampur dengan yang lain. Ibarat air, ikhlas adalah air bening yang muncul dari mata air pegunungan yang berlum tercampuri walau oleh satu titik noktah pun zat lain didalamnya. Ikhlas adalah bersih, bening, tanpa campuran sedikitpun. Suatu pekerjaan yang bersih dari maksud lain, maka pekerjaan itu telah dilakukan dengan ikhlas. Amal ibadah yang dilakukan hanya karena Allah semata, itulah ikhlas.

Untuk mengapai derajat hamba ahli ikhlas, seseorang harus rela mengorbankan segala kepentingan yang sifatnya pribadi, yang secara duniawi sepertinya dibutuhkan; harta, jabatan, ketenaran, dsb. Karenanya, sikap jujur, tulus dan lurus tidak dapat dipisahkan dari ikhlas. Jujur dalam berkata, tulus dalam beramal, lurus dalam berniat adalah buah dari hati yang ikhlas.

Berkata dusta, lain dibibir dihati adalah tanda kemunafikan. Mulutnya berkata, “semua ini saya lakukan karena Allah...” padahal dalam hatinya bersarang keinginan untuk dipuji, keinginan untuk terkenal, keinginan mendapat penghargaan dsb. Orang yang berkata lain dibibir lain dihati inilah golongan pendusta, nauzubillah.

Adapun bagi orang-orang yang telah sampai pada maqam ikhlas, maka keikhlasan ini akan membuat pribadinya lebih tenang, lebih kuat dan mantap. Keikhlasan menjadikan pribadinya lebih berani, kokoh, tegar, penuh dengan cahaya keindahan.

Sedangkan keikhlasan dalam beramal akan menjadikan amal tersebut terasa nikmat dan mudah, yang pada akhirnya membuat jiwa menjadi merdeka dan tidak diperbudak oleh apapun selain oleh Allah. Tak dapat dipungkiri, hal ini memang karena ruhnya amal adalah ikhlas. Tanpa keikhlasan akan berat dan sia-sialah setiap amal. Oleh karenanya, keikhlasan adalah satu-satunya jalan pintas menuju ridha dan kasih saying Allah.


***

Rasulullah SAW pernah berkisah, “Manusia yang mula-mula akan ditanya di hari kiamat adalah tiga orang; Orang pertama adalah orang yang diberi Allah ilmu pengetahuan. Pada waktu Allah Azza wa Jalla bertanya, “Apakah yang sudah kamu perbuat dengan ilmu yang engkau ketahui itu ?” Ia menjawab, “Ya Rabbi, dengan ilmu hamba itu, hamba bangun ditengah malam (untuk shalat malam), lalu hamba berjaga ditepi siang (untuk mengajarkan ilmu kepada orang yang memerlukannya)”.

Allah berfirman “Engkau dusta!” Malaikatpun berkata, “Engkau dusta! Engkau lakukan semua itu hanyalah supaya engkau disebut sebagai orang alim”. Memang demikianlah perkataan orang terhadap dirinya.

Orang kedua adalah seorang laki-laki yang Allah beri harta kekayaan, maka Allah bertanya, “Engkau telah kami beri amanah harta, apakah yang engkau perbuat dengan harta itu?”. Dia menjawab, “Ya Rabbi, harta benda itu semuanya telah hamba sedekahkan pada tengah malam dan siang hari”. Allah berfirman “Engkau dusta!” Malaikatpun berkata, “Engkau dusta! Engkau lakukan semua itu hanyalah supaya engkau dikatakan sebagai seorang dermawan”. Memang demikianlah yang dikatakan orang terhadap dirinya.

Orang ketiga adalah laki-laki yang terbunuh dalam perang mempertahankan agama Allah, maka Allah bertanya, “Apakah yang telah engkau kerjakan?”. Ia menjawab, “Ya Rabbi, Engkau suruh hamba berjihad, maka pergilah hamba kemedan perang, lalu hamba mati terbunuh”. Allahpun berkata. “Engkau dusta!” Dan malaikatpun berkata, “Engkau dusta! Engkau lakukan semua itu hanyalah supaya dikatakan orang bahwa engkau gagah berani”. Memang yang demikianlah perkataan orang terhadap dirinya.

Setelah berkata demikian, Rasulullah SAW melanjutkan, Wahai Abu Hurairah, mereka itulah makhluk yang paling pertama merasakan api neraka jahanam di hari kiamat”.
Menjadi jelas kiranya, ternyata bukan perbuatan manusia yang berdusta, tapi ting dasar tegaknya, yaitu sikap ikhlas dalam amalnya. Bagi seorang hamba ahli ikhlas, apapun yang dilakukannya bebas dari selera rendah, berupa keinginan untuk dihargai, dipuji, dan dihormati. Konsentrasinya seluruh amalnya tertuju hanya kepada Allah semata.

Sumber : Abdullah Symnastiar (MQS pustaka grafika)

Rabu, Februari 18, 2009

Al Qur'an Abadi

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar neneliharanya” (QS. Al- Hijr :9)


Janji Allah ini mestinya membuat setiap muslim makin dekat dengan Al Qur’an dan makin beriman kepada Allah. Karena melalui ayat ini, Allah SWT seolah-olah berbicara langsung kepada manusia dan menjawab keraguan sebagian manusia yang tidak atau belum percaya sepenuhnya dengan Al Qur’an.


Salah satu metode menjaga kemurnian Al Qur’an adalah melalui mekanisme penghafalan dan penulisan. Banyak penghafal Al Qur’an yang langsung menghafal dan mengingat ayat-ayat yang baru diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Para penghafal ini disebut Hafidz Al Qur’an, dan hingga kini tradisi penghafalan tersebut masih terus berlangsung dalam masyarakat islam.


Mekanisme lain adalah penulisan. Ayat-ayat yang baru turun langsung dicatatkan dikulit kayu, batu yang tipis dan licin, pelapah tamar (korma), kulit binatang, kepingan tulang atau media sederhana lainnya. Penulisan ini umumnya dilakukan oleh Zaid bin Tsabit. Penulis-penulis lain yang terkenal adalah Abu Bakar as-Shidiq, Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit dan Mu’awiyah bin Abu Sufyan.


Begitu suatu ayat diturunkan, Nabi aka menyuruh agar ayat tersebut dihafal dan dituliskan, untuk kemudian disusun dalam urutan-urutan setiap ayat dalam suratnya. Nabi membuat peraturan bahwa hanya Al Qur’an saja yang boleh dituliskan. Selain dari itu, yakni hadits dan pelajaran-pelajaran yang didengar dari mulut Nabi dilarang dituliskan. Larangan ini dimaksudkan agar Al Qur’an terpelihara kemurniannya, tidak tercampur aduk dengan hal-hal yang didengar oleh umat islam dari Nabi. Selain dihafal dan dituliskan, Nabi juga memerintahkan agar ayat-ayat tersebut selalu dibaca dan diwajibkan membacanya dalam shalat. Dengan Metode ini banyak umat islam yang mampu menghafal Al Qur’an.


Pada masa pemerintahan Abu Bakar as-shidiq, naskah yang terpisah-pisah tersebut dikumpulkan. Hal ini diawali dengan kekhawatiran Umar bin Khattab menyusul tewasnya sejumlah penghafal Al Qur’an dalam perang Yamamah yang berlangsung tak lama setelah kematian Nabi SAW. Melihat kenyataan ini, umar menjadi risau akan masa depan Al Qur’an. Oleh karenanya, ia lalu mengusulkan kepada khalifah Abu Bakar as-shidiq agar tulisan-tulisan ayat-ayat Al Qur’an yang pernah ditulis semasa hidup Rasul dikumpulkan. Abu Bakar mulanya ragu untuk menerima usulan Umar, sebab pengumpulan seperti yang dimaksudkan Umar tidak dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Namun, Umar akhirnya dapat meyakinkan Abu Bakar akan pentingnya upaya pengumpulan tersebut. Keduanya lalu sepakat untuk membentuk tim yang diketuai Zaid bin Tsabit dalam rangka melaksanakan tugas berat tersebut.


Serupa dengan Abu Bakar, Zaid pun pada mulanya merasa sangat berat dan ragu untuk menerima tugas tersebut. Barulah setelah diyakinkan, Zaid mau menerima tawaran tersebut. Dengan dibantu beberapa orang sahabat Nabi, Zaid memulai tugasnya. Sementara itu, Khalifah Abu Bakar memerintahkan kepada seluruh kaum muslimin untuk membawa naskah tulisan Al Qur’an yang mereka miliki ke mAsjid Nabawi, untuk kemudian diteliti oleh Zaid dan timnya. Sebagai panduan kerja bagi Zaid, Abu Bakar memberi petunjuk agar tim tersebut tidak menerima naskah yang tidak mampu memenuhi dua syarat, yakni : pertama, harus sesuai dengan hafalan sahabat lain. Kedua, tulisan tersebut benar-benar tulisan yang ditulis berdasarkan perintah Nabi SAW dan dituliskan dihadapan beliau. Sementara itu, untuk memenuhi kedua syarat tersebut harus terdapat dua saksi mata.


Dengan sangat teliti dikumpulkannya ayat-ayat Al Qur’an untuk ditulis dalam lembaran-lembaran kertas yang disebut shuhuf-shuhuf. Lembaran-lembaran tersebut setelah diikat dan disusun menurut urutan-urutan ayatnya seperti yang ditetapkan oleh Rasulullah, kemudian diserahkan kepada Abu Bakar hingga saat wafatnya, sehingga dipindahkan kerumah Umar bin Khattab. Setelah khalifah kedua ini wafat, naskah tersebut dipindahkan kerumah putrid Umar, Hafsah, yang juga adalah istri Rasulullah SAW


Semasa kepemimpinan Utsman bin Affan, timbul perbedaan dikalangan umat islam mengenai soal Qira’ah (cara membaca Al Qur’an). Hal ini disebabkan karena masing-masing kabilah membaca dan menghafalkan Al Qur’an menurut lahjah (dialek) mereka masing-masing. Sebab timbulnya variasi pelafalan ini dapat dirunut kebelakang kepada kelonggaran yang diberikan oleh rasulullah SAW, dalam membaca dan melafalkan Al Qur’an. Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah mereka menghafal Al Qur’an.


Menanggapi kenyataan ini, Huzaifah bin Yaman mengusulkan kepada Khalifah Utsman agar menetapkan aturan penyeragaman bacaan Al Qur’an dengan membuat mush-haf Al Qur’an standar yang kelak akan dijadikan pegangan bagi seluruh umat islam di berbagai wilayah. Khalifah Utsman lalu membentuk sebuah panitia yang terdiri dari Zaid bin Tsabit (ketua), Abdullah bin Zubair, Said bin Ash dan Abdur Rahman bin Haris bin Hisyam. Untuk keperluan penyalinan tersebut, lembaran-lembaran yang ada pada hafsah diminta untuk kemudian disalin menurut dialek Quraisy (Catatan : Al Qur’an diturunkan melalui dialek Quraisy).


Setelah proses penyalinan selesai, Al Qur’an yang berbentuk buku ini dinamakan Al-Mushhaf Utsmani, dengan lima salinan. Empat salinan dikirim ke Mekkah, Syria, Basrah dan Kufah, untuk dibuatkan salinan berikutnya dari Al-Mushhaf, satu salinan tetap berada di Madinah dikenal sebagai Mushhaf Al Imam untuk Khalifah Utsman sendiri. Langkah Utsman selanjutnya adalah mengumpulkan semua lembaran-lembaran yang bertuliskan Al Qur’an yang ditulis sebelum itu dan membakarnya. Dari Mushhaf yang ditulis semasa pemerintahan Utsman itulah umat islam kemudian membuat salinan Al Qur’an berikutnya, hingga kini.


Mushhaf ini membawa kegunaan besar bagi umat Muslim karena menyatukan umat Muslim pada satu macam Mushhaf dengan ejaan tulisan yang seragam. Mushhaf inipun berperan besar dalam menyatukan bacaan Al Qur’an. Kendatipun masih terdapat perbedaan bacaan, namun kesemuanya tidak berlawanan dengan ejaan Mushhaf Utsmani. Sementara itu bacaan-bacaan yang tidak sesuai dengan ejaan Mushhaf Utsman tidak diperbolehkan lagi. Makna penting lain yang dibawa oleh Mushhaf Utsmani adalah penyeragaman urutan surat-surat sebagaimana yang kita dapati dewasa ini.


Hal ini telah ditegaskan sendiri oleh Allah SWT dalam firman-Nya, “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” (QS. Al Hijr : 9).


Para Penjaga Al Qur’an


Para penjaga Al Qur’an yang disebut dengan hafidz dan hafidzah selalu ada sepanjang zaman, mulai dari zaman Rasulullah SAW., Khulafaur Rasyidin, Tabi’in dan Tabi’t Tabi’in. Mereka sengaja dikirim oleh Allah SWt untuk menjaga kemurnian Al Qur’an dari orang-orang yang sengaja berupaya untuk menyimpangkan isi Al Qur’an. Kita mengenal Zaid bin Tsabit dan Ibnu Abbas para penghafal Al Qur’an di masa Rasulullah SAW.


Pada masa-masa setelah itu, para penghafal Al Qur’an selalu ada pada setiap zaman. Di antara mereka ada Ibnu Taimiyah, seorang pemikir islam yang sangat terkenal. Kecemerlangan otaknya sudah tampak pada usia belia. Al Qur’an sudah mampu dihafalkannya sewaktu usianya belum baligh. Bahkan, pada usia 22 tahun Ibnu Taimiyah sudah mengajar diperguruan Darul Hadits Al-Syukriyyah, sekolah ternama yang hanya mau menerima tenaga pengajar pilihan.


Selain itu, ada Ibnu Sina yang berhasil menghafal seluruh Al Qur’an pada usia sepuluh tahun, Ibnu Sina dikenal sebagai orang yang gemar menimba ilmu. Beliau tidak akan tidur malam, kecuali setelah banyak membaca. Dan tidak akan siang, kecuali setelah mendapat ilmu pengetahuan pada hari itu, Ibnu Sina berhasil menguasai ilmu fiqih dan filsafat pada usia 18 tahun.


Imam Ahmad bin Muhammad bin Hambal, yang telah dikenal dengan Imam Hambali, hafal Al Qur’an pada usia 14 tahun. Beliaulah yang tetap konsisten mengatakan, “Al Qur’an adalah kalam Allah bukan makhluk,” meski siksaan mendera dirinya.


Imam Syafi’i yang bernama Muhammad bin Idris hafal Al Qur’an 30 juz pada usia sembilan tahun. Umur 19 tahun telah mengerti isi kitab Al Muwatha’, karangan Imam Malik, tidak lama kemudian Al Muwatha’ telah dihafalnya. Kitab Al Muwatha’ tersebut berisi hadits-hadits Rasulullah SAW., yang dihimpun oleh Imam Malik, karena kecerdasannya, pada umur 15 tahun beliau telah diizinkan memberi fatwa dihadapan masyarakat dan menjadi mufti di Masjidil Haram.


Zaman modern sekarang ini, kita mengenal Abdullah bin Muhammad Jabr, lahir di kota Wadi Jadid Mesir 29 Syawal 1405H (7 Juli 1985). Dia selesai menghafal Al Qur’an 30 juz pada usia tujuh tahun, tepatnya pada tanggal 10 September 1992. Setelah itu, Abdullah menghafal Asy-Syarif dimulai dengan menghafal Arbain Nawawi. Selanjutnya pada 6 Juli 1994, Ia menyelesaikan hafalan kitab Al-Lu’lu-u Wal Marjan yang direkomendasikan oleh Syekh Bukhari Muslim. Abdullah terus berpacu dengan waktu, Ia pun berhasil menghafal Mukhtashar Shahih Bukhari yang disusun oleh Az Zabidi dan menghafal Mukhtashar Shahih Muslim yang disusun oleh Munziri. Selanjutnya berturut-turut, Abdullah menghafal Matan Bikuniyah dalam Ilmu Hadits; menghafal Manzuma Sullamul Wushul ila ‘ilmil Ushul. Saat ini Abdullah sedang menghafal Matan Syatibiyah dalam Qira’at Sab’ah dan telah selesai dua pertiganya.


Kitapun bisa menjaga Al Qur’an. Kalaupun sulit, semoga kita termasuk orang-orang yang termotivasi untuk mendidik anak-anak kita menjadi penjaga Al Qur’an. Wallahu a’lam bishshawab.


Sumber : Syamsu Hilal : Buletin Jum’at Bapekis 1425H

Kamis, Januari 08, 2009

Kekayaan yang Tiada Habis, Inginkah Engkau memilikinya? (Faktor pendukung untuk memiliki sikap qona'ah)

"Ketika seorang mukmin memahami nilai dunia dan hakikat kehidupan di dunia; ketika hati seorang mukmin digenangi oleh keimanan dan makrifat tentang Allah Subhanahu wa Ta'ala, nama-nama, dan sifat-sifat-Nya; maka ketika itu; dari pemahaman dan keimanan itu, akan lahirlah karakter mental yang sungguh berharga, yaitu qona'ah. Itulah sebuah harta kekayaan yang tidak ada habisnya." Demikian yang disampaikan oleh Syaikh Abdullah bin Abdul Hamid Al Atsari dalam bukunya "Qona'ah, Kekayaan Tiada Habisnya."

Qona'ah - merasa cukup dengan apa yang ada- sebuah kata yang mudah untuk diucapkan, namun sulit untuk dipraktikkan. Terlebih di zaman ini, dimana kita melihat begitu banyak manusia mengalami "kegilaan" terhadap dunia beserta isinya. Di zaman sekarang ini, sulit rasanya untuk mewujudkan kekayaan yang tiada habisnya ini hanya dengan nasihat singkat, "Nak, bersikaplah qona'ah; kamu akan tenang hidupnya"; atau nasihat-nasihat sejenis. Keterangan singkat yang disisipkan pada pengajian-pengajian juga belum mencukupi untuk menumbuhkan harta yang tiada habisnya ini. Hadits-hadits tentang qona'ah yang kita baca pun, (terkadang) tidak cukup membantu untuk serta merta memunculkan sifat itu pada diri kita, kecuali orang-orang yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Fondasi Sifat Qona'ah

Fondasi yang utama dan pertama untuk menumbuhkan sifat ini adalah keyakinan yang benar. Keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, mengenal Allah dengan nama dan sifat-sifat-Nya berikut keagungan dan keindahan yang dikandungnya; keimanan yang mantap kepada hari akhir, keyakinan yang benar tentang takdir yang baik dan buruk; semua itu merupakan landasan utama untuk menumbuhkan sifat dan karakter mental yang sangat mahal harganya ini.

Keimanan dan pengetahuan seorang mukmin terhadap Allah beserta nama dan sifatnya; akan menjadikan dirinya merenungkan firman, perintah dan penjelasan-Nya; yang hasilnya ia akan memahami hakikat dunia, hakikat dirinya, dan hakikat qona'ah beserta manfaatnya di dunia dan di akhirat.

Keimanan kepada hari akhir akan mendorong seorang mukmin untuk memiliki sikap zuhud terhadap dunia. Pemikirannya selalu tertuju kepada hari akhir dan seluruh rangkaiannya, terutama ketika amal-amal kita dihisab. Dengan bekal ini ia paham, bahwa hidup dunia hanyalah sementara, sebagaimana yang ia pelajari dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam,
"Apa perluku dengan dunia? Perumpamaanku dengan dunia hanyalah ibarat pengendara ynag tidur siang sejenak di bawah naungan sebuah pohon, kemudian berangkat di sore hari dan meninggalkannya." (HR.Ahmad dan Tirmidzi).
Hal ini akan menjadikannya bersikap menerima apapun yang terjadi dengan dirinya dengan senang hati.

Keimanan terhadap takdir yang baik maupun buruk akan memberikan sikap tenang dan ridho terhadap apa yang dialami, suka maupun duka. Hatinya senantiasa lapang, ia tidak mengenal kata gundah dengan sedikitnya rizki, lemahnya daya, maupun kemiskinan yang menimpanya.

Inginkah Engkau memiliki harta itu?

Sebagaimana akhlak-akhlak mulia lainnya, sebagai karakter mental, qona'ah dipengaruhi beberapa faktor, diantaranya pendidikan, lingkungan, bertambah dan berkurangnya iman, serta ketinggian dan kerendahan cita-cita

Syaikh Abdullah bin Abdul Hamid Al-Atsari menyebutkan beberapa faktor yang mendukung kita untuk memperoleh akhlak yang sangat berharga ini:

1. Ilmu agama
Ilmu agama merupakan faktor utama untuk memperoleh harta yang tidak terkira ini. Dengan ilmu, kita mengetahui hakikat, manfaat, dan bahaya jika melalaikan qona'ah. Ilmu agama menjelaskan kepada kita hakikat dunia, menyingkap rahasia-rahasianya, dan bahaya-bahaya terlalu berorientasi kepadanya. Ilmu agama akan mendorong kita untuk mencintai dan mengerahkan seluruh perhatian kita kepada kampung akhirat, kehidupan yang kekal dan abadi.

"Dan tiadalah kehidupan di dunia ini selain main-main dan sendau gurau. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu memahaminya?" (Al-An'am:32)

Dengan ilmu pula kita memperoleh pengetahuan tentang Allah Azza wa 'Ala dengan seluruh nama-Nya yang husna dan sifat-Nya yang tinggi. Kebenaran akidah: iman kepada hari akhir dan iman kepada takdir yang baik maupun buruk, yang hal itu merupakan pondasi dasar yang memiliki pengaruh sangat besar dalam mewujudkan sifat qona'ah, semuanya dapat diperoleh dengan ilmu agama.

2. Keimanan yang mantap
Ilmu yang kita miliki (insya Allah) berbuah menjadi keimanan yang mantap. Kuat lemahnya sifat qona'ah dalam menghadapi berbagai "fitnah" dunia ini, sesuai dengan tingkat kekuatan iman yang ada pada setiap kita.

3. Pemahaman yang benar tentang qodho dan qodar
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah membagi-bagi rizki dan keadaan hidup seluruh manusia sejak zaman azali. Pembagian yang dilakukan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala merupakan ketetapan berdasarkan kebijaksanaan dan ilmu-Nya. Jika kita memahami bahwa ambisi, keluh kesah, dan perhatian kita terhadap dunia dan harta, tidak akan menambah rizki, (karena tidak mungkin kita bisa mengoreksi ketetapan dan qodar Allah); pemahaman seperti dapat menumbuhkan sifat qona'ah, tenang, rileks terhadap keadaan yang diterimanya, apakah kita kaya maupun miskin.
Sikap ridho seorang mukmin dalam menghadapi ketetapan qodha dan qodar Allah akan memberikan kepadanya mata yang jeli dalam melihat kondisi kehidupan dan hakikat pembagiannya. Yang menetapkan rizkinya adalah Allah, Allah juga yang telah membeda-bedakan tingkat rizki, melebihkan yang satu terhadap yang lainnya. Perbedaan ini merupakan ujian bagi kita; ujian bagi orang kaya engan kelebihannya, ujian bagi orang miskin dengan kekurangannya. Perbedaan antara orang kaya dengan orang miskin dalam rizki bukan merupakan bukti mengenai perbedaan kedudukan keduanya di dunia maupun di sisi Allah Azza wa Jalla.

"Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan." (Az Zukhruf:32)

"Bersikaplah ridho terhadap apa yang dibagikan oleh Allah, niscaya kamu menjadi manusia yang paling kaya." (HR.Ahmad)

4. Perjuangan Mental dan Bersabar
Sesuai dengan kebijaksanan-Nya, Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memberi kita nafsu yang senantiasa menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat Tuhan.(Yusuf:53). Salah satu bentuk keliaran nafsu adalah permusuhannya terhadap sikap qona'ah. Selama kita tidak melawan nafsu beserta keliarannya, ketika itu kita telah membuka pintu-pintu ambisi, ketamakan, kerakusan, kekikiran, dan keluh kesah.

"Jauhilah sifat syuhh, karena sifat syuhh telah membinasakan orang-orang sebelummu, mendorong mereka untuk menumpahkan darah mereka dan melanggar hal-hal yang diharamkan bagi mereka." (HR.Muslim)

Imam Ibnu Rojab al Hanbali rahimahullah menjelaskan bahwa syuhh adalah ambisi besar yang mendorong pemilikinya mengambil banyak hal yang tidak halal, tidak menunaikan kewajiban terhadapnya. Substansi sifat ini adalah kerinduan diri kepada apa yang diharamkan oelh Allah serta tidak puas dengan yang telah dihalalkan oelh Alloh, baik menyangkut harta, kemaluan, atau lainnya.

Mengendalikan nafsu dan memaksanya memiliki sikap qona'ah membutuhkan kesabaran dan ketabahan dari seorang mukmin. Kesabaran di sini berkaitan dengan hal-hal yang diharamkan dan hal-hal yang meragukan; karena sifat qona'ah menuntut sikap zuhud, ridho, dan waro'. Sabar dalam ketaatan dan tidak berbuat maksiat.

5. Berdoa dan Memohon kepada Allah
"Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, sikap menjaga martabat, dan kekayaan." (HR.Muslim)

Syaikh Abdurrahman Nashir As-Sa'di rahimahullah, berkata:"Ini merupakan salah satu doa yang paling luas cakupan maknanya dan paling bermanfaat. Doa ini mengandung permohonan agar dikarunia kebaikan di dunia dan akhirat. 'Afaf (sikap menjaga martabat) dan ghina (kekayaan) mengandung arti menjaga kehormatan di hadapan sesama manusia, tidak menggantungkan diri kepada mereka dan merasa kaya dengan Alloh, rizki-Nya, sikap menerima dengan senang hati terhadap apa yang ada pada dirinya, serta diperolehnya kecukupan yang bisa menenangkan hati. Dengan semua itu, sempuralah kebahagiaan hidup di dunia dan ketenangan batin, dan itulah hayah thoyyibah (kehidupan yang baik).

6. Menjauhi Orang-Orang yang Suka Berkeluh Kesah
Teman, kawan, orang-orang di sekitar kita, sangat besar pengaruhnya pada diri kita. Siapa yang lama berkawan dengan orang-orang yang suka berkeluh kesah dan ambisius, maka akan tertimpa penyakit mereka. Hawa nafsu dan akhlak mereka akan menular kepada dirinya. Sebaliknya, berkawan dengan orang-orang sholih, senantiasa berdzikir, zuhud (sekalipun mereka adalah orang-orang kaya dan lapang), akan mendorong kita mengikuti mereka: memiliki sifat qona'ah, zuhud, menerima dengan senang hati semua rizki yang telah dibagikan oleh Allah.

Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, "Seseorang mengikuti agama kawan dekatnya, maka hendaklah setiap orang dari kalian memperhatikan siapa yang menjadi kawan dekatnya."

7. Melihat yang "di bawah"
"Andaikata anak Adam memiliki dua lembah emas, pasti ia ingin memiliki dua lembah, dan mulutnya tidak kunjung bisa dipenuhi, kecuali dengan tanah. Dan Allah menerima taubat siapa yang bertaubat." (HR.Bukhari-Muslim)

Manusia, memiliki watak dasar yang mendorongnya utnuk mencintai harta dan dunia. (terkadang) hal ini menjadikan kita melupakan nikmat-nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Bagaimanapun keadaan yang ada pada diri kita, setiap kita pasti telah dikaruniai nikmat dari Allah yang saking banyaknya tidak mampu kita inventarisir dan hitung. Bukan hanya telah, tapi semua yang telah dan akan kita alami adalah nikmat dan karunia Allah yang terkira.

Namun, nikmat dan karunia yang telah Allah berikan secara gratis kepada kita, terkadang terabaikan. Kita merasa kurang dan kurang… kita tidak peduli dan tidak menyadari nilainya… Hal ini bisa jadi karena kita selalu melihat orang-orang yang mendapat nikmat lebih baik dari kita.

Seandainya kita melihat orang-orang yang tidak seberuntung kita, orang-orang yang ada "dibawah" kita… atau satu atau beberapa nikmat dari Allah dicabut (misal: nikmat sehat)… baru kita merasakan nikmat-nikmat itu… barulah kita merasa tenang; oleh karena itu; salah satu faktor yang mendorong tumbuhnya sifat qona'ah adalah melihat orang yang keadaannya "dibawah" kita.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, "Lihatlah kepada siapa yang lebih rendah dari kalian, jangan melihat kepada siapa yang lebih tinggi dari kalian; karena itu akan menjadikan kalian tidak menyepelekan nikmat Allah." (HR.Bukhori)

Inilah beberapa cara untuk menumbuhkan sifat qona'ah dan menerima dengan senang hati rizki dan penghidupan yang telah dibagikan Allah kepada setiap kita.

Penutup

Pengetahuan tentang hal ini bukan semata-mata pengetahuan ilmiah naratif yang kering dari substansi pelaksanaan yang bisa membedakan antara orang yang bersikap qona'ah atau senantiasa gundah gulana dan berkeluh kesah. Terkadang kita temui, orang yang memiliki sifat qona'ah melimpah ruah tidak hafal dalil-dalil ilmiah dan prinsip-prinsip tersebut selain kandungan makna yang shohih. Dipihak lain, terkadang kita jumpai orang yang mengaku "berilmu" namun tidak memiliki sifat qona'ah sama sekali. Inilah kenyataan yang ada pada kita sekarang ini. Anda ingin menjadi yang mana, wahai Saudaraku? Semoga Allah senantiasa menghiasi diri, keluarga, dan keturunan kita; serta kaum muslimin dengan sifat qona'ah. Amiin.


Semoga bermanfaat,
Semoga Allah menjadikan kita termasuk dalam golongan orang-orang yang sabar dan ikhlas. Amiin

-------------------------------------------------------------------------------------------------
Referensi: Diringkas dari: "Qona'ah, Kekayaan Tiada Habisnya" :Syaikh Abdulloh bin Abdul Hamid Al Atsari dari buku: Zuhud Dunia Cinta Akhirat, Sikap Hidup Para Nabi dan Orang-Orang Sholih: Ibnu Rojab Al-Hanbali, dll. Penerbit: Al-Qowam, Solo. Halaman 87-
(c) Hak Cipta PengusahaMuslim.com, dilarang mengcopy, memperbanyak dan menyalin tanpa menyebutkan pengusahamuslim.com sebagai sumbernya serta dilarang keras mengedit artikel tanpa izin tertulis dari kami.

Rabu, Desember 10, 2008

Keseimbangan

Agak sukar mengingatkan diantara kita tentang waktu. Keberhargaan waktu, semua orang nampaknya sama-sama mengetahuinya. Masalahnya tidak semua diantara kita yang sanggup memanfaatkan dengan baik seperti yang seharusnya atau umumnya dianggap baik.


Kebanyakan kita zaman sekarang cara berfikirnya cenderung materialistis. Tetapi jikapun kita menggambarkan keberhargaan waktu dengan “Time is money” sementara uang adalah symbol materialisme, kita dingin-dingin aja menanggapinya. Tidak jarang orang melakukan apapun dengan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang. Kita faham betapa berharganya uang tapi kita tidak merasakan keberhargaan yang sama ketika pepatah tadi diungkapkan untuk mengilustrasikan waktu. Buat kita Time is time, money is money! Mengapa demikian ?


Mempermasalahkan waktu biasanya erat kaitannya dengan pemanfaatan, efektivitas dan produktivitas. Sesuatu yang berhubungan dengan kualitas hidup seseorang dan tanggung jawabnya secara ukhrowi. Mempermasalahkan uang cenderung berbicara tentang dunia, sesuatu yang berhubungan dengan kuantitas hidup seseorang secara materi. Celakanya, masih ada diantara kita yang menganggap tidak bertaliannya sesuatu yang bersifat duniawi dengan sesuatu yang bersifat ukhrowi/akhirat. Padahal hakikat kehidupan adalah bahwa hidup didunia sesungguhnya adalah jalan untuk mencapai akhirat.


Rumor yang berkembang adalah bahwa beramal untuk akhirat berarti memutuskan hubungan dengan dunia dan sebaliknya, untuk mendapatkan dunia berarti kita melepaskan akhirat. Kenyataan menunjukkan ketidaksearahan antara jalan menuju dunia dan akhirat, yang satu bernama kerja dan satu lagi bernama ibadah. Jika cara berfikir kita terus demikian berarti kita terbelenggu oleh pemahaman yang kurang lengkap tentang hakikat hidup.


Cara terbaik adalah mulailah berfikir bahwa urusan dunia dan akhirat itu bertolak belakang. Sesungguhnya jalan menuju kebahagiaan keduanya adalah sama dan dapat menghasilkan harmoni keseimbangan : satu jalan yang berpangkal didunia dan berujung di akhirat yaitu dengan mengejawantahkan (menerapkan) pesan Rasululloh SAW. Pergunakanlah masa mudamu sebelum datang masa tuamu, pergunakanlah masa kayamu sebelum jatuh miskinmu, pergunakanlah waktu luangmu sebelum datang sibukmu dan seterusnya. Masa muda adalah saat mencari ilmu, masa kaya adalah saat kita banyak bersedekah, masa sehat adalah masa banyak berkarya dan beribadah. Ini bukan berarti waktu telah “diruangkan” kedalam kotak bernama masa muda, masa tua, masa kaya dan seterusnya. Nasehat Rasululloh SAW menggambarkan keberhargaan waktu yang memang ada “sekaligus” dan harus sekaligus pula bisa dimanfaatkan sebagai jalan meraih kebahagiaan dan keseimbangan dunia dan akhirat. Wallahu’alam bis sawab.


Sumber : Buletin FSMQ (Forum Silaturahmi Manajemen Qolbu) Th.2000

Rabu, November 12, 2008

Istimewanya wanita

Banyak wanita yang bilang bahwa susah menjadi wanita, lihat saja aturan-aturan dibawah ini :

  1. Wanita auratnya lebih susah dijaga dibanding lelaki.
  2. Wanita perlu minta ijin dari suami apabila mau keluar rumah tetapi tidak sebaliknya
  3. Wanita saksinya (apabila menjadi saksi) kurang berbanding lelaki.
  4. Wanita menerima warisan lebih sedikit dari pada lelaki.
  5. Wanita perlu menghadapi kesusahan mengandung dan melahirkan anak
  6. Wanita wajib taat kepada suaminya, sementara suami tak perlu taat pada istrinya.
  7. Talak terletak di tangan suami dan bukan istri.
  8. Wanita kurang nyaman dalam beribadat karena adanya masalah haid dan nifas.
  9. dan lain-lain.

Tetapi… PERNAHKAH KITA LIHAT KENYATAANNYA ?

  1. Benda yang mahal harganya akan dijaga dan dibelai serta disimpan ditempat yang teraman dan terbaik. Sudah pasti itulah intan permata bandingannya dengan seorang wanita.
  2. Wanita perlu taat kepada suami, tetapi tahukah lelaki wajib taat kepada Ibunya 3 kali lebih utama daripada kepada Bapaknya?
  3. Wanita menerima warisan lebih sedikit daripada lelaki, tetapi tahukah bahwa harta itu akan menjadi miliknya dan tidak perlu diserahkan kepada suami? Sementara suami apabila menerima warisan ia wajib juga menggunakan hartanya untuk istri dan anak-anaknya?
  4. Wanita perlu bersusah payah mengandung dan melahirkan anak, tetapi tahukah bahwa setiap saat dia didoakan oleh segala mahluk, malaikat dan seluruh mahluk Allah dimuka bumi ini, dan tahukah jika ia meninggal karena melahirkan adalah syahid dan surga menantinya.
  5. Diakherat kelak, seorang lelaki akan dipertanggung jawabkan terhadap 4 wanita, yaitu : Istrinya, Ibunya, Anak Perempuannya & Saudara Perempuannya. Artinya : bagi seorang wanita tanggungjawab terhadapnya ditanggung oleh 4 orang lelaki, yaitu : suaminya, ayahnya, anak lelakinya dan saudara lelakinya.
  6. Seorang Wanita boleh memasuki pintu Syurga melalui pintu mana saja yang disukainya cukup dengan 4 Syarat saja, yaitu : Sholat 5 waktu, Puasa di bulan Ramadhan, taat kepada Suaminya dan menjaga Kehormatannya.
  7. Seorang lelaki wajib berjihad di jalan Allah, sementara bagi wanita jika taat kepada suami serta menunaikan tanggung jawabnya kepada ALLAH SWT, maka ia akan turut menerima pahala setara seperti pahala orang pergi berjihad di jalan Allah tanpa perlu mengangkat senjata.
Masya ALLAH… !
demikian sayangnya ALLAH SWT kepada wanita…..