Kamis, Januari 08, 2009

Kekayaan yang Tiada Habis, Inginkah Engkau memilikinya? (Faktor pendukung untuk memiliki sikap qona'ah)

"Ketika seorang mukmin memahami nilai dunia dan hakikat kehidupan di dunia; ketika hati seorang mukmin digenangi oleh keimanan dan makrifat tentang Allah Subhanahu wa Ta'ala, nama-nama, dan sifat-sifat-Nya; maka ketika itu; dari pemahaman dan keimanan itu, akan lahirlah karakter mental yang sungguh berharga, yaitu qona'ah. Itulah sebuah harta kekayaan yang tidak ada habisnya." Demikian yang disampaikan oleh Syaikh Abdullah bin Abdul Hamid Al Atsari dalam bukunya "Qona'ah, Kekayaan Tiada Habisnya."

Qona'ah - merasa cukup dengan apa yang ada- sebuah kata yang mudah untuk diucapkan, namun sulit untuk dipraktikkan. Terlebih di zaman ini, dimana kita melihat begitu banyak manusia mengalami "kegilaan" terhadap dunia beserta isinya. Di zaman sekarang ini, sulit rasanya untuk mewujudkan kekayaan yang tiada habisnya ini hanya dengan nasihat singkat, "Nak, bersikaplah qona'ah; kamu akan tenang hidupnya"; atau nasihat-nasihat sejenis. Keterangan singkat yang disisipkan pada pengajian-pengajian juga belum mencukupi untuk menumbuhkan harta yang tiada habisnya ini. Hadits-hadits tentang qona'ah yang kita baca pun, (terkadang) tidak cukup membantu untuk serta merta memunculkan sifat itu pada diri kita, kecuali orang-orang yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Fondasi Sifat Qona'ah

Fondasi yang utama dan pertama untuk menumbuhkan sifat ini adalah keyakinan yang benar. Keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, mengenal Allah dengan nama dan sifat-sifat-Nya berikut keagungan dan keindahan yang dikandungnya; keimanan yang mantap kepada hari akhir, keyakinan yang benar tentang takdir yang baik dan buruk; semua itu merupakan landasan utama untuk menumbuhkan sifat dan karakter mental yang sangat mahal harganya ini.

Keimanan dan pengetahuan seorang mukmin terhadap Allah beserta nama dan sifatnya; akan menjadikan dirinya merenungkan firman, perintah dan penjelasan-Nya; yang hasilnya ia akan memahami hakikat dunia, hakikat dirinya, dan hakikat qona'ah beserta manfaatnya di dunia dan di akhirat.

Keimanan kepada hari akhir akan mendorong seorang mukmin untuk memiliki sikap zuhud terhadap dunia. Pemikirannya selalu tertuju kepada hari akhir dan seluruh rangkaiannya, terutama ketika amal-amal kita dihisab. Dengan bekal ini ia paham, bahwa hidup dunia hanyalah sementara, sebagaimana yang ia pelajari dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam,
"Apa perluku dengan dunia? Perumpamaanku dengan dunia hanyalah ibarat pengendara ynag tidur siang sejenak di bawah naungan sebuah pohon, kemudian berangkat di sore hari dan meninggalkannya." (HR.Ahmad dan Tirmidzi).
Hal ini akan menjadikannya bersikap menerima apapun yang terjadi dengan dirinya dengan senang hati.

Keimanan terhadap takdir yang baik maupun buruk akan memberikan sikap tenang dan ridho terhadap apa yang dialami, suka maupun duka. Hatinya senantiasa lapang, ia tidak mengenal kata gundah dengan sedikitnya rizki, lemahnya daya, maupun kemiskinan yang menimpanya.

Inginkah Engkau memiliki harta itu?

Sebagaimana akhlak-akhlak mulia lainnya, sebagai karakter mental, qona'ah dipengaruhi beberapa faktor, diantaranya pendidikan, lingkungan, bertambah dan berkurangnya iman, serta ketinggian dan kerendahan cita-cita

Syaikh Abdullah bin Abdul Hamid Al-Atsari menyebutkan beberapa faktor yang mendukung kita untuk memperoleh akhlak yang sangat berharga ini:

1. Ilmu agama
Ilmu agama merupakan faktor utama untuk memperoleh harta yang tidak terkira ini. Dengan ilmu, kita mengetahui hakikat, manfaat, dan bahaya jika melalaikan qona'ah. Ilmu agama menjelaskan kepada kita hakikat dunia, menyingkap rahasia-rahasianya, dan bahaya-bahaya terlalu berorientasi kepadanya. Ilmu agama akan mendorong kita untuk mencintai dan mengerahkan seluruh perhatian kita kepada kampung akhirat, kehidupan yang kekal dan abadi.

"Dan tiadalah kehidupan di dunia ini selain main-main dan sendau gurau. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu memahaminya?" (Al-An'am:32)

Dengan ilmu pula kita memperoleh pengetahuan tentang Allah Azza wa 'Ala dengan seluruh nama-Nya yang husna dan sifat-Nya yang tinggi. Kebenaran akidah: iman kepada hari akhir dan iman kepada takdir yang baik maupun buruk, yang hal itu merupakan pondasi dasar yang memiliki pengaruh sangat besar dalam mewujudkan sifat qona'ah, semuanya dapat diperoleh dengan ilmu agama.

2. Keimanan yang mantap
Ilmu yang kita miliki (insya Allah) berbuah menjadi keimanan yang mantap. Kuat lemahnya sifat qona'ah dalam menghadapi berbagai "fitnah" dunia ini, sesuai dengan tingkat kekuatan iman yang ada pada setiap kita.

3. Pemahaman yang benar tentang qodho dan qodar
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah membagi-bagi rizki dan keadaan hidup seluruh manusia sejak zaman azali. Pembagian yang dilakukan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala merupakan ketetapan berdasarkan kebijaksanaan dan ilmu-Nya. Jika kita memahami bahwa ambisi, keluh kesah, dan perhatian kita terhadap dunia dan harta, tidak akan menambah rizki, (karena tidak mungkin kita bisa mengoreksi ketetapan dan qodar Allah); pemahaman seperti dapat menumbuhkan sifat qona'ah, tenang, rileks terhadap keadaan yang diterimanya, apakah kita kaya maupun miskin.
Sikap ridho seorang mukmin dalam menghadapi ketetapan qodha dan qodar Allah akan memberikan kepadanya mata yang jeli dalam melihat kondisi kehidupan dan hakikat pembagiannya. Yang menetapkan rizkinya adalah Allah, Allah juga yang telah membeda-bedakan tingkat rizki, melebihkan yang satu terhadap yang lainnya. Perbedaan ini merupakan ujian bagi kita; ujian bagi orang kaya engan kelebihannya, ujian bagi orang miskin dengan kekurangannya. Perbedaan antara orang kaya dengan orang miskin dalam rizki bukan merupakan bukti mengenai perbedaan kedudukan keduanya di dunia maupun di sisi Allah Azza wa Jalla.

"Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan." (Az Zukhruf:32)

"Bersikaplah ridho terhadap apa yang dibagikan oleh Allah, niscaya kamu menjadi manusia yang paling kaya." (HR.Ahmad)

4. Perjuangan Mental dan Bersabar
Sesuai dengan kebijaksanan-Nya, Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memberi kita nafsu yang senantiasa menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat Tuhan.(Yusuf:53). Salah satu bentuk keliaran nafsu adalah permusuhannya terhadap sikap qona'ah. Selama kita tidak melawan nafsu beserta keliarannya, ketika itu kita telah membuka pintu-pintu ambisi, ketamakan, kerakusan, kekikiran, dan keluh kesah.

"Jauhilah sifat syuhh, karena sifat syuhh telah membinasakan orang-orang sebelummu, mendorong mereka untuk menumpahkan darah mereka dan melanggar hal-hal yang diharamkan bagi mereka." (HR.Muslim)

Imam Ibnu Rojab al Hanbali rahimahullah menjelaskan bahwa syuhh adalah ambisi besar yang mendorong pemilikinya mengambil banyak hal yang tidak halal, tidak menunaikan kewajiban terhadapnya. Substansi sifat ini adalah kerinduan diri kepada apa yang diharamkan oelh Allah serta tidak puas dengan yang telah dihalalkan oelh Alloh, baik menyangkut harta, kemaluan, atau lainnya.

Mengendalikan nafsu dan memaksanya memiliki sikap qona'ah membutuhkan kesabaran dan ketabahan dari seorang mukmin. Kesabaran di sini berkaitan dengan hal-hal yang diharamkan dan hal-hal yang meragukan; karena sifat qona'ah menuntut sikap zuhud, ridho, dan waro'. Sabar dalam ketaatan dan tidak berbuat maksiat.

5. Berdoa dan Memohon kepada Allah
"Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, sikap menjaga martabat, dan kekayaan." (HR.Muslim)

Syaikh Abdurrahman Nashir As-Sa'di rahimahullah, berkata:"Ini merupakan salah satu doa yang paling luas cakupan maknanya dan paling bermanfaat. Doa ini mengandung permohonan agar dikarunia kebaikan di dunia dan akhirat. 'Afaf (sikap menjaga martabat) dan ghina (kekayaan) mengandung arti menjaga kehormatan di hadapan sesama manusia, tidak menggantungkan diri kepada mereka dan merasa kaya dengan Alloh, rizki-Nya, sikap menerima dengan senang hati terhadap apa yang ada pada dirinya, serta diperolehnya kecukupan yang bisa menenangkan hati. Dengan semua itu, sempuralah kebahagiaan hidup di dunia dan ketenangan batin, dan itulah hayah thoyyibah (kehidupan yang baik).

6. Menjauhi Orang-Orang yang Suka Berkeluh Kesah
Teman, kawan, orang-orang di sekitar kita, sangat besar pengaruhnya pada diri kita. Siapa yang lama berkawan dengan orang-orang yang suka berkeluh kesah dan ambisius, maka akan tertimpa penyakit mereka. Hawa nafsu dan akhlak mereka akan menular kepada dirinya. Sebaliknya, berkawan dengan orang-orang sholih, senantiasa berdzikir, zuhud (sekalipun mereka adalah orang-orang kaya dan lapang), akan mendorong kita mengikuti mereka: memiliki sifat qona'ah, zuhud, menerima dengan senang hati semua rizki yang telah dibagikan oleh Allah.

Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, "Seseorang mengikuti agama kawan dekatnya, maka hendaklah setiap orang dari kalian memperhatikan siapa yang menjadi kawan dekatnya."

7. Melihat yang "di bawah"
"Andaikata anak Adam memiliki dua lembah emas, pasti ia ingin memiliki dua lembah, dan mulutnya tidak kunjung bisa dipenuhi, kecuali dengan tanah. Dan Allah menerima taubat siapa yang bertaubat." (HR.Bukhari-Muslim)

Manusia, memiliki watak dasar yang mendorongnya utnuk mencintai harta dan dunia. (terkadang) hal ini menjadikan kita melupakan nikmat-nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Bagaimanapun keadaan yang ada pada diri kita, setiap kita pasti telah dikaruniai nikmat dari Allah yang saking banyaknya tidak mampu kita inventarisir dan hitung. Bukan hanya telah, tapi semua yang telah dan akan kita alami adalah nikmat dan karunia Allah yang terkira.

Namun, nikmat dan karunia yang telah Allah berikan secara gratis kepada kita, terkadang terabaikan. Kita merasa kurang dan kurang… kita tidak peduli dan tidak menyadari nilainya… Hal ini bisa jadi karena kita selalu melihat orang-orang yang mendapat nikmat lebih baik dari kita.

Seandainya kita melihat orang-orang yang tidak seberuntung kita, orang-orang yang ada "dibawah" kita… atau satu atau beberapa nikmat dari Allah dicabut (misal: nikmat sehat)… baru kita merasakan nikmat-nikmat itu… barulah kita merasa tenang; oleh karena itu; salah satu faktor yang mendorong tumbuhnya sifat qona'ah adalah melihat orang yang keadaannya "dibawah" kita.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, "Lihatlah kepada siapa yang lebih rendah dari kalian, jangan melihat kepada siapa yang lebih tinggi dari kalian; karena itu akan menjadikan kalian tidak menyepelekan nikmat Allah." (HR.Bukhori)

Inilah beberapa cara untuk menumbuhkan sifat qona'ah dan menerima dengan senang hati rizki dan penghidupan yang telah dibagikan Allah kepada setiap kita.

Penutup

Pengetahuan tentang hal ini bukan semata-mata pengetahuan ilmiah naratif yang kering dari substansi pelaksanaan yang bisa membedakan antara orang yang bersikap qona'ah atau senantiasa gundah gulana dan berkeluh kesah. Terkadang kita temui, orang yang memiliki sifat qona'ah melimpah ruah tidak hafal dalil-dalil ilmiah dan prinsip-prinsip tersebut selain kandungan makna yang shohih. Dipihak lain, terkadang kita jumpai orang yang mengaku "berilmu" namun tidak memiliki sifat qona'ah sama sekali. Inilah kenyataan yang ada pada kita sekarang ini. Anda ingin menjadi yang mana, wahai Saudaraku? Semoga Allah senantiasa menghiasi diri, keluarga, dan keturunan kita; serta kaum muslimin dengan sifat qona'ah. Amiin.


Semoga bermanfaat,
Semoga Allah menjadikan kita termasuk dalam golongan orang-orang yang sabar dan ikhlas. Amiin

-------------------------------------------------------------------------------------------------
Referensi: Diringkas dari: "Qona'ah, Kekayaan Tiada Habisnya" :Syaikh Abdulloh bin Abdul Hamid Al Atsari dari buku: Zuhud Dunia Cinta Akhirat, Sikap Hidup Para Nabi dan Orang-Orang Sholih: Ibnu Rojab Al-Hanbali, dll. Penerbit: Al-Qowam, Solo. Halaman 87-
(c) Hak Cipta PengusahaMuslim.com, dilarang mengcopy, memperbanyak dan menyalin tanpa menyebutkan pengusahamuslim.com sebagai sumbernya serta dilarang keras mengedit artikel tanpa izin tertulis dari kami.

Rabu, Desember 10, 2008

Keseimbangan

Agak sukar mengingatkan diantara kita tentang waktu. Keberhargaan waktu, semua orang nampaknya sama-sama mengetahuinya. Masalahnya tidak semua diantara kita yang sanggup memanfaatkan dengan baik seperti yang seharusnya atau umumnya dianggap baik.


Kebanyakan kita zaman sekarang cara berfikirnya cenderung materialistis. Tetapi jikapun kita menggambarkan keberhargaan waktu dengan “Time is money” sementara uang adalah symbol materialisme, kita dingin-dingin aja menanggapinya. Tidak jarang orang melakukan apapun dengan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang. Kita faham betapa berharganya uang tapi kita tidak merasakan keberhargaan yang sama ketika pepatah tadi diungkapkan untuk mengilustrasikan waktu. Buat kita Time is time, money is money! Mengapa demikian ?


Mempermasalahkan waktu biasanya erat kaitannya dengan pemanfaatan, efektivitas dan produktivitas. Sesuatu yang berhubungan dengan kualitas hidup seseorang dan tanggung jawabnya secara ukhrowi. Mempermasalahkan uang cenderung berbicara tentang dunia, sesuatu yang berhubungan dengan kuantitas hidup seseorang secara materi. Celakanya, masih ada diantara kita yang menganggap tidak bertaliannya sesuatu yang bersifat duniawi dengan sesuatu yang bersifat ukhrowi/akhirat. Padahal hakikat kehidupan adalah bahwa hidup didunia sesungguhnya adalah jalan untuk mencapai akhirat.


Rumor yang berkembang adalah bahwa beramal untuk akhirat berarti memutuskan hubungan dengan dunia dan sebaliknya, untuk mendapatkan dunia berarti kita melepaskan akhirat. Kenyataan menunjukkan ketidaksearahan antara jalan menuju dunia dan akhirat, yang satu bernama kerja dan satu lagi bernama ibadah. Jika cara berfikir kita terus demikian berarti kita terbelenggu oleh pemahaman yang kurang lengkap tentang hakikat hidup.


Cara terbaik adalah mulailah berfikir bahwa urusan dunia dan akhirat itu bertolak belakang. Sesungguhnya jalan menuju kebahagiaan keduanya adalah sama dan dapat menghasilkan harmoni keseimbangan : satu jalan yang berpangkal didunia dan berujung di akhirat yaitu dengan mengejawantahkan (menerapkan) pesan Rasululloh SAW. Pergunakanlah masa mudamu sebelum datang masa tuamu, pergunakanlah masa kayamu sebelum jatuh miskinmu, pergunakanlah waktu luangmu sebelum datang sibukmu dan seterusnya. Masa muda adalah saat mencari ilmu, masa kaya adalah saat kita banyak bersedekah, masa sehat adalah masa banyak berkarya dan beribadah. Ini bukan berarti waktu telah “diruangkan” kedalam kotak bernama masa muda, masa tua, masa kaya dan seterusnya. Nasehat Rasululloh SAW menggambarkan keberhargaan waktu yang memang ada “sekaligus” dan harus sekaligus pula bisa dimanfaatkan sebagai jalan meraih kebahagiaan dan keseimbangan dunia dan akhirat. Wallahu’alam bis sawab.


Sumber : Buletin FSMQ (Forum Silaturahmi Manajemen Qolbu) Th.2000

Rabu, November 12, 2008

Istimewanya wanita

Banyak wanita yang bilang bahwa susah menjadi wanita, lihat saja aturan-aturan dibawah ini :

  1. Wanita auratnya lebih susah dijaga dibanding lelaki.
  2. Wanita perlu minta ijin dari suami apabila mau keluar rumah tetapi tidak sebaliknya
  3. Wanita saksinya (apabila menjadi saksi) kurang berbanding lelaki.
  4. Wanita menerima warisan lebih sedikit dari pada lelaki.
  5. Wanita perlu menghadapi kesusahan mengandung dan melahirkan anak
  6. Wanita wajib taat kepada suaminya, sementara suami tak perlu taat pada istrinya.
  7. Talak terletak di tangan suami dan bukan istri.
  8. Wanita kurang nyaman dalam beribadat karena adanya masalah haid dan nifas.
  9. dan lain-lain.

Tetapi… PERNAHKAH KITA LIHAT KENYATAANNYA ?

  1. Benda yang mahal harganya akan dijaga dan dibelai serta disimpan ditempat yang teraman dan terbaik. Sudah pasti itulah intan permata bandingannya dengan seorang wanita.
  2. Wanita perlu taat kepada suami, tetapi tahukah lelaki wajib taat kepada Ibunya 3 kali lebih utama daripada kepada Bapaknya?
  3. Wanita menerima warisan lebih sedikit daripada lelaki, tetapi tahukah bahwa harta itu akan menjadi miliknya dan tidak perlu diserahkan kepada suami? Sementara suami apabila menerima warisan ia wajib juga menggunakan hartanya untuk istri dan anak-anaknya?
  4. Wanita perlu bersusah payah mengandung dan melahirkan anak, tetapi tahukah bahwa setiap saat dia didoakan oleh segala mahluk, malaikat dan seluruh mahluk Allah dimuka bumi ini, dan tahukah jika ia meninggal karena melahirkan adalah syahid dan surga menantinya.
  5. Diakherat kelak, seorang lelaki akan dipertanggung jawabkan terhadap 4 wanita, yaitu : Istrinya, Ibunya, Anak Perempuannya & Saudara Perempuannya. Artinya : bagi seorang wanita tanggungjawab terhadapnya ditanggung oleh 4 orang lelaki, yaitu : suaminya, ayahnya, anak lelakinya dan saudara lelakinya.
  6. Seorang Wanita boleh memasuki pintu Syurga melalui pintu mana saja yang disukainya cukup dengan 4 Syarat saja, yaitu : Sholat 5 waktu, Puasa di bulan Ramadhan, taat kepada Suaminya dan menjaga Kehormatannya.
  7. Seorang lelaki wajib berjihad di jalan Allah, sementara bagi wanita jika taat kepada suami serta menunaikan tanggung jawabnya kepada ALLAH SWT, maka ia akan turut menerima pahala setara seperti pahala orang pergi berjihad di jalan Allah tanpa perlu mengangkat senjata.
Masya ALLAH… !
demikian sayangnya ALLAH SWT kepada wanita…..

Senin, September 22, 2008

Bagaimana Shaum Ramadhan kita

Ikhwah Fillah……
Dua puluh satu hari sudah perjalana shaum Ramadhan telah kita lewati, adakah kita mampu memaknainya sebagai nikmat yg luar biasa. Ketika Allah SWT masih memberi kesempatan kepada kita untuk berjumpa dengan bulan yang mulia karena kita tak pernah tahu, mungkin ini Ramadhan terakhir untuk kita.

Ikhwah Fillah….
Adakah kita mampu merasakan detik2 mahal Ramadhan yang telah kita lalui, mengisi hari2nya dengan amal sholeh atau sama saja, mungkin tak ada yang istimewa. Marilah kita sama2 berlomba, berlomba mendapatkan rahmat dan ampunan-Nya. Paling tidak satu sifat buruk yang kita hilangkan dan ada satu amal sholeh yang kita biasakan di bulan yang mulia ini. Sehingga ada atsar ketika keluar Ramadhan nanti bahkan mungkin dapat meningkatkan derajat ketakwaan kita amin.

Ikhwah fillah....
Marilah sejenak kita merenung tentang Ramadhan yang telah kita jalani dan yang sebentar lagi kita lewati, semoga kita mampu menikmati Ramadhan yang sebentar lagi kita berpisah dengannya.

Ikhwah fillah....
Renungkanlah 10 indikasi ”gagal” meraih keutamaan Ramadhan dibawah ini :
1. Ketika kurang optimal melakukan ”warming up” dengan memperbanyak ibadah sunah di bulan Sya’ban..
2. Ketika target pembacaan Al Qur;an yang dicanangkan, minimal satu kali khatam, tidak terpenuhi selama bulan Ramadhan.
3. Ketika berpuasa tidak menghalangi seseorang dan penyimpangan mulut seperti membicarakan keburukan orang, mengeluarkan kata2 kasar, membuka rahasia, mengadu domba, berdusta dsb.
4. Ketika berpuasa tidak menjadikan pelakunya berupaya memelihara mata dan melihat yang haram.
5. Ketika malam2 Ramadhan tak ada bedanya dengan malam2 selain Ramadhan.
6. Jika saat berbuka puasa menjadi saat melahap semua keinginan nafsunya tang tertahan sejak pagi hingga petang.
7. Ketika bulan Ramadhan tidak dioptimalkan untuk mengeluarkan infak dan shadaqoh.
8. Ketika hari2 menjelang idul fitri sibuk dengan persiapan lahir, tapi tidak sibuk dengan memasok perbekalan sebanyak2nya pada 10 malam terakhir untuk memperbanyak ibadah.
9. Ketika idul fitri dan seterusnya dirayakan laksana hari ”merdeka” dan penjara untuk kembali melakukan berbagai penyimpangan.
10. Ketika Ramadhan, nyaris tidak ada ibadah yang ditindak lanjuti pada bulan2 selanjutnya.

Ikhwah fillah...
Semoga kita termasuk orang2 yang beruntung, yang mampu memaknai Ramadhan dengan berarti, yang mampu mengisi hari2nya dengan amal sholeh, yang mampu meraih kemenangan melawan hawa nafsu, yang mampu meraih derajat ketakwaan yang lebih tinggi, semoga....

Sumber : Tarbawi ed.15 th.2 Ramadhan 1421 H

Jumat, September 12, 2008

Betapa Luasnya Surga

Sahabat sekalian,
Mari kita terus kuatkan jiwa untuk menekuni segenap peribadahan di bulan Ramadhan ini demi menggapai ketaqwaan kepada Allah swt. Mari kita terus bersemangat dan bersegera meraih magfirah dari Allah swt dan sorga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa kepada Allah swt (QS Ali Imran:133).

Dan di antara yang senantiasa mesti kita perkuat dalam hati adalah keimanan kepada sorga yang Allah janjikan. Adapun kuatnya keimanan ini berbanding lurus dengan ma'rifah (pengenalan) kepada sorga itu sendiri.

Ibnu Mas'ud r.a. berkata: Rasulullah saw. bersabda: Saya mengetahui akhir ahli neraka keluar dari neraka, dan akhir ahli sorga masuk sorga. Yaitu seorang yang keluar dari neraka dengan merangkak-rangkak, maka Allah berfirman kepadanya: Pergilah masuk sorga! Maka pergilah orang itu. Tiba-tiba terbayang padanya seolah-olah (sorga) sudah penuh, maka ia berkata: Ya Tuhan saya mendapatkannya sudah penuh. Allah berfirman: Pergilah masuk sorga! Maka ia kembali pergi dan didapatkannya seolah-olah sudah penuh. Ia pun kembali berkata: Ya Tuhan, ia sudah penuh. Maka Allah berfirman: Pergilah masuk sorga, bagimu di sorga sepuluh kali besarnya dunia. Maka berkata orang itu: Apakah Kau menertawakan (mengejek) saya, Tuhan, padahal Engkau raja? Berkata Ibnu Mas'ud: Maka saya melihat Rasulullah saw. tertawa hingga tampak giginya, sambil berkata: Demikianlah serendah-rendah ahli sorga tingkatnya. (HR Bukhari-Muslim).

Subhanallah. Sedemikian besar balasan sorga yang Allah telah siapkan bagi hamba-hambaNya. Maka alangkah meruginya kalau balasan yang agung itu ditukar dengan dunia yang amat kecil ini. Sahabat sekalian, pernahkah kita merenungi sungguh-sungguh seluas apakah sorga itu? Sorga itu seluas langit dan bumi, sebagaimana difirmankan Allah swt pada Alquran surat Ali Imran:133.

Mari kita simak sebuah hadits yang memberi gambaran kuantitatif tentang keadaan sorga ini. Abu Sa'id Alkhudry r.a. berkata: Berkata Rasulullah saw.: Di sorga ada pohon, kalau seorang berkendaraan kuda yang paling cepat lalu kuda itu berlari di bawahnya selama seratus tahu, tidak akan habis (putus) naungannya. (HR Bukhari-Muslim).

Maka seluas apakah kiranya naungan satu pohon sorga itu? Kalau kita misalkan kuda tercepat berlari dengan kecepatan 70 km/jam, maka naungan pohon itu lebih besar daripada 100 tahun x 364 hari x 24 jam x 70 km/jam atau 61.152.000 km, enam puluh satu juta seratus lima puluh dua ribu kilometer!

Untuk membandingkan jarak itu dengan jarak tempuh di bumi, mari kita hitung keliling bumi yang berjari-jari sekitar 6.378 km. Maka keliling bumi didapat dari perkalian 2 x 3.14 x 6.378 km atau sekitar 40.053, 84 km. Jika kita bagikan 61.152.000 km dengan 40.053, 84 km, maka akan diperoleh angka 1.526, 75.

Subhanallah. Artinya naungan pohon di sorga itu lebih panjang daripada 1526 kali keliling bumi!

Sahabat sekalian, hitung-hitungan ini hanya untuk mengokohkan keyakinan akan luasnya balasan sorga yang dijanjikan Allah swt. Dan hitungan ini hanyalah untuk sebuah pohon sorga saja. Wallahu a'lamu bish shawwab.

Sahl bin Sa'ad r.a. berkata: Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya orang sorga melihat orang yang di atas tingkat mereka, bagaikan melihat bintang di langit. (HR Bukhari-Muslim)

Semoga kita termasuk di antara yang akan dimasukkan Allah swt ke dalam sorga yang penuh kenikmatan di dalamnya. Aamiin yaa Rabbal 'aalamiin.

Catatan:
Hadits-hadits di atas dikutip dari Tarjamah Riyadush Shalihin, tulisan Imam Abu Zakaria Yahya bin Syaraf Annawawy, Pasal Persediaan dari Allah bagi Kaum Mu'minin di Sorga, dengan perterjemah H. Salim Bahreisy, 1987, penerbit PT Alma'arif, Bandung. Di dalam pasal ini masih banyak hadits-hadits lain yang memberikan gambaran sorga.

Oleh Adi JunjunanMusthofa
Sumber : http://www.eramuslim.com/