Rabu, Desember 06, 2006

Sudahkah Aku Mencintai Allah SWT

Semoga kita selalu mengingat akan nikmat yang telah diberikan kepada kita. Tiada yang berharga dari hidup kita selain bersyukur dan beribadah kepada Allah SWT.

Sesungguhnya aku masih belum mengetahui apakah aku sudah mencintai Allah. Dalam hidup aku selalu menganggap bahwa pasangan yang nyatalah yang aku cintai. Seperti Kedua Orang tua, Keluarga, Teman. Cinta terhadap Allah, sungguh aku tidak tahu?

Apakah cinta itu sama seperti aku mencintai Kedua Orang tua, Keluarga, Teman. Aku sungguh tidak tahuuuu ??? Semoga aku sudah mencintai Allah SWT. karena yang tahu cinta aku hanyalah Allah SWT. Betapa nista dan kufurnya aku bila tidak mencintainya.


Allah SWT Engkaulah sang kholik yang esa.


Yaa Allah Hamba memohon Ridho mu.
Yaa Allah Hamba memohon Rahmat mu.
Yaa Allah Hamba memohon Perlindungan mu.
Yaa Allah Hamba memohon Ampunan mu.


Jangan engkau tutup jalan yang lurus menuju surga mu yaa Allah.
Jangan engkau palingkan Aku dari cahaya rahmat mu yaa Allah.
Ingat kan lah selalu aku apabila aku tersesat di jalan Syaitan.
Hanya engkaulah Allah SWT yang pantas mendapatkan cinta aku.

Senin, Desember 04, 2006

Ujian Kehidupan

“Tiap-tiap orang yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Anbiyaa (21) : 35).

Ujian merupakan segala yg terjadi pada manusia baik berupa suatu kesulitan maupun kesenangan. Musibah adalah hal-hal yg tidak menyenangkan yg terjadi pada manusia. Kebanyakan manusia menganggap bahwa ujian dan cobaan hanya berupa derita, kesulitan, kegagalan, bencana dan sejenisnya yg lazim disebut dengan musibah. Jarang dikatakan bahwa kelapangan hidup, kekayaan popularitas dan keberhasilan meraih cita-cita dikatakan ujian, padahal sebenarnya ini juga merupakan ujian dari Allah Swt.

Setiap manusia akan menerima ujian dari Allah Swt. Bentuk ujian itu ialah segala yg tidak disenangi atau yg disenangi oleh setiap orang (ujian bisy-syar dan bil-khair), ujian ini berjalan kedua-duanya, bersamaan atau bergantian, kadang manusia diuji dengan nasib baik, kekayaan dan kesenangan dan adakalanya diuji dengan musibah, kesulitan dan rasa putus asa, tidak ada orang senang terus sejak masa lahirnya tanpa merasakan sedikitpun kesusahan atau keguncangan. Dan sebaliknya, tidak ada orang yg susah terus sepanjang hidupnya tanpa pernah mengalami kesenangan dan kegembiraan. Karena kehidupan di dunia ini terdiri atas hal-hal yg menyenangkan dan yg tidak menyenangkan.

Banyak orang yg lulus dalam ujian bisy-syar (kesusahan/kesulitan) tetapi jatuh dalam ujian bil-khair (kesenangan). Banyak orang yg gagal menghadapi ujian dalam bentuk kebaikan/kesenangan daripada ujian yg berbentuk kesulitan/musibah.

Rasululloh Saw bersabda, “ Demi Allah, bukanlah kefakiran yg aku khawatirkan atas kalian, akan tetapi aku justru khawatir (kalau-kalau) kemegahan dunia yg kalian dapatkan, sebagaimana yg diberikan kepada orang-orang sebelum kalian. Lalu kalian bergelimang dalam kemewahan itu sehingga binasa, sebagaimana mereka bergelimang dan binasa pula.” (HR. Bukhari).

Kebiasaan manusia lupa diri ketika menghadapi ujian kesenangan dan kenikmatan, diungkapkan dalam Al Qur’an : “Adapun manusia apabila diberi ujian oleh Tuhan-Nya yaitu diberi tempat yg mulia dan diberikan kenikmatan kepadanya, lalu berkata : ‘Tuhanku telah memuliakan aku.” Dan sebaliknya : “Adapun bila Tuhan-Nya mengujinya lalu membatasi rezkinya maka dia berkata : “ Tuhanku menghinakanku”. (QS. 89 : 15-16)

Ada tiga golongan manusia dalam menghadapi musibah/ujian :

Pertama Orang yg menganggap bahwa musibah/ujian kehidupan sebagai hukuman dan azab kepadanya, sehingga ia selalu merasa sempit dada dan selalu berkeluh kesah, bila ia mendapatkan kebaikan dia menjadi kikir.

Sebagaimana firman_Nya : “Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir”. (QS. 70 : 20-21)

Kedua Orang yg menilai bahwa musibah adalah sebagai penghapus dosa, ia tidak pernah menyerahkan apa2 yg menimpanya kecuali kepada Allah Swt.

Dalam hadits kudsi Allah Swt berfirman : “Demi keagungan dan kalimat-Ku Aku akan mengeluarkan hamba-Ku yg Aku inginkan kebaikan baginya dari kehidupan dunia, sehingga aku tebus perbuatan2 dosanya dengan penyakit pada tubuhnya, kerugian pada hartanya, kehilangan anaknya. Apabila masih ada dosa yg tersisa dijadikan ia merasa berat disaat sakaratulmaut, sehingga ia menjumpai Aku seperti bayi yang baru lahir”.

Ketiga Orang yg meyakini bahwa musibah adalah ladang peningkatan iman dan taqwanya, org seperti ini selalu tenang serta percaya bahwa dengan musibah/ujian itu Allah Swt menghendaki kebaikan bagi dirinya.

Sebagaimana firman Allah Swt : “Maha Suci Allah yg ditangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya dia menguji kamu, siapa diantara kamu yg lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”. (QS. 67 : 1-2)

Dan dalam ayat yg lain Allah menjelaskan : “Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yg ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah diantara mereka yg terbaik amalnya”. (QS. 18 : 7)

Sabar menghadapi ujian

Ujian/musibah yg ditimpakan kepada manusia ada dua macam :

Pertama Musibah dunia, salah satunya ialah ketakutan, kelaparan, kematian dan bencana alam yg sekarang banyak terjadi di Negara kita ini, seperti tsunami, gempa dsb agar kita bersabar.

Sebagaimana Allah Swt berfirman : “Dan sesungguhnya akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”. (QS. 2 : 155)

Kedua Musibah akhirat, adalah orang yg tidak punya amal shalih dalam hidupnya, sehingga jauh dari pahala dan ridha Allah Swt.

Rasulullah Saw bersabda, “Orang yg terkena musibah bukanlah seperti yg kalian ketahui, tetapi orang yg terkena musibah yaitu yg tidak memperoleh kebajikan (pahala) dalam hidupnya”.

Orang yg terkena musibah berupa kesusahan dan kesulitan di dunia, jika dihadapi dengan kesabaran, ikhtiar dan tawakal kepada Allah, hakikatnya tidak terkena musibah, justru yg didapatkan adalah ladang pahala. Sebaliknya musibah (ujian) kesenangan selama hidupnya jika tidak pandai mensyukurinya, malah digunakan kesenangan tsb dijalan maksiat dan dosa, maka itulah musibah yg sesungguhnya, bukannya pahala/ridha Allah yg didapatkan melainkan menjadi ladang (saham) dosa.

Sebagaimana hadits Rosululloh Saw, “ Sesungguhnya menakjubkan perkara orang yg beriman, seluruh perkaranya menjadi baik ketika ditimpa musibah ia bersabar, itu membawa kebaikan baginya dan ketika mendapatkan nikmat kesenangan dia bersyukur dan itu membawa kebaikan baginya”. (HR. Muslim)

Jika seorang hamba telah mengetahui bahwa orang-orang yg bersabar dalam menghadapi ujian dari Allah Swt, kesabaran itu telah ditunggu oleh balasan yg paling baik disisi Allah Swt. Sebagaimana firman-Nya : “Apa yg ada disisimu akan lenyap dan apa yg ada disisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yg sabar dengan pahala yg lebih baik dari apa yg telah mereka kerjakan”. (QS. 16 : 96)

Musibah/ujian adalah suatu kepastian yg melanda semua manusia, baik secara perorangan, kelompok atau melanda sebuah Negara. Musibah pada hakikatnya adalah ujian dari Allah Swt, dan ketika ujian itu dapat dilaluinya dengan baik maka akan menaikan derajat dan kebaikan bagi yg diujinya itu, sebagaimana anak-anak pelajar yg akan naik kelas, mereka perlu diuji dahulu. Sebagaimana sabda Rasululloh Saw, “Siapa yg akan diberikan limpahan kebaikan dari Allah, maka diberi ujian terlebih dahulu”. (HR. Bukhari – Muslim)

Semoga setiap menghadapi ujian kesulitan kita bersabar dan berusaha mencari solusi dengan bertawakal kepada Allah Swt, sebagai bukti keimanan kepada-Nya. Dan jika mendapatkan ujian kesenangan, kebaikan kita bersyukur kepada-Nya.

Setiap muslim selayaknya meneladani sikap Nabi Sulaiman As ketika diberi anugerah kekayaan dan kekuasaan yg luar biasa oleh Allah Swt. Sebagaimana diungkapkan dalam Alqur’an : “ini termasuk karunia dari Tuhanku untuk menguji aku apakah aku bersyukur atau kufur atas nikmat-Nya. Dan barangsiapa yg bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk kebaikan dirinya sendiri dan barangsiapa yg ingkar maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”. (QS. 27 : 40)

Buletin Khairu Ummah Edisi 35/Nopember 2006

Jumat, Desember 01, 2006

Hati – hati menjalani hidup

Kecelakaan di jalan tol lebih besar dibanding kecelakaan di jalan berbelok-belok, becek atau jalan berlubang. Saya dengar, di jalan tol Padaleunyi saja, dalam setahun, telah terjadi sekitar dua ratus kecelakaan. Angka ini lebih banyak di banding kecelakaan di jalan raya biasa.

Begitu pula dalam hidup. Kenyamanan dan keserbacukupan berpotensi melenakan dan menghancurkan. Anak-anak yang dibesarkan dalam suasana serba mudah, lebih rentan tergelincir. Mereka pun cenderung mudah kalah saat di hadapkan pada kondisi sulit. Berbeda dengan anak-anak yang lahir dan dibesarkan dalam kondisi serba sulit. Mereka akan jauh memiliki daya tahan dalam mengarungi hidup. Betapa banyak orang sukses mengawali hidupnya dari kondisi serba darurat. Ketika kesulitan menghadang, mereka akan menghadapinya dengan senyuman. Mengapa? Karena kesulitan sudah jadi "mainan" sehari-hari.

Ibaratnya, hidup serba mudah seperti jalan tol, lurus, rata, konstan dan mudah diprediksi belokannya. Sedangkan hidup serba susah bagaikan berkendaraan di jalan penuh kelokan. Sulit diprediksi, dinamis, menuntut konsentrasi dan kehati-hatian ekstra. Sehingga kecelakaan lebih dapat diminimalisasi.

Kalau kita cermati, ternyata ada kemiripan antara kecelakaan di jalan raya dengan kecelakaan dalam hidup. Khususnya bila dilihat dari penyebabnya. Mari kita lihat.

1. Ngantuk karena tidak pandai mengukur kemampuan diri. Dalam hidup, kalau seseorang tidak pandai menyikapi hidup dan mengukur kemampuan dirinya, maka ia akan mudah tergelincir.

2. Ugal-ugalan. Orang yang ugal-ugalan dalam hidup, tidak memakai perhitungan matang, tergesa-gesa mengambil keputusan, kehidupannya pasti berantakan.

3. Nyetir sambil menelepon. Mirip dengan orang yang lalai, tidak waspada dan berdisiplin. Ia kurang bisa menempatkan sesuatu pada tempatnya. Akibatnya sungguh fatal.

4. Ceroboh, tidak terampil menggunakan rem misalnya, mirip orang yang tidak terampil mengendalikan nafsu. Kita dapat menduga apa yang akan terjadi pada orang yang kurang terampil mengendalikan nafsu, hati akan mengeras, susah akur, tamak, dsb.

5. Tidak memiliki persiapan matang, tidak memeriksa kendaraan sebelum berangkat. Hal ini mengingatkan kita betapa pentingnya melakukan persiapan dan perencanaan matang sebelum beraktivitas. Gagal merencanakan sama artinya dengan merencanakan gagal. Orang yang tidak memiliki perencanaan dalam hidupnya, berpeluang besar untuk gagal.

6. Belum lancar mengendarai. Dalam hidup, kalau kita tidak terampil dan terlatih menghadapi masalah, akan membuat hidup terasa ruwet dan getir. Di sinilah pentingnya amal yang berkesinambungan di bawah dibimbing seorang pelatih profesional. Dalam hidup, pembimbing kita adalah Alquran dan hadis.

7. Tidak tahu rambu-rambu lalu lintas, sama artinya dengan tidak memahami aturan hidup yang digariskan agama. Atau, orang yang mengetahui adanya rambu-rambu lalu lintas, namun tidak mau menaatinya.

Kehidupan kita tidak jauh beda seperti seorang yang mengendarai mobil di jalan. Maka berhati-hatilah menjalani kehidupan ini agar kita selamat menuju alam akhirat, seperti kita menghindari kecelakaan di jalan raya.

- KH Abdullah Gymnastiar -

Kamis, November 30, 2006

Berlapang Dada Menghadapi Kritikan

Penulis : KH Abdullah Gymnastiar

Persepsi kita terhadap kritik akan lebih baik bila kita menanamkan di dalam hati bahwa kritik itu penting. Sahabat, apa yang terlintas dalam benak kita ketika mendengar orang berkata, "Saya ingin mengkritik Anda!". Biasanya, jika seseorang mendapat perlakukan seperti itu, ia akan bereaksi negatif. Seakan-akan kehormatan dan harga dirinya sedang terancam. Ia menganggap kritik sebagai penghinaan yang akan menurunkan harga diri dan mencemarkan nama baiknya.

Maka, wajar jika reaksi yang muncul -- entah itu berupa pikiran, perasaan, maupun sikap tubuh -- adalah pembelaan diri. Sulit baginya untuk menerima semua kritikan, apalagi menikmatinya. Akan tetapi, responsnya akan berbeda jika kita mendengar perkataan, "Saya akan memberi kamu kripik". Spontan, kita akan senang menerimanya. Wajah menjadi cerah. Riang rasanya perasaan karena membayangkan akan diberi kripik yang lezat.

Di sinilah perbedaan kata 'kritik' dan 'kripik'. Tetapi, yang terpenting bukan itu. Hal terpenting adalah mengapa kita sampai memunculkan sikap berbeda ketika mendengar dua kata itu? Untuk yang pertama, kita cenderung sungkan menerimanya. Sementara untuk yang kedua, kita malah sering mencarinya. Sebenarnya, masalah kritik dan kripik bisa sama kalau persepsi kita tentang kritik itu kita benahi; bila kata-kata kritik menjadi bagian keseharian yang kita nikmati. Lebih dari itu, kita juga butuh ilmunya sehingga kritik ini menjadi sesuatu yang berarti dan layak kita akrabi.

Dalam menerima kritik, kita memerlukan beberapa trik, sehingga kita bisa menerima kritik tersebut sebagai sarana membangun kemuliaan. Bagaimana caranya?

Pertama, rindukanlah kritik dan nasihat tersebut. Selayaknya, kita bisa memposisikan diri menjadi orang yang rindu dikoreksi, dan rindu dinasihati. Seperti rindunya kita melihat cermin agar penampilan kita selalu bagus. Persepsi kita terhadap kritik akan lebih baik bila kita menanamkan di dalam hati bahwa kritik itu penting. Kritik adalah kunci kesuksesan dan kemajuan, kritik akan membuka prestasi, derajat, dan kedudukan yang lebih baik.

Kedua, cari dan bertanyalah. Belajarlah bertanya kepada orang lain dan nikmati saran-saran yang mereka lontarkan. Milikilah teman yang mau dengan jujur untuk saling mengoreksi. Tanyalah kekurangan diri pada orang-orang yang dekat dengan kita. Percayalah, semua itu tidak akan mengurangi kemuliaan

Ketiga, nikmati kritik. Persiapkan diri untuk menerima kenyataan bahwa koreksi itu tidak selalu harus sesuai dengan keinginan kita. Ada kalanya isinya benar, namun caranya salah. Tidak ada yang rugi dengan dikoreksi. Jadi, kalau ada yang mengkritik usahakan untuk tidak berkomentar. Jangan memotong pembicaraan. Apalagi membantahnya. Belajarlah untuk diam dan menjadi pendengar yang baik.

Keempat, syukurilah. Jangan melempar komentar apapun kecuali ucapan terimakasih yang tulus kepada si pemberi kritik. Tampakkanlah raut muka yang sungguh-sungguh dan penuh perhatian. Sertakan namanya dalam doa-doa kita, terutama bila kita ingat akan kebaikan-kebaikan yang pernah ia berikan.

Kelima, evaluasi diri. Jujurlah kepada diri sendiri ketika menerima kritik. Jangan sibuk menyalahkan pengkritik, atau mencari kambing hitam dengan menyalahkan orang lain.

Keenam, perbaiki diri. Buatlah program perbaikan dengan sungguh-sungguh. Jadikan program tersebut sebagai ungkapan rasa syukur terhadap kritik yang datang. Mintalah kepada Allah, sebab perubahan hanya terjadi dengan izin dan kekuasaan Dia.

Ketujuh, balas budi. Jangan lupa untuk mengirimkan tanda terima kasih. Bisa berupa barang berharga, makanan, sepucuk surat, atau-minimal- informasi kepada yang mengkritik bahwa kita berterima kasih atas kebaikannya.

Selamat menikmati kritik.

Jumat, November 24, 2006

Take it or Lose it

Dalam sebuah kelas pelatihan, saya mengambil selembar kertas polos kemudian menggunting-guntingnya menjadi beberapa bagian. Ada guntingan besar, ada juga yang kecil. Tapi jumlahnya sengaja saya buat tak sama dengan jumlah peserta dalam kelas itu, dua puluh orang.

Kemudian saya meminta kepada peserta untuk mengambil masing-masing satu guntingan kertas yang tersedia di meja depan. "Silahkan ambil satu!" demikian instruksi yang saya berikan. Dapat diduga, ada yang antusias maju dengan gerak cepat dan mengambil bagiannya, ada yang berjalan santai, ada juga yang meminta bantuan temannya untuk mengambilkan. Dua tiga orang bahkan terlihat bermalasan untuk mengambil, mereka berpikir toh semuanya kebagian guntingan kertas tersebut.

Hasilnya? Empat orang terakhir tak mendapatkan guntingan kertas. Delapan orang pertama ke depan mendapatkan guntingan besar-besar, yang berjalan santai dan yang meminta diambilkan harus rela mendapatkan yang kecil. Lalu saya katakan kepada mereka, "Inilah hidup. Anda ambil kesempatan yang tersedia atau Anda akan kehilangan kesempatan itu. Anda tak melakukannya, akan banyak orang lain yang melakukannya".

Pagi ini di kereta saya mendapati seorang wanita hamil yang berdiri agak jauh. Saya sempat berpikir bahwa orang yang paling dekat lah yang 'wajib' memberinya tempat duduk. Tapi sedetik kemudian saya bangun dan segera memanggil ibu itu untuk duduk. Ini perbuatan baik, jika saya tak mengambil kesempatan ini, orang lain lah yang melakukannya. Dan belum tentu esok hari saya masih memiliki kesempatan seperti ini.

Soal rezeki misalnya, saya percaya ia tak pernah datang sendiri menghampiri orang-orang yang lelap tertidur meski matahari sudah terik. "Bangun pagi, rezekinya dipatok ayam tuh!" Orang tua dulu sering berucap seperti itu.

Dan entah kenapa hingga detik ini saya tak pernah bisa menyanggah ucapan orangtua perihal rezeki itu. Saya percaya bahwa orang-orang yang lebih cepat berupaya meraihnya lah yang memiliki kesempatan untuk mendapatkan rezeki yang lebih banyak. Sementara mereka yang bersantai-santai atau bahkan bermalas-malasan, terdapat kemungkinan kehabisan rezeki.

Contoh kecil, datanglah terlambat dari jam kantor Anda yang semestinya. Perusahaan tidak hanya akan mengurangi gaji Anda akibat keterlambatan Anda, bahkan kinerja Anda dianggap minus dan itu mempengaruhi penilaian perusahaan terhadap Anda. Bisa jadi Anda tidak mendapatkan promosi tahun ini, sementara rekan Anda yang tak pernah terlambat lebih berpeluang.

Saya sering mendengar teman saya berkomentar negatif tentang apa yang dikerjakan orang lain, "Ah, kalau cuma tulisan begini sih saya juga bisa melakukannya" atau "Saya bisa melakukan yang lebih baik dari orang itu". Kepadanya saya katakan, saya yakin Anda bisa melakukannya. Masalahnya, sejak tadi saya hanya melihat Anda terus berbicara dan tak melakukan apapun. Sementara orang-orang di luar sana langsung berbuat tanpa perlu banyak bicara. Buktikan, jika Anda sanggup! Terus berbicara dan mengomentari hasil kerja orang lain tidak akan membuat Anda diakui keberadaannya. Hanya orang-orang yang berbuatlah yang diakui keberadaannya.

Kepada peserta di kelas pelatihan tersebut saya jelaskan, simulasi tadi juga berlaku untuk urusan ibadah. Saya tidak berhak mengatakan bahwa orang yang lebih tepat waktu akan mendapatkan pahala lebih besar, karena itu hak Allah dan juga tergantung dengan kualitas ibadahnya itu sendiri. Tapi bukankah setiap orang tua akan lebih menyukai anaknya yang tanggap dan cepat menghampiri ketika dipanggil ketimbang anak lainnya yang menunda-nunda? Jika demikian, buatlah Allah suka kepada Anda. Karena suka mungkin saja awal dari cinta. Semoga.

Bayu Gautama