Rabu, Desember 05, 2007

Sosok Bidadari, Sosok Sederhana

Penulis : Afifah Syahidah


Beribu nasehat telah diucap, berjuta perintah telah tersirat. Tetapi tetap saja banyak yang gugur ditelan gemerlap dunia. Semua gemerlap akan sirna oleh sosok bidadari yang hidup dengan kesederhanaan.

Kini, banyak kita jumpai orang yang hidup dalam kesempitan, sabar dengan ujian, dan tabah dalam menjalani seraya mendekatkan diri pada Rabb-Nya. Namun, setelah keadaan berubah, sempit menjadi lapang, derita menjadi bahagia, semua kebutuhan hidup terpenuhi; namun banyak yang tidak siap dengan perubahan tersebut. Tidak sadar bahwa gemerlap dunia telah menjebaknya.

"Sesungghnya dunia itu manis dan menawan dan Allah mengangkatmu sebagai khalifah di dalamnya sehingga Allah dapat memperhatikan perbuatanmu. Oleh karena itu waspadalah terhadap dunia, hati-hatilah terhadap wanita karena sesungguhnya fitnah pertama yang menimpa Bani Israil adalah kaum wanita." (HR. Muslim).

Kedudukan, harta senantiasa bersanding dengan wanita. Misalnya di keluarga, kedudukan wanita sangat berpengaruh baik kedudukannya sebagai pendamping suami maupun dalam pemeliharaan harta suami. Seperti kisah rumah tangga Umar Abdul Azis ra dengan Fatimah binti Abdul Malik ra. Kemewahan berubah menjadi kesederhanaan. Sebelum Umar menerima amanat kekhalifahan, dia terkenal dengan gaya hidup yang serba mewah. Istana megah, pakaian sutra, permata, dan parfum yang seharga satu rumah pun dimilikinya. Semua berubah dengan seketika. Akal pikiran, hati dan perasaannya telah tergugah, karena hakikat pengawasan Allah telah hidup dalam jiwanya.

Dengan gaya hidupnya yang baru, Umar bertekad untuk meniti kehidupan dengan serba sederhana. Dia pun segera mengungkapkan keinginannya pada Fatimah, "Sesungguhnya harta yang kita miliki serta yang dimiliki oleh saudara-saudaramu berasal dari hartanya kaum muslimin. Aku bertekad akan mengembalikannya pada mereka. Dan, jika Adinda tidak sabar pada kesempitan hidup setelah kekuasaan, maka pulanglah ke rumah ayahmu." Mendengar itu Fatimah segera menepis, "Saya tidak akan menyertai Kakanda dalam keadaan senang lantas meninggalkan Kakanda dalam keadaan susah. Saya ridha dengan apa yang Kakanda ridhai."

Kemudian semua hartanya didermakan dan kini yang dimilikinya hanya permata peninggalan ayah Fatimah. Umar pun kembali bertanya, "Wahai Fatimah engkau tahu bahwa dulu permata itu diambil oleh ayahmu dari kaum muslimin dan lantas dia hadiahkan kepadamu. Sesungguhnya aku tidak suka permata itu tinggal dirumahku. Karena itu, pilihlah antara mengembalikan permata itu ke Baitul Maal atau engkau izinkan aku untuk menceraikanmu." Fatimah pun kembali memenuhi permintaan suaminya, "Demi Allah, tentu aku akan memilihmu daripada permata ini, bahkan berlipat-lipat dari yang kumiliki."

Dengan kesederhanaanlah Umar dan Fatimah mulai mengikuti realita kehidupan sebenarnya. Sang khalifah mulai memerdekakan budak, mengembalikan seluruh harta yang dimiliki ke Baitul Maal. Begitu juga dengan Fatimah mulai menanggalkan permata yang dipakainya. Mereka lebih memilih tinggal di rumah yang sangat sederhana. Dengan kata lain, mereka dengan sikap kesederhanaannya berhasil menghancurkan belenggu kemewahan yang mengikat jiwanya dan mematahkan jembatan yang mengantarkan pada fitnah dunia.

Fatimah dalam hal ini bisa disebut sosok bidadari yang turun ke bumi. Sebab ia berani melepaskan semua kemewahan dunia dan lebih memilih hidup sederhana bersama suami yang justru setelah mendapat amanat besar sebagai khalifah. Juga memilih kesederhanaan sebagai jalan hidupnya. Begitu halnya dengan sosok Aisyah ra Ummul Mukminin. Kezuhudan terhadap dunia menjadi teladan bagi umat. Hampir tidak ada harta di tangannya. Dia bagikan seluruh hartanya kepada kaum-kaum miskin. Di antara kedermawanannya adalah membagikan seratus ribu dirham, sementara ia sendiri dalam keadaan shaum. Umar bin Zubair ra juga pernah mengisahkan kedermawanan dan kesederhanaan Aisyah, "Aku pernah melihat Aisyah membagi-bagikan harta sebanyak tujuh ratus ribu dirham sementara dia sendiri menjahit bajunya."

Subhanallah, merenungi kedua kisah di atas betapa mulianya sosok Fatimah dan Aisyah. Ya, dengan kesederhanaannya menjadikan mereka sosok bidadari yang turun ke bumi. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita mengikuti jejak Fatimah dan Aisyah? Siapkah kita tanggalkan semua kemewahan dunia hingga kita siap menyandang gelar bidadari?

Dalam buku Tamasya ke Surga, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah mengisahkan tentang bidadari surga. Mereka itu adalah wanita suci yang menyenangkan dipandang mata, menyejukkan dilihat, dan menentramkan hati. Jadi bidadari adalah wanita shalehah yang senantiasa tawadhu, tidak bermewah-mewah dengan keindahan dunia, bersikap sederhana. Seandainya berperan sebagai istri maka ia taat kepada suaminya, menjaga harta suami, mendidik anak-anaknya dan memotivasi agar istiqamah dalam membela agama Allah.

"Tidakkah mau aku kabarkan kepada kalian tentang sesuatu yang paling baik dijadikan bekal seseorang? wanita yang baik (shalihah); jika dilihat suami ia menyenangkan; jika diperintah ia mentaatinya; dan jika suami meninggalkannya ia menjaga diri dan harta suaminya." (Diriwayatkan Abu Daud dan An-Nasai).

Wahai muslimah, kisah di atas mewakili dari sebagian kisah para sahabiyah, begitu juga dengan untaian riwayat yang tersirat. Namun, apalah artinya sebuah kisah bila kita tidak bisa mengambil ibrah. Dan apalah artinya seuntai riwayat jika kita tidak mau belajar darinya. Untuk itu selamat berjuang, siapkan diri menjadi sosok bidadari, sosok yang menapaki kehidupan dengan kezuhudan, dan kesederhanaan. [Swadaya-30]

Jumat, November 09, 2007

Yang manakah anda??

Dari sebuah website...
Semoga berguna...


Siapakah orang yang sibuk ?
Orang yang sibuk adalah orang yang tidak mengambil pusing akan waktu shalatnya seolah-olah ia mempunyai kerajaan seperti kerajaan Nabi Sulaiman a.s.


Siapakah orang yang manis senyumannya?
Orang yang mempunyai senyuman yang manis adalah orang yang di timpa musibah lalu dia kata "Inna lillahi wainna illaihi rajiuun." Lalu sambil berkata, "Ya Rabbi Aku ridha dengan ketentuanMu ini", sambil mengukir senyuman.


Siapakah orang yang kaya?
Orang yang kaya adalah orang yang bersyukur dengan apa yang ada dan tidak lupa akan kenikmatan dunia yang sementara ini.


Siapakah orang yang miskin?
Orang yang miskin adalah orang tidak puas dengan nikmat yang ada senantiasa menumpuk-numpukkan harta.


Siapakah orang yang rugi?
Orang yang rugi adalah orang yang sudah sampai usia pertengahan namun masih berat untuk melakukan ibadah dan amal-amal kebaikan.


Siapakah orang yang paling cantik?
Orang yang paling cantik adalah orang yang mempunyai akhlak yang baik.


Siapakah orang yang mempunyai rumah yang paling luas?
Orang yang mempunyai rumah yang paling luas adalah orang yang mati membawa amal-amal kebaikan di mana kuburnya akan di perluaskan kemana mata memandang.


Siapakah orang yang mempunyai rumah yang sempit lagi menghimpit?
Orang yang mempunyai rumah yang sempit adalah orang yang mati tidak membawa amal-amal kebaikan lalu kuburnya menghimpitnya.


Siapakah orang yang mempunyai akal?
Orang yang mempunyai akal adalah orang-orang yang menghuni surga kelak karena telah mengunakan akal sewaktu di dunia untuk menghindari siksa neraka.


Siapakah orang yang bijak?
Orang yang bijak ialah org yang tidak membiarkan atau membuang tulisan ini begitu saja, malah dia akan menyampaikan pula pada orang lain untuk dimanfaatkan dan mengambil contoh sebagai sandaran dan pedoman kehidupan sehari-hari.

Jumat, November 02, 2007

Membangun Positive Thinking Secara Islam

Berbagai hasil penelitian di barat menunjukkan bahwa kecemasan dan stress ternyata menjadi pembunuh nomor satu, jauh diatas penyakit jantung, kanker dan penyakit-penyakit berbahaya lainnya.

Banyak ahli-ahli di barat yang berupaya mencarikan jalan pemecahan terhadap gangguan psikis itu. Namun umumnya mereka bertolak dari paham materialisme sehingga mengedepankan materi. Mereka tidak mau mengambil jalan Tuhan atau Keimanan. Akibatnya solusi yang mereka berikan tidak tuntas.

Padahal, bila iman telah meresap dalam hati, tentu akan menghidupkan hati yang mati dan membangkitkan ketentraman serta ketenangan. Bagi seorang muslim, keimanan yang meresap kedalam hati akan membentuk perilaku dengan pondasi-pondasi yang kukuh dan dasar-dasar yang luhur. Pikiran yang cerah, bersih dan cemerlang yang senantiasa dihiasi oleh iman akan serta merta membawa seorang muslim pada sebuah langkah hidup yang tenang, mulus dan lurus. Itulah yang dinamakan pikiran positif.

Buku ini berisi petunjuk untuk membangun pikiran positif secara islam, termasuk kedalamnya adalah kiat menghilangkan cemburu dan penyakit hati lainnya; terbebas dari rasa sedih, cemas dan takut gagal; menjadi sosok yang sukses dan berbeda; serta ikhlas, ridha dan tawakal atas langkah yang telah diambil. Seluruhnya terangkuim dalam 18 kiat praktis yang gampang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kiat-kiat itu adalah :
1. Luruskan pikiran anda
2. Tinggalkan perfeksionisme
3. Hilangkan rasa cemburu
4. Jadilah sosok berbeda
5. Hilangkan penyakit hati
6. Cintailah orang lain seperti mencintai diri sendiri
7. Jangan sedih dengan masa lalu, pikirkan masa kini
8. Jangan berfikiran statis
9. Hilangkan perasaan takut gagal
10. Ridha dengan takdir Allah
11. Berbudi baik kepada orang lain
12. Dengan ikhlas, terbebas dari kecemasan
13. Dalam kesulitan ada kemudahan
14. Lihatlah orang-orang dibawah anda
15. Menghilangkan sedih dan cemas dengan memikirkan ciptaan Allah
16. Sholat, obat segala kesusahan
17. Istigfar menghilangkan kesusahan dan kecemasan
18. Berdoa dengan Ismul A’zham


Judul Buku : Membangun Positive Thinking Secara Islam
Penulis : Adil Fathi Abdullah
Penerjemah : Faishal Hakim Halimy
Penerbit : Gema Insani Press

Rabu, Oktober 31, 2007

Duh, Sulitnya Ber-husnuzhan.....

Kawan lama saya bercerita sambil tertawa-tawa. Ia teringat masa mudanya, ketika ia masih duduk di kelas satu sekolah menengah atas di bilangan selatan Jakarta. Ketika itu ia sedang ada masalah dengan teman sekelasnya.

Seperti anak-anak remaja lain, ia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bermacam kegiatan. Di luar waktunya untuk sekolah, ia juga aktif di kerohanian sekolah, pramuka, dan beberapa kegiatan lain, termasuk kursus menghafal qur'an dan waktu untuk berkumpul dengan teman-teman dekatnya.

Banyaknya kegiatan yang diikuti membuatnya bertemu dengan banyak orang dengan beragam karakter. Cocok atau tidak cocok dengannya. Ia tidak bisa memilih.

Ketika itu, sepulang sekolah kawan saya sedang berjalan bersama beberapa orang temannya. Ketika melewati tumpukan sampah di depan rumah warga dekat sekolahnya, kawan saya yang kala itu umurnya tidak lebih dari tiga belas tahun spontan menutup hidung sambil membuang muka, menghindari sumber bau busuk dari tumpukan sampah yang dilewatinya, sembari berkata, "Uh! Bau, ih!"

Peristiwa itu berlalu begitu saja sebagai slice of life yang biasa ditemuinya setiap hari. Ia tidak pernah sedikit pun memikirkan peristiwa itu, seperti ia tidak memikirkan si tukang palak yang meminta uang sambil mengancam, atau copet yang hampir setiap hari ditemuinya di dalam bus kota. Pikirannya sudah dipenuhi dengan urusan lain yang dianggapnya jauh lebih penting seperti persiapan ulangan, jadwal latihan pramuka, dan lainnya.

Setelah meminum seteguk air dari gelas di tangannya, kawan saya meneruskan ceritanya. Beberapa hari kemudian ternyata ia baru menyadari bahwa salah seorang temannya menjaga jarak dengannya. Ia lebih terkejut lagi ketika mengetahui temannya itu sudah beberapa hari menjauhinya karena tersinggung.

Ternyata, dalam perjalanan pulang saat itu, tanpa disadarinya, ia berpapasan dengan seorang teman lain yang sedang berjalan sendirian ke arah yang berlawanan. Ia tidak menyadari kehadiran temannya itu di arah berlawanan karena sedang serius berbincang dengan rombongannya.

Ketika dikonfirmasi langsung, salah seorang temannya yang menjaga jarak itu menyatakan bahwa ia merasa tidak dipedulikan, bahkan merasa terhina karena saat itu kawan saya tidak menyapa dan membuang muka, lengkap dengan aksi menutup hidung dan berkomentar "Uh, bau ih!!" tersebut.

Kawan saya segera meluruskan masalah. Ia menceritakan semua yang sebenarnya terjadi. Apa adanya. Bahwa ia sungguh tidak melihat keberadaan temannya itu di dekatnya, dan bahwa ia menutup hidung karena menghindari bau busuk sampah. Ia pun tak lupa meminta maaf atas ketidaksengajaannya menyinggung perasaan temannya itu. Hasilnya? Temannya pun tersenyum kembali sambil ikut meminta maaf, dan mengatakan bahwa seharusnya ia tidak perlu se-sensitif itu, bila ia mampu ber-husnuzhan.

Cerita kawan saya di atas hanya satu dari beribu bahkan berjuta kesalahpahaman yang pernah terjadi di kehidupan sehari-hari. Hampir setiap waktu kita membutuhkan orang lain, dan dari interaksi itulah kerap kali timbul salah paham-salah paham yang menjadi kerikil dalam komunikasi.

Hampir setiap hari kita melakukan kesalahan. Baik yang disadari maupun tidak. Oleh karena itu kita dianjurkan untuk melakukan taubat setiap hari. Bukan sekadar bila melakukan kesalahan saja.

Kita tidak selalu menyadari apakah kata-kata yang terucap melukai perasaan seseorang atau tidak. Sikap kita membuat orang lain tersinggung atau tidak. Dan hal-hal lain yang kita lakukan selama berinteraksi dengan orang lain.

Seperti juga kita tidak mengetahui maksud seseorang ketika perkataannya atau tingkahnya menyisakan perasaan tidak nyaman bagi kita. Entah sedih, senang, malu, atau marah. Lawan komunikasi kita di segala aktivitas yang kita lakukan tidak pula memahami tiap tutur dan tindakan kita yang kita sengaja maupun yang tidak kita sadari terjadinya.

Karena setiap saat kita dapat menjadi orang yang melukai atau dilukai atau keduanya dalam waktu yang bersamaan setiap saat, maka kita amat perlu memelihara dan memupuk kemampuan untuk berbaik sangka, berlapang dada, berani mencegah prasangka buruk dengan berani bertanya mengenai duduk permasalahannya. Dan yang paling akhir adalah berani meminta maaf atau memaafkan bila kita memang salah atau ketika orang lain meminta maaf.

Kamis, Oktober 11, 2007

Mohon Maaf Lahir Batin

Assalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakaatuh

Sebelum Ramadhan berakhir...
Sebelum takbir berkumandang. ..
Sebelum semuanya libur kerja...
Sebelum nda bisa ketemu lagi karena udah pada cuti, izin, or ada yang bolos (oups...!)
Sebelum semuanya pada pulang karena udah pada mautakbiran n mudik...

Buat yang mudik, mudah2an ga' kena macet...
Yang naik bus, semoga ga' kegencet-gencet. ..
Yang naik Kereta, semoga dapet tempat duduk n tiket...
Yang naik pesawat or kapal laut, meski harga tiket meroket...
semoga niat pulang tetep awet...
Hati-hati banyak copet... maklum lebaran banyak yang kepepet...
Pokoknya, naik apapun... Teman-teman semua harus tetap waspada!!!

"Selamat Idul Fitri 1428 H"
Taqobbalallohu Minna Wa Minkum Taqobbalallahu Yaa Karim
Mohon Maaf Lahir dan Bathin..
Atas semua kesalahan dan dosa yang telah diperbuat, baik sengaja maupun tidak...
Semoga kita semua kembali terlahir menjadi manusia yang fitri...

Semoga berkah Ramadhan selalu menyinari kita hingga akhirnya mengantar kita pada Ramadhan yang kan datang...

Amien..."