Kamis, September 27, 2007

Sahabat

Ini cerita tentang persahabatan, juga tentang hal-hal kecil yang memanusiakan. Kita tidak akan menyadarinya sampai suatu waktu seseorang mengungkapkan betapa berartinya hal kecil yang pernah kita lakukan untuk orang lain.

***

Ada yang selalu dilakukan Hendi setiap pagi dan sore di kantornya. Sebuah sapaan khas selalu diucapkannya setiap pagi kepada Surya, office boy (OB) kantor tempatnya bekerja. "Assalaamu'alaikum mas Surya, apa kabar? Keluarga sehat?" tentu saja yang disapa merasa senang dan membalasnya dengan senyum. Begitu pun setiap sore menjelang pulang, setiap kali berpapasan dengan Surya, "Mas Surya, saya pulang dulu ya, salam buat keluarga di rumah. Assalaamu'alaikum" .

Kadang jika siang hari, saat semua karyawan bergegas keluar kantor untuk makan siang, Hendi terlebih dulu mampir ke pantry menemui Surya. "Sudah makan siang mas?" yang ditanya selalu menjawab dengan senyum khasnya plus sejumput kalimat singkat, "saya sudah bawa pak, silahkan bapak makan duluan". Hendi tak sekadar menyapa, sebetulnya dia sudah tahu jika hampir setiap hari Surya selalu membawa kotak makanan yang disiapkan isterinya dari rumah.

Tidak setiap hari Surya membawa kotak makan, Hendi tahu itu. Sebab ia sering membuka lemari di pantry tempat Surya biasa menyimpan kotak nasinya. Begitu ia tak mendapati kotak nasi, maka bukan pertanyaan "sudah makan siang mas?" melainkan sebuah ajakan tak berbunyi. Hendi menarik tangan OB itu dan mengajaknya ke kantin untuk makan bersama. Meski seringkali Surya menolak halus, "maaf pak, saya harus menuangkan air putih ke gelas-gelas yang sudah kosong".

Suatu hari, Hendi mengajukan surat pengunduran diri dari kantornya. Ia mendapat tawaran bekerja di perusahaan lain dengan jabatan yang lebih tinggi dan sudah pasti gaji yang juga lebih besar. Karena Hendi merupakan salah seorang manager terbaik di perusahaan itu, pimpinannya berupaya mencegah Hendi meninggalkan kantor itu. Demi dapat menahan lelaki itu pindah pekerjaan, pimpinannya menawarkan promosi jabatan dan gajinya dinaikkan.

Namun Hendi tak bergeming dengan tawaran itu. Tekadnya sudah bulat untuk berpindah kantor. Pun seorang Sarah yang menahannya, lelaki itu tetap pada pendiriannya. Sarah, gadis cerdas, cantik dan professional yang selama hampir setahun dekat dengan Hendi tak berhasil membuat Hendi mengurungkan niatnya.

Selama lebih dari dua pekan, segala upaya pimpinan dan semua rekan kantornya menahan Hendi tak membuahkan hasil. Sampai akhirnya hari yang ditentukan itu pun tiba. Hendi memeluk satu persatu rekan kerjanya, mulai dari pimpinan perusahaan, para manager partner kerjanya, dan semua staff di perusahaan itu. Tetes air mata Sarah pun tak membuat hatinya mendung, "kita masih bisa bertemu kok", katanya.

Orang terakhir yang hendak dipeluk Hendi adalah Surya. Sang OB yang sejak mengetahui rencana kepindahan `sahabatnya' itu sering terlihat murung. Hendi mendekati Surya dan memeluk tubuh kecil lelaki itu. Saat memeluk sang OB, terasa gerimis di hatinya mendengar kalimat, "selama saya bekerja di sini, hanya pak Hendi yang benar-benar memanusiakan saya. Saya tidak tahu apakah masih bisa mendengar sapaan di pagi, siang dan sore seperti yang biasa bapak lakukan untuk saya¦"

Pelukannya semakin kuat dan Hendi merasa tak ingin melepaskan Surya. Ia menjatuhkan tas di tangannya dan meminta Surya untuk meletakkannya kembali ke meja kerjanya. "Tolong letakkan kembali barang-barang saya di meja kerja saya ya mas¦" pintanya.

***

Ketika tidak ada yang mampu membuat seseorang mengubah pendiriannya, sahabat bisa. Sapalah sahabat, dan lihatlah betapa berharganya Anda baginya.

Jumat, Agustus 31, 2007

Masa Hidup Di Dunia Sesungguhnya Masa Yang Sangat Singkat

Masa hidup rata-rata manusia 60 - 80 tahun terlihat sangat panjang bagi yang tidak memahami akhirat. Padahal di akhirat hidup adalah abadi, entah itu di surga atau di neraka, artinya tidak sekedar 500 atau seribu tahun atau sejuta tahun, tapi lebih dari itu yang berarti bermilyar-milyar tahun atau penafsiran umumnya dikatakan sebagai abadi (kekal). Bahkan sebelum Allah SWT menentukan kita masuk surga atau neraka, kitapun masih harus mengikuti 'masa menunggu' di alam kubur selama ratusan hingga ribuan tahun; tergantung iman, amal dan ibadah kita di dunia. Kemudian masih ada ribuan tahun lagi 'masa menunggu' di Padang Mahsyar, ratusan hingga ribuan tahun lagi 'masa menunggu' di proses pengadilan akhirat. Dan seterusnya, sehingga 60 - 80 tahun di dunia sesungguhnya adalah waktu yang sangat singkat. Rasulullah SAW menggambarkan masa kehidupan di dunia ibarat orang yang sedang singgah sejenak dalam suatu perjalanan yang sangat jauh.

"Ada dua kenikmatan yang kebanyakan manusia merugi (terhalang dari mendapat kebaikan dan pahala) di dalamnya, yaitu kesehatan dan waktu luang." (HR. Al-Bukhari no. 6412).

Hadits yang mulia di atas memberikan beberapa faedah kepada kita: 1. Sepantasnya bagi kita memanfaatkan waktu sehat dan waktu luang untuk taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan mengerjakan kebaikan-kebaikan sebelum hilangnya dua nikmat itu. Karena, waktu luang akan diikuti dengan kesibukan, dan masa sehat akan disusul dengan sakit. 2. Islam sangat memperhatikan dan menjaga waktu. Karena waktu adalah kehidupan, sebagaimana Islam memperhatikan kesehatan badan di mana akan membantu sempurnanya agama seseorang. 3. Dunia adalah ladang akhirat. Maka sepantasnya seorang hamba membekali dirinya dengan takwa dan menggunakan kenikmatan yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk taat kepada-Nya. 4. Mensyukuri nikmat Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah dengan menggunakan nikmat tersebut untuk taat kepada-Nya. (Bahjatun Nazhirin Syarhu Riyadhis Shalihin, 1/180-181)

"Dan ingatlah ketika Rabbmu memaklumkan: 'Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat itu kepada kalian. Dan jika kalian mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih'." (Al-Qur'an, surat Ibrahim, ayat 7).

Kenyataan yang ada, banyak waktu kita berlalu sia-sia tanpa kita manfaatkan dan kita pun tidak bisa memberikan manfaat kepada salah seorang dari hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta'ala. Kita tidak merasakan penyesalan akan hal ini kecuali bila ajal telah datang. Ketika itu seorang insan pun berangan-angan agar ia diberi kesempatan kembali ke dunia walau sedetik untuk beramal kebaikan, akan tetapi hal itu tidak akan didapatkannya.

Terkadang nikmat ini luput sebelum datangnya kematian pada seseorang, dengan sakit yang menimpanya hingga ia lemah untuk menunaikan apa yang Allah Subhanahu wa Ta'ala wajibkan terhadapnya, ia merasakan dadanya sempit tidak lapang dan ia merasa letih. Terkadang datang kesibukan pada dirinya dengan mencari nafkah untuk dirinya sendiri dan keluarganya sehingga ia terluputkan dari menunaikan banyak dari amal ketaatan.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :

"Hingga ketika datang kematian menjemput salah seorang dari mereka, ia pun berkata: 'Wahai Rabbku, kembalikanlah aku ke dunia agar aku bisa mengerjakan amal shalih yang dulunya aku tinggalkan'. " (Al-Mukminun: 99-100)

"Sebelum datang kematian menjemput salah seorang dari kalian, hingga ia berkata: 'Wahai Rabbku, seandainya Engkau menangguhkan kematianku sampai waktu yang dekat sehingga aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shalih.' Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan kematian seseorang apabila telah datang waktunya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan." (Al-Munafiqun: 10-11)

Karena itulah sepantasnya bagi insan yang berakal untuk memanfaatkan waktu sehat dan waktu luangnya dengan melaksanakan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala sesuai dengan kemampuannya. Jika ia dapat membaca Al Qur'an, maka hendaklah ia memperbanyak membacanya. Bila ia tidak pandai membaca Al Qur'an maka ia memperbanyak zikir kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Bila ia tidak dapat melakukan hal itu, maka ia melakukan amar ma'ruf nahi mungkar. Atau mencurahkan apa yang ia mampu berupa bantuan dan amal kebaikan kepada saudara-saudaranya. Semua ini adalah kebaikan yang banyak namun luput dari kita dengan sia-sia." (Syarah Riyadhis Shalihin, 1/451-452).
Sedemikian pentingnya mengisi waktu dengan baik sehingga Al-Quran memiliki satu surat khusus mengenai waktu (surat Al Ashr). "Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran". Rasulullah SAW menggambarkan betapa pentingnya mengisi waktu dengan kebaikan dengan menganjurkan kita bersedekah walau dengan sebiji kurma sekalipun, atau menanam pohon walaupun besok kiamat tiba. Wallahu ta'ala a'lam bish-shawab.Sumber : Al-Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husein Al-Atsariyyah

Rabu, Agustus 01, 2007

Marilah Kita Bersyukur

Musim terus berganti, waktu terus berlalu, usia kian bertambah. Banyak yang sudah kita lalui di kehidupan ini. Ada masa dimana kita merasa senang. Tatkala kita menemukan pekerjaan idaman kita, mendapatkan promosi, dan terus menapaki tangga karir yang lebih tinggi dengan fasilitas yang lebih baik pula, kita memiliki perasaan senang. Ini mungkin merupakan salah satu titik puncak dalam kehidupan kita. Dunia seakan sangat indah di masa itu.

Tak dapat dielakkan, ada pula masa dimana kita mengalami begitu banyak masalah. Kita merasa sangat tertekan. Proyek kita mengalami hambatan ini dan itu, atasan kita terus menuntut kita dengan kinerja tertentu, persoalan rumah tangga, kejenuhan, dan lain sebagainya. Pada titik ini, kita menjadi sangat bingung, konsentrasi kita terpecah, wajah kita muram, dan antusiasme serta semangat kita semakin menurun.

Musim boleh berganti, waktu boleh berlalu, tapi kita harus terus belajar menjadi orang yang bijak. Bila kita sedang melalui masa-masa yang senang, apa yang kita lakukan? Kita tentunya harus bersyukur. Bila kita sedang melalui badai dalam hidup kita, apa yang kita lakukan? Biasanya, mengeluh.

Setiap manusia normal, pasti pernah mengeluh. Memang hal tersebut bukan sesuatu yang salah, tapi mengeluh juga bukan sesuatu yang baik dan bijak. Kita merasa kecewa, kita merasa jenuh, bahkan kita marah terhadap orang lain sebagai manifestasi dari permasalahan yang kita hadapi. Jelas ini tidak baik bagi mental kita. Lalu apa yang harus kita lakukan?

Yang harus kita lakukan adalah BERSYUKUR.

Mari kita ubah paradigma berpikir kita. Kita harus mensyukuri segala permasalahan yang terjadi hidup kita. Jadilah orang yang memiliki sikap positif. Sebagian dari kita (yang memiliki sikap negatif) mungkin akan berpikir, "Ah, teori... Ngomong sih gampang. Belum tau aja." Kalau kita berpikir demikian, tidak apa, kita dapat terus melanjutkan kehidupan dengan cara-cara lama dan paradigma kita sendiri. It's your life anyway. Sebagian lagi dari kita (yang memiliki sikap positif atau memiliki keinginan untuk berubah) akan bertanya, "Saya mau, bagaimana caranya?"

Mulailah dengan hal-hal kecil yang dapat menjadi latihan mental bagi kita.

# Bersyukur atas hari ini. Kita masih dapat bernafas, sementara banyak orang yang untuk bernafas saja masih memerlukan bantuan. (Lihat di rumah sakit).

# Bersyukur atas hari ini. Kita memiliki pekerjaan, sementara banyak orang terpaksa harus mengemis untuk hidup. (Lihat di jalanan, anak-anak dan orangtuanya mengemis).

# Bersyukur atas hari ini. Kita dapat mengenyam pendidikan yang layak, sementara banyak orang yang membaca pun tidak bisa. (Lihat di daerah terpencil tanpa sekolah).

# Bersyukur atas hari ini. Kita masih dapat makan enak, sementara di belahan dunia yang lain banyak orang yang menjadi kurus kering dan kurang gizi. (Lihat berita di TV yang terjadi di Afrika).

# Bersyukur atas hari ini. Bersyukur karena kita mengalami masalah. Bersyukur karena masalah diperkenankan terjadi dalam hidup kita. Bersyukur karena masalah hadir membantu untuk membentuk pribadi kita.

Ambil waktu tenang sejenak di sela-sela kesibukan kita atau mungkin malam hari sebelum kita tidur. Pejamkan mata kita agar dapat lebih berkonsentrasi. Lakukan refleksi diri. Lihat kembali perjalanan hidup kita. Mengapa kita ada di sini saat ini? Berapa banyak sudah hal-hal luar biasa, hal-hal baik, dan positif yang terjadi pada hidup kita?

Syukurilah. Lihat juga berapa banyak permasalahan yang muncul dan sudah kita lalui? Syukurilah. Rasakan di setiap detik kehidupan kita.

Bersyukurlah, karena badai pasti berlalu. Ingat, ada musim berikutnya dalam hidup kita. Ada babak baru di hadapan kita. Siapkan diri kita untuk musim yang baru dengan sejuta keindahan di dalamnya.

Rabu, Juli 04, 2007

Puisi Dakwah

Oleh Ustad. Aus Hidayat Nur

Katakanlah, “Inilah jalanku aku mengajak kalian kepada Allah dengan bashiroh, Maha Suci Allah dan aku bukan termasuk orang-orang yang musyrik.”

Jalan dakwah panjang terbentang jauh kedepan
Duri dan batu terjal selalu mengganjal, lurah dan bukit menghadang
Ujungnya bukan di usia bukan pula di dunia
Tetapi cahaya maha cahaya, syurga dan ridho Allah

Cinta adalah sumbernya, hati dan jiwa adalah rumahnya
Pergilah kehati-hati manusia ajaklah ke jalan Robbmu
Nikmati perjalanannya, berdiskusilah dengan bijaksana
Dan jika seseorang mendapat hidayah karenamu
Itu lebih baik dari dunia dan segala isinya…
Pergilah kehati-hati manusia ajaklah kejalan Robbmu

Jika engkau cinta maka dakwah adalah faham
Mengerti tentang islam, Risalah Anbiya dan warisan ulama
Hendaknya engkau fanatis dan bangga dengannya
Seperti Mughirah bin Syu’ban di hadapan Rustum Panglima Kisra

Jika engkau cinta maka dakwah adalah ikhlas
Menghiasi hati, memotivasi jiwa untuk berkarya
Seperti kata Abul Anbiya,”Sesungguhnya sholatku, Ibadahku, Hidupku dan Matiku semata bagi Robb semesta”
Berikan hatimu untuk Dia, katakan “Allahu Ghayatuna”

Jika engkau cinta maka dakwah adalah amal
Membangun kejayaan ummat kapan saja dimana saja berada
Yang bernilai adalah kerja, bukan semata ilmu apalagi lamunan
Sasarannya adalah perbaikan dan perubahan, al ishlah wa taghyir
Dan diri pribadi, keluarga, masyarakat hingga Negara
Bangun aktifitas secara tertib tuk mencapai kejayaan

Jika engkau cinta maka dakwah adalah jihad
Sungguh-sungguh di medan perjuangan melawan kebatilan
Tinggikan kalimat Allah, rendahkan ocehan syaitan durjana
Kerja keras tak kenal lelah adalah rumusnya
Tinggalkan kemalasan, lamban dan berpangkutangan

Jika engkau cinta maka dakwah adalah tadhhiyah
Bukti kesetiaan dan kesiapan memberi, pantang meminta
Bersedialah banyak kehilangan dengan sedikit menerima
Karena yang disisi Allah lebih mulia, sedang disisimu adalah fana belaka
Sedangkan tiap tetes keringat berpahala lipat ganda

Jika engkau cinta maka dakwah adalah taat
Kepada Allah dan Rasul, Alquran dan Sunnahnya serta orang-orang bertaqwa yang tertata
Taat adalah wujud syukurmu kepada hidayah Allah
Kareanya nikmat akan bertambah melimpah penuh berkah

Jika engkau cinta maka dakwah adalah tsabat
Hati dan jiwa yang tegar walau banyak rintangan
Buah dari sabar meniti jalan, teguh dalam barisan
Istiqomah dalam perjuangan dengan kaki tak tergoyahkan
Berjalan lempeng jauh dari penyimpangan

Jika engkau cinta maka dakwah adalah tajarrud
Ikhlas di setiap langkah mengapai satu tujuan
Padukan seluruh potensimu libatkan dalam jalan ini
Engkau da’i sebelum apapun adanya engkau
Dakwah tugas ulamamu sedang lainnya hanya selingan

Jika engkau cinta maka dakwah adalah ukhuwah
Lekatnya ikatan hati berjalin dalam nilai-nilai persaudaraan
Bersaudaralah dengan muslimin sedunia, utamanya mukmin mujahidin
Lapang dada merupakan syarat terendahnya
Itsar bentuk tertingginya

Jika engkau cinta maka dakwah adalah tsiqoh
Kepercayaan yang dilandasi iman suci penuh keyakinan kepada Allah, Rasul, Islam, Qiyadah dan Junudnya
Hilangkan keraguan dan pastikan kejujurannya
Karena inilah kafilah kebenaran yang penuh berkah

Dan Allah Yang Maha Mengetahui menghimpun hati-hati para da’i dalam cinta-Nya, berjumpa karena taat kepada-Nya, melebur satu dalam dakwah ke jalan Allah, saling berjanji untuk menolong syariat-Nya.


ALWAYS WELCOME THE NEW MORNING WITH A NEW SPIRIT, A SMILE ON YOUR FACE, LOVE IN YOUR HEART, AND GOOD THOUGHTS IN YOUR MIND

Selasa, Juni 12, 2007

Ketika Allah bilang Tidak

Ketika manusia berdo'a, "Ya Allah ambillah kesombonganku dariku."
Allah berkata, "Tidak. Bukan Aku yang mengambil, tapi kau yang harus menyerahkannya. "

Ketika manusia berdo'a, "Ya Allah sempurnakanlah kekurangan anakku yang cacat."
Allah berkata, "Tidak. Jiwanya telah sempurna, tubuhnya hanyalah sementara."

Ketika manusia berdo'a, "Ya Allah beri aku kesabaran."
Allah berkata, "Tidak. Kesabaran didapat dari ketabahan dalam
menghadapi cobaan, tidak diberikan, kau harus meraihnya sendiri."

Ketika manusia berdo'a, "Ya Allah beri aku kebahagiaan. "
Allah berkata, "Tidak. Kuberi keberkahan, kebahagiaan tergantung
kepadamu sendiri untuk menghargai keberkahan itu."

Ketika manusia berdo'a, "Ya Allah jauhkan aku dari kesusahan."
Allah berkata, "Tidak. Penderitaan menjauhkanmu dari jerat duniawi dan mendekatkanmu pada-Ku."

Ketika manusia berdo'a, "Ya Allah beri aku segala hal yang
menjadikan hidup ini nikmat." Allah berkata, "Tidak. Aku beri kau kehidupan supaya kau menikmati segala hal."

Ketika manusia berdo'a, "Ya Allah bantu aku MENCINTAI orang lain,
Sebesar cintaMu padaku. Allah berkata... "Akhirnya kau mengerti .!!"

Kadang kala kita berpikir bahwa Allah tidak adil, kita telah susah
payah memanjatkan doa, meminta dan berusaha, pagi-siang-malam, tapi tak ada hasilnya.

Kita mengharapkan diberi pekerjaan, puluhan bahkan ratusan lamaran telah kita kirimkan tak ada jawaban sama sekali, sementara orang lain
dengan mudahnya mendapatkan pekerjaan.

Kita sudah bekerja keras dalam pekerjaan mengharapkan jabatan, tapi justru orang lain yang mendapatkannya tanpa susah payah.

Kita mengharapkan diberi pasangan hidup yang baik dan sesuai, berakhir
dengan penolakkan dan kegagalan, orang lain dengan mudah berganti pasangan.

Kita menginginkan harta yang berkecukupan, namun kebutuhanlah yang terus meningkat.

Coba kita bayangkan diri kita seperti anak kecil yang sedang
demam dan pilek lalu kita melihat tukang es.

Kita yang sedang panas badannya merasa haus dan merasa dengan minum es dapat mengobati rasa demam
(maklum anak kecil). Lalu kita meminta pada orang tua kita (seperti kita berdoa
memohon pada Allah) dan merengek agar dibelikan es. Orangtua kita tentu
lebih tahu kalau es dapat memperparah penyakit kita. Tentu dengan segala
dalih kita tidak dibelikan es. Orangtua kita tentu ingin kita sembuh dulu
baru boleh minum es yang lezat itu. Begitu pula dengan Allah, segala yang
kita minta Allah tahu apa yang paling baik bagi kita.

Mungkin tidak sekarang, atau tidak di dunia ini Allah mengabulkannya.

Karena Allah tahu yang terbaik yang kita tidak tahu.